Bayaran Mahal Partai Golkar untuk Skakmat Jalur Emil Jadi Presiden

Bayaran Mahal Partai Golkar untuk Skakmat Jalur Emil Jadi Presiden

Bayaran Mahal Partai Golkar untuk Skakmat Jalur Emil Jadi Presiden (Pixabay.com)

Apa yang sebenarnya Golkar harapkan dengan mengangkat Emil jadi waketum?

Di tengah-tengah embusan angin kabar dari berbagai partai politik yang sebentar lagi akan berlaga mengusulkan calon-calon pemimpin negeri, seorang selebgub tiba-tiba bermanuver ke jalan buntu sebagai calon presiden.

Baru baru ini publik dikejutkan dengan gejolak dinamika politik jelang kontestasi sengit. Seorang gubernur yang layak disebut selebriti, Ridwan Kamil a.k.a Bang Emil tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba mengenakan jas kuning sambil mengendarai vespa kuning sebagai cap bahwa dia termasuk sebagai golongan karya.

Tidak seperti politikus-politikus lain yang mulai berkarir di partai ini hanya menjadi bidak alias kader, Emil dengan jutaan pengikut sosial medianya melewati jenjang karier dan langsung menjadi atasan tingkat kedua di partai yang tiga kadernya telah tembus sebagai menteri dan satu kader sebagai wakil menteri.

Nggak tanggung-tanggung, jabatan yang diembannya saat ini adalah wakil ketua umum (Waketum) Partai Golkar di bidang Penggalangan Pemilih dan Co-Chair Badan Pemenangan Pemilu. Jabatan yang kayaknya sangat memesona bagi politikus muda, tapi apakah yang lebih menarik dibanding dengan jenjang kariernya yang kini menjabat sebagai orang nomor satu di bagian barat Pulau Jawa menjadi nomor satu se-Indonesia?

Langkah tiba-tiba partai yang diketuai oleh Airlangga Hartarto ini bagi saya pelik dan membuat saya bertanya-tanya. Apalagi, dari media-media nasional yang saya baca, Partai Golkar tidak ada rencana mengurungkan niat untuk mengangkat ketua umumnya sendiri sebagai calon presiden tahun depan.

Seolah jalur Emil untuk naik jenjang karier dari gubernur ke presiden diputus melalui ambisi partai yang getol mengangkat ketua umumnya ini. Kecuali jika beliau dijadikan ketum, baru menurut saya terasa seperti win-win solution. Tapi faktanya kan tidak, beliau hanya diangkat menjadi Waketum, seolah jabatan ini tidak ada artinya selain jadi bidak politik juga sebagaimana kader-kader lain yang fungsinya adalah turut memenangkan sosok yang usungan.

Kalau dilihat lagi, gubernur yang beberapa kali main film ini elektabilitasnya lebih tinggi jika dibandingkan dengan sang Ketum sendiri. Meskipun keduanya masih berada di bawah orang berambut putih yang kayaknya dimaksud Jokowi. Tapi, sebagai dua sosok yang punya kapabilitas yang sama di sosial media, seharusnya Emil mampu bersaing. Apalagi kalau bersanding, pasti jadi capres dan cawapres dambaan anak muda banget sih.

Direkrut dengan puluhan juta pengikut, membuat saya melihat arah dan tujuan Partai Golkar. Hal yang ketara di mata saya, partai berlatar belakang bendera warna kuning ini lah yang lebih membutuhkan kehadiran Kang Emil dibandingkan beliau menginginkan jabatan Waketum yang katanya tidak akan diusulkan sebagai presiden.

Kalau secara awam membaca bidang yang diwakilinya di Partai Golkar, yakni bidang Penggalangan Pemilih dan Co-Chair Badan Pemenangan Pemilu sih, kayaknya keberadaan beliau tidak lebih dari pada penunjang kemenangan saja. Terlebih dengan puluhan juta pengikutnya membuat seolah Partai Golkar akan melakukan endorse di akun media sosial Kang Emil dengan bayaran menjadi Waketum.

Meskipun begitu, prediksi politik tidak bisa dibaca hanya dengan menakar maksud dari jabatan baru yang diwakilinya. Pastinya para pimpinan dan kader punya strategi-strategi yang disiapkan jelang waktu gongnya nanti. Bisa jadi, Kang Emil mengemban bidang ini untuk menjadi badan pemenangannya sendiri. Tetapi, menurut saya tidak akan menyaingi ego sang Ketum yang ingin naik pangkat dari menteri ke pemimpin negeri.

Dengan jabatan barunya sebagai Waketum, beliau masih bisa turut berpartisipasi dalam kontestasi. Meskipun yang saya lihat mentok-mentok hanya jadi Wakil Presiden. Paling tidak, dengan penguasaan media sosial yang mumpuni menjadikan wakil presiden kita tahun depan–kalau jadi kang Emil–lebih memiliki fungsi yang lebih jelas, bisa dilihat hasil kinerjanya, dan tidak diwakilkan oleh seorang perdana menteri.

Penulis: Muhammad Arif Prayoga
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Saya Kecewa Berat dengan Kang Emil

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Exit mobile version