Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Belajar Memaknai Hidup, Uang, dan Public Relations dari Operator Depot Galon Isi Ulang

Sylvanto Budi Utomo oleh Sylvanto Budi Utomo
13 November 2020
A A
Belajar Memaknai Hidup, Uang, dan Public Relations dari Operator Depot Galon Isi Ulang terminal mojok.co

Belajar Memaknai Hidup, Uang, dan Public Relations dari Operator Depot Galon Isi Ulang terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Empat bulan lalu saya tiba di Tangerang, tempat di mana saya kemudian bekerja­ (tapi saya lebih bisa disebut membantu) di sebuah toko milik saudara saya. Iya, toko itu baru buka di era pandemi. Hitung-hitung sembari kuliah daring, saya mengisi waktu dengan menjaga toko ini. Persis di seberang toko saya, ada sebuah ruko yang membuka depot galon isi ulang.

Beberapa waktu lalu, tembok toko tersebut baru saja dicat dengan warna biru. Saya mengira, hal itu lantaran yang dijualnya adalah air, yang sering kali dikaitkan dengan warna biru.

Setiap lapak pasti ada penjaganya. Dan depot galon isi ulang itu dijaga oleh seorang lelaki berusia sekitar 50 tahun. Sedari awal bertemu, saya tak tahu namanya. Saya hanya memanggilnya dengan sebutan Pakde. Dan ia tak sendiri. Dalam menjaga depot galon isi ulang itu, ia ditemani anaknya yang berusia sekitar 25 tahun. Namanya Agus.

Depot galon isi ulang itu bukan milik mereka, melainkan milik oleh seorang lelaki yang usianya justru jauh di bawah Pakde. Bisa dibilang, lelaki itu cukup sukses lantaran telah bekerja juga di sebuah instansi pemerintah, memegang beberapa proyek, memiliki usaha, dan memiliki beberapa kendaraan roda empat.

Pakde, lelaki yang saya kenal 4 bulan belakangan kerap ngobrol dengan saya. Bahkan hampir setiap hari.

Saban pagi, ia membuka rukonya dan beberes. Wajar, cukup banyak barang-barang yang harus ia atur di rukonya. Sebab, selain depot galon isi ulang, rukonya juga menjual gas 3 kg, es kelapa muda, dan minuman seduh seperti Pop Ice. Belum lagi ia menyapu, mengepel, dan mengatur, serta membersihkan galon yang ada. Biasanya, setelah melakukan itu, ia mengantar galon yang telah dipesan. Motornya segera melesat menuju pelanggan setianya.

Hampir setiap hari, pasti ada waktu di mana Pakde akan datang ke toko saya dan duduk di kursi yang ada di samping atau di depan meja saya. Biasanya sambil mengisap rokok. Tentu saja, abunya berjatuhan di lantai toko saya. Namun, saya tak terlalu mengindahkan. Toh, bisa saya sapu ketika ia beranjak ke tokonya nanti.

Uniknya, setiap obrolan merupakan obrolan yang pernah dibicarakan. Entah, setiap orang tua, barangkali begini. Akan menceritakan hal yang sama, di waktu yang berbeda.

Baca Juga:

Sarjana Agama Jangan Mau Dicap Cuma Bisa Terima Setoran Hafalan, Ini 5 Profesi Alternatif yang Butuh Keahlian Agama Kamu

6 Usaha yang Semakin Redup karena Perkembangan Zaman

Ia pernah bercerita tentang rukonya. Ia juga pernah bercerita tentang perjalanan hidupnya sebelum akhirnya berlabuh di Tangerang. Ia juga pernah bercerita tentang keluarganya. Dan tentu saja, pelajaran hidup yang kerap ia ceritakan.

Ia pernah bilang kepada saya begini, “Kita itu nyari uang untuk senang. Ngapain pelit-pelit. Ada uang ya beli apa yang dimau. Ada uang ya makan apa yang dimau. Nggak usah pusing-pusing. Kita memang nyari uang untuk senang.”

Mendengar hal itu keluar dari lisannya, membuat saya berpikir. “Ada betulnya juga Pakde ini.”

Dari cerita hidupnya, saya menilai, Pakde memanglah pekerja keras. Ia pernah menjadi sopir angkot di Lampung. Dan karena pengalamannya itu, ia paham betul soal mesin mobil. Apalagi, ia pernah bercerita tentang pengalamannya bekerja di bengkel mobil.

Kawan, tak hanya itu, soal surat-surat mobil, ia juga sangat paham. Hal ini juga lantaran ia pernah bekerja di tempat jual beli mobil. Dan ia, bagian mengurus surat-surat. Bukan main!

Soal bahan bangunan dan proyek, ia juga cukup paham. Ia pernah bekerja di sebuah proyek di Sumatera. Katanya, proyek pembangunan gorong-gorong. Maka soal ini, tak usah diragukan lagi.

Selain pekerja keras, Pakde memang orang yang rajin. Ia tak main-main soal galon. Galon yang kotor berlumur tanah, dicucinya berkali-kali. Pelanggannya tak hanya penduduk sekitar, tetapi beberapa kelompok proyek pembangunan. Maka wajar kalau galon dari proyek berlumur tanah yang mengering.

Selain galon, rukonya juga dijaga betul. Entah sehari berapa kali ia menyapu dan mengepel, saking banyaknya. Katanya, galon itu harus bersih, tempat juga harus bersih. Orang itu melihat kita. Yang kita jual air, untuk diminum. Orang bisa melihat mana bersih mana kotor. Kalau bersih, orang pasti datang. Begitu katanya. Keren, bukan? Meski mungkin Pakde bukanlah lulusan LSPR atau tak pernah mengenyam studi komunikasi, tetapi perilaku dan tindakannya menunjukkan persis seperti seorang praktisi public relations. Dan dari situ, akhirnya saya belajar bagaimana menjadi public relations yang baik. Bagaimana membangun citra yang baik bagi tempat usahanya.

Bahkan, ia pernah cerita kepada saya dengan suara yang cukup lantang dan mantap. “Mesin isi ulang kita ini, dari Jogja. Air minum kita saja dari Bogor. Sudah ada sertifikatnya air kita ini. Sudah ada bukti ujinya. Jadi sudah terpercaya air kita ini. Bukan air sembarangan.” katanya. Dan tentu saja, hal itu tak hanya sekali diceritakan kepada saya. Berkali-kali!

Namun, kini suara lantang itu tak bisa lagi saya dengar dengan jelas. Cerita-cerita kehidupannya tak bisa saya nikmati lagi. Pelajaran-pelajaran kehidupannya pun demikian, tak bisa saya gali lagi. Pakde kini telah pindah kerja. Ia pulang ke asalnya dan bekerja di sana. Dan salaman tanda pamit pagi tadi mengakhiri perjumpaan kami, yang dimulai empat bulan lalu.

Meski begitu, setidaknya saya belajar menghargai hidup. Bagaimana memaknai uang dan kehidupan. Yang paling bermakna adalah pelajaran menjadi public relations yang baik meski hal itu saya dapat dari operator depot galon isi ulang.

BACA JUGA Getirnya Memancing di Bekas Pengeboran Minyak, Kena Prank Ikan hingga Badai Mengerikan atau tulisan Sylvanto Budi Utomo lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 12 November 2020 oleh

Tags: profesipublic relations
Sylvanto Budi Utomo

Sylvanto Budi Utomo

Sylvanto Budi Utomo atau biasa di panggil Ivan adalah seorang mahasiswa semester 2 jurusan ilmu komunikasi di Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta.

ArtikelTerkait

laki-laki perawat hal yang enak dan nggak enak mojok.co

Nestapa Laki-laki yang Bekerja sebagai Perawat

30 Juni 2020
Jadi Copywriter Itu Memang Mudah kok, Mudah Pala Bapak Kau Maksudnya

Jadi Copywriter Itu Memang Mudah kok, Mudah Pala Bapak Kau Maksudnya

11 Desember 2023
Ngobrol dengan Tukang Gali Sumur Tradisional yang 'Modern' Berkat Aplikasi Palystore terminal mojok.co

Ngobrol dengan Tukang Gali Sumur Tradisional yang ‘Modern’ Berkat Aplikasi Playstore

8 November 2020
Mengenal Profesi Aktuaris Bergaji Fantastis yang Ujiannya Susah Banget terminal mojok.co

Mengenal Profesi Aktuaris Bergaji Fantastis yang Ujiannya Susah Banget

26 Oktober 2020
Hanoman yang Terpaksa Alih Profesi Jadi Kurir

Hanoman yang Terpaksa Alih Profesi Jadi Kurir

7 Mei 2020
profesi kamen rider di indonesia mojok

Kamen Rider Bakal Punya 3 Pekerjaan Ini Andai Mereka Hidup di Indonesia

6 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bukan Malang, Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Banyuwangi. Tak Hanya Jalanan Berlubang, Truk Tambang pun Dilawan

Bukan Malang, Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Banyuwangi. Tak Hanya Jalanan Berlubang, Truk Tambang pun Dilawan

15 Januari 2026
Pengalaman Menginap di Hotel Kapsul Bandara Soekarno Hatta (Unsplash)

Pengalaman Menginap di Hotel Kapsul Bandara Soekarno-Hatta, Hotel Alternatif yang Memudahkan Hidup

11 Januari 2026
Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

16 Januari 2026
Sisi Gelap Solo, Serba Murah Itu Kini Cuma Sebatas Dongeng (Shutterstock)

Sisi Gelap Solo: Gaji Tidak Ikut Jakarta tapi Gaya Hidup Perlahan Mengikuti, Katanya Serba Murah tapi Kini Cuma Dongeng

11 Januari 2026
Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

14 Januari 2026
6 Alasan Jatinangor Selalu Berhasil Bikin Kangen walau Punya Banyak Kekurangan Mojok.co

6 Alasan Jatinangor Selalu Berhasil Bikin Kangen walau Punya Banyak Kekurangan 

12 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang
  • Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal
  • Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual
  • Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 
  • Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.