Informasi
ADVERTISEMENT

Banyaknya varian kelas kereta ekonomi malah bikin penumpang pusing

Banyaknya varian kelas kereta ekonomi malah bikin penumpang pusing

Sebelum 2016, Kereta ekonomi jarak jauh hanya memiliki satu varian/kelas yang identik dengan kursinya yang tegak dan saling berhadapan. Konfigurasi itu sudah ada sejak Presiden Soeharto masih menjabat, dan didesain untuk memenuhi fungsinya sebagai transportasi massal rakyat yang murah dan terjangkau. Memang mulai 2011 juga ada varian kereta ekonomi non-subsidi yang punya konfigurasi sedikit berbeda dari saudaranya yang lebih tua, tapi kedua sarana sebenarnya hampir identik.

Kita semua mungkin juga sudah pernah merasakan kelas ekonomi legendaris dengan kursi tegaknya yang bikin sakit punggung itu. Saya sendiri hingga sekarang masih mengandalkan KA Ekonomi subsidi seperti Sri Tanjung untuk pulang kampung. Namun dalam beberapa tahun ke belakang, sarana KA Ekonomi sudah berkembang dengan banyaknya varian baru yang bahkan di antaranya malah lebih mirip sarana kelas eksekutif dibanding ekonomi.

Membludaknya varian kelas ekonomi

Pada 2016, PT KAI meluncurkan kelas Ekonomi New Image untuk menjawab keluhan penumpang KA ekonomi jarak jauh. Kelas New Image ini memakai konfigurasi kursi yang lebih mirip kereta eksekutif dan memang bisa dikatakan jauh lebih nyaman dibanding kelas kereta ekonomi yang sudah dipakai puluhan tahun sebelumnya. Namun sayangnya kelas ekonomi ini hanya dipakai untuk KA Ekonomi non-subsidi yang mempunyai harga tiket sedikit lebih mahal dari ekonomi biasa/subsidi.

Sejak saat itu, PT KAI mulai terus menambahkan varian baru untuk kelas ekonomi non-subsidinya. Dimulai dengan ditambahnya varian Ekonomi Premium pada 2017, dilanjut dengan Ekonomi Premium Stainless Steel pada 2018. Kemudian yang baru-baru ini hadir yaitu Ekonomi New Generation pada 2023. Itu pun memiliki dua varian, yaitu Ekonomi New Generation Modifikasi, dan Ekonomi New Generation Stainless Steel (SS). Banyak juga ya?

Pengalaman naik kereta ekonomi jadi nggak konsisten

Banyaknya varian kelas ekonomi ini jelas dapat menimbulkan kebingungan bagi penumpang. Bayangin aja, kelasnya sama-sama “ekonomi”, di tiket tulisnya juga sama-sama “Ekonomi”, tapi tiap KA punya kelas “ekonomi” yang berbeda.

Pengalaman naik kereta jadi serasa tidak konsisten. Saya kasih satu contoh: Kelas Ekonomi New Generation Modifikasi dan Ekonomi New Generation SS, kalau kita lihat dari namanya saja mungkin kita bisa beranggapan bahwa dua kelas ekonomi itu hanya berbeda pada material yang digunakan pada bodi kereta.

Nyatanya kursi dan fasilitas yang diberikan cukup berbeda dari satu sama lain. Ekonomi New Gen SS menyediakan colokan USB tiap kursinya. Tidak seperti Ekonomi New Gen Modifikasi, kursi yang dipakai antara kedua sarana juga tidak sama.

Hal di atas juga bisa diterapkan dengan KA Ekonomi New Image dengan KA Ekonomi New Generation. Atau KA Ekonomi Premium SS dengan KA Ekonomi New Generation. Memang kasta-nya secara teknis sama yaitu “Ekonomi”, tapi rasanya seperti sudah berbeda kelas.

Kenapa malah jadi mirip kelas eksekutif?

Kalau kita lihat fasilitas KA ekonomi non-subsidi sekarang, beberapa di antaranya bisa dibilang setara atau bahkan ada yang melebihi kenyamanan dari beberapa kelas KA Eksekutif yang sudah ada. Hal ini juga membuat harga tiket KA ekonomi non-subsidi jadi ikut naik untuk menjustifikasi fasilitas yang diberikan untuk penumpang, membuat nama “ekonomi” tidak lagi begitu berarti.

Percuma kelasnya dinamakan kelas ekonomi bila harganya saja sudah tidak ekonomis, ya kan?

Menurut saya, kelas-kelas ekonomi baru ini rasanya akan lebih cocok apabila ditaruh dan dimarketkan sebagai kelas bisnis. Sayangnya, kelas bisnis sendiri bisa dibilang sudah punah dari perkeretaapian Indonesia. Ironisnya, penghapusan kelas bisnis di kereta api dilakukan untuk “menyederhanakan” kelas kereta api. Nyatanya seperti yang sudah kita lihat, kelas kereta api terutama ekonomi jadi lebih berantakan.

Penumpang seperti saya jadi tidak bisa merasakan pengalaman perjalanan yang sama karena tiap kereta ekonomi punya sarana kelasnya masing-masing, membuat penumpang harus research dulu di internet agar mendapatkan sarana yang sesuai ekspektasi. Harga tiket juga jadi tidak lagi ekonomis karena sarana yang malah menjelma seperti kelas eksekutif dibanding layaknya kereta ekonomi.

Saya berharap pihak operator yaitu PT KAI dapat menyelesaikan masalah ini di kemudian hari agar pengalaman penumpang KA Ekonomi non-subsidi lebih seragam dan konsisten.

Penulis: Andhika Dwi Ariesa
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Saya Kapok Naik Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 23 September 2026 oleh .

Andika Thwinari Mentaruk

Penulis adalah mahasiswa teknik sipil tahun akhir yang tinggal di Manado. Penulis suka berdiskusi dan gemar berkegiatan di alam.

Exit mobile version