Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Kenapa Sulit Sekali Rasanya Menumbuhkan Kepedulian Orang Indonesia terhadap Sampah?

Erma Kumala Dewi oleh Erma Kumala Dewi
5 Oktober 2022
A A
Apakah Anjuran Membuang Sampah pada Tempatnya Masih Relevan?

Apakah Anjuran Membuang Sampah pada Tempatnya Masih Relevan? (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Bukan hanya melupakan Rehan yang begitu sulit, perkara menumbuhkan kepedulian masyarakat Indonesia terhadap sampah juga tak kalah sulit. Malahan lebih sulit. Akibatnya, persoalan sampah menjadi masalah yang tak kunjung usai di negeri ini. Mbulet tanpa hasil nyata kaya hubunganmu. Xixixi

Bulan lalu saya sempat mengunjungi Lanterne Festival de Paris di Pantai Widuri. Seusai acara, tampak banyak sampah sisa alas duduk hasil daur ulang sampah plastik, bekas kemasan minuman, bungkus-bungkus jajanan, dan macam-macam lainnya berceceran. Miris banget, pantai jadi kotor. Padahal yang datang ke acara itu mayoritas muda-mudi yang kira-kira sebaya saya. Saya kira generasi saya punya kepedulian yang lebih tinggi terhadap sampah daripada generasi orang tua saya. Ternyata sama aja, ini masalah semua usia.

Sebenarnya semua acara publik yang ramai selalu punya masalah yang sama, nggak cuma di acara yang saya sebut sebelumnya. Tak perlu kaget, sebab, masalah sampah itu tak hanya muncul saat ada acara. Di ruang publik pun, masalah sampah ini nggak pernah selesai. Sekadar buang sampah di tempatnya aja sulit, apalagi bicara mengelola sampah, tambah suliiit.

Jadi sebenarnya kenapa sih sangat sulit menanamkan kepedulian masyarakat Indonesia terhadap sampah?

Merasa bukan urusannya

Coba tanya pada orang yang buang sampah sembarangan. Jawaban mereka bisa ditebak: nanti bakal ada yang bersihin, atau bukan urusan saya untuk menjaga tempat ini bersih. Kalimatnya bisa berbeda-beda, tapi ketika ditarik benang merahnya, muaranya satu: merasa bukan urusannya.

Pola pikir inilah yang bikin stagnansi masalah sampah di Indonesia. Padahal sampah adalah tanggung jawab bersama, bukan cuma tugas pemerintah atau petugas kebersihan. Saya jadi ingat, tiga tahun lalu ada pro kontra soal beberes sisa makanan sendiri di KFC. Pihak kontra merasa restoran nggak memberi pelayanan yang baik padahal sudah membayar mahal, kalah sama warteg. Padahal konsumen cuma diminta buang sisa kemasan dan balikin nampan ke tempat yang disediakan. Bukan diminta cuci piring, bukan diminta ngepel. Pun tempat sampahnya nggak jauh kok.

Memang benar sih kalau urusan regulasi dan pengadaan fasilitas itu tugasnya pemerintah. Tapi untuk membuat peraturan itu berhasil, perlu partisipasi seluruh masyarakat. Cara sederhananya ya bertanggung jawab pada sampah pribadi dan rumah tangga. Minimal nggak buang sampah sembarangan. Lebih baik lagi kalau menerapkan pola hidup berkelanjutan yang ramah lingkungan. Misalnya mendaur ulang sampah organik jadi pupuk, nggak konsumtif, mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai, dsb.

“Budaya” buang sampah sembarangan

Buang sampah sembarangan, di negara ini, masih dianggap normal. Pabrik buang limbah ke sungai aja pada diem. Maka, banyak orang yang percaya kalau percuma dirinya berubah sendirian sedangkan yang lain nggak. Ya kalau semua mikir gini sih, sampai lebaran monyet juga nggak akan ada perubahan kali.

Baca Juga:

Tangsel Dikepung Sampah, Aromanya Mencekik Warga, Pejabatnya ke Mana?

Bengawan Solo: Sungai Legendaris yang Kini Jadi Tempat Pembuangan Sampah

Kondisi yang lebih parah biasanya terjadi di pemukiman sepanjang sungai. Mereka merasa buang sampah di sungai lebih praktis dan nggak bikin penyakit. Apalagi kalau jalannya menurun. Kadang daerah itu jadi nggak terjangkau sama petugas sampah karena medannya berat dan mereka udah mager duluan. Udah susah-susah narik gerobak penuh sampah, nyampai di bawah sampahnya udah pada dibuangin di sungai. Masih mending kalau yang dibuang ke sungai cuma sampah organik, setidaknya bisa jadi makanan ikan. Tapi kalau sampah anorganik kan jadi susah terurainya, malah bikin tercemar.

Warga di sekitar sungai itu mungkin jarang terdampak banjir atau penyakit imbas buang sampah di sungai, tapi masalahnya jadi pindah ke daerah hilir. Kasian mereka kebagian banjir mulu, terlebih nelayan di pesisir jadi kesulitan menangkap ikan gara-gara lautnya tercemar sampah. Jadi mbok tolong jangan egois.

Regulasi yang (selalu) lemah

Regulasi soal sampah di negeri ini juga sangat lemah. Banyak tuh warga yang buang sampah sembarangan, tapi lolos dari sanksi. Beda cerita dengan di Singapura yang terkenal tegas menindak pelaku buang sampah sembarangan. Dendanya cukup mahal dan pengawasannya memang ketat. Tau sendiri kan masyarakat kita punya slogan tidak tertulis “aturan ada untuk dilanggar”. Tapi masyarakat kita yang bebal ini jadi taat buang sampah di Singapura lo. Makanya saya menyimpulkan bahwa diperlukan pengawasan yang baik dan sanksi yang tegas agar masyarakat bisa tertib.

Soal pengolahan sampah sebenarnya pemerintah sudah punya banyak instrumen hukum yang mengaturnya. Sayangnya pelaksanaan di lapangan masih sangat semrawut karena kurangnya sosialisasi dan pengawasan. Padahal urusan buang sampah di Indonesia ini nggak serumit Korea Selatan dan Jepang yang pemilahan sampahnya sangat detail dan ada penjadwalan ketat untuk membuangnya. Pun sampahnya perlu dicuci dulu biar bersih dan layak diolah, jadi nggak terlalu nyusahin petugas pengolah sampah. Bahkan masyarakat bisa kena denda kalau salah memilah sampahnya.

Di Indonesia pada umumnya tong sampah di tempat umum dibedakan antara sampah organik dan anorganik. Namun sayangnya semua sampah itu ditumplek jadi satu di TPA. Jarang banget yang diolah sesuai dengan pemilahannya. Jarang ya, bukannya nggak ada. Hal ini sebenarnya menjadi masalah baru lagi karena biar bagaimanapun penanganan setiap jenis sampah itu berbeda. Hal ini juga jadi PR besar bagi pemerintah untuk menyediakan fasilitas pengolahan sampah yang terpilah dengan baik. Percuma dong kalau masyarakat sudah memilah-milah sampahnya tapi ujung-ujungnya ditumplek jadi 1 lagi di TPA?

Pada akhirnya, penjabaran ini bisa menjawab kenapa rasanya susah kali orang-orang Indonesia untuk buang sampah pada tempatnya. Kesadaran, sepertinya, masih begitu jauh. Kecuali dipaksa. Itu pun belum tentu efektif.

Penulis: Erma Kumala Dewi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Adakah Dana Istimewa untuk Sampah yang Tidak Istimewa?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2022 oleh

Tags: kesadaranMasalahSampah
Erma Kumala Dewi

Erma Kumala Dewi

Penggemar berat film kartun walaupun sudah berumur. Suka kulineran dan kekunoan.

ArtikelTerkait

Bank Sampah, Beneran Ada Atau Sekadar Spanduk yang Dipajang Terminal Mojok

Bank Sampah, Beneran Ada Atau Sekadar Spanduk yang Dipajang?

25 Desember 2022
Bukannya Senang, Warga Malah Resah ketika Mojokerto Berkembang Pesat Mojok.co

Bukannya Senang, Warga Malah Resah ketika Mojokerto Berkembang Pesat

22 Juni 2024
10 Lagu Bahasa Inggris yang Cocok untuk Pernikahan

5 Problem Utama di Tahun Pertama Pernikahan

26 Desember 2022
warisan balas budi kepada orang tua mojok

Insiden Anak Minta Warisan dan Pentingnya Kesiapan Saat Memutuskan Punya Anak

2 Agustus 2021
Saya Justru Menyesal Tidak Jadi Kuliah di Jogja pariwisata jogja caleg jogja

Surat Terbuka Mahasiswa Jogja kepada Tukang Parkir: Nggak Semua Tempat Harus Ada Tukang Parkirnya, Bos!

4 Agustus 2023
Akui Saja Kalian Kecanduan Judi Slot, Pake Ngaku Hobi Segala

Buzzer Capres VS Buzzer Judi Slot: Mana yang Lebih Menyebalkan?

30 Mei 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang Mojok.co

4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang

31 Januari 2026
Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali Mojok.co

Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali

6 Februari 2026
4 Menu Mie Gacoan yang Rasanya Gagal, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Menyesal seperti Saya

Tips Makan Mie Gacoan: Datanglah Pas Pagi Hari, Dijamin Rasanya Pasti Enak dan Nggak Akan Kecewa

1 Februari 2026
Di Sumenep, Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Di Sumenep Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

4 Februari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026
Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.