Selama ini Honda Beat lebih populer dengan motor harian yang menemani mobilitas ke kampus, pasar, beli jajan atau sekadar muter-muter kota. Itu mengapa, ketika ada saya memutuskan pulang kampung (pulkam) ke Tuban dari Jogja naik Honda Beat, reaksi pertama yang muncul adalah terheran-heran.
Honda Beat memang bukan motor gede, bukan juga motor touring yang gagah. Ini hanya kendaraan yang biasa saya pakai sehari-hari menjalani rutinitas sebagai mahasiswa. Hebatnya, motor ini ternyata bisa juga diajak perjalanan jauh, seperti yang saya lakukan pulkam ke Tuban dari Jogja.
Sebagai gambaran, jarak Jogja ke Tuban itu sekitar 260 km. Perjalanan darat naik mobil memakan waktu sekitar 5 jam. Awalnya saya juga ragu Honda Beat bisa dibawa perjalanan sejauh itu tanpa kendala berarti. Namun, semuanya kini terjawab sudah.
Dinamika perjalanan Jogja-Tuban naik motor matic
Awal perjalanan baik-baik saja. Memasuki kilometer ke-100, badan ini mulai protes. Pundak yang tegak perlahan membungkuk. Telapak tangan terasa kram dan kaku mencengkeram gas. Bokong pun mulai terasa kehilangan kesabaran.
Di titik inilah saya sadar bahwa ergonomi motor matic harian sama sekali tidak didesain untuk pelarian nekat lintas provinsi.
Setiap kali bertemu spanduk penunjuk jalan, yang saya hitung bukan lagi sisa jarak menuju rumah, melainkan kapan Indomaret terdekat akan muncul. Bukan untuk ngopi mewah, melainkan demi mengistirahatkan kaki dan meregangkan pinggang yang terlanjur mematok sudut 45 derajat.
Jujur, mengendarai motor dari Jogja ke Tuban itu juga perlu mental kuat dan kesadaran tinggi yang tinggi. Sebab, di jalan raya, terutama ketika mulai memasuki jalur antarkota, Honda Beat ini ibarat remahan peyek di antara bus dan truk-truk tronton bertubuh raksasa.
Ada hukum rimba tak tertulis di jalanan. Siapa yang besar, dia yang berhak melaju duluan. Beberapa kali saya harus rela mengalah ke bahu jalan, membiarkan angin kencang penuh debu sisa laju bus menyapu tubuh mungil motor saya.
Akan tetapi, selalu ada momen sederhana yang mampu meredakan ketegangan. Kedipan lampu sen dari sopir truk di depan yang dengan sabar memberi jalan agar saya bisa mendahului dengan nyaman.
Bersyukur performa Honda Beat ternyata bagus
Sebelum dinyinyirin netizen, saya ingin disclaimer kalau saya ini nggak paham otomotif. Performa yang saya maksud di sini hanyalah berdasar pengalaman mengendarainya dari Jogja ke Tuban. Sebab, selama perjalanan, saya tidak mengalami kendala yang berarti terkait mesin motor. Semua bayangan buruk sebelum berangkat pulkam, ternyata tidak terjadi.
Satu hal yang bikin deg-degan dari perjalanan jauh menggunakan motor sejuta umat ini adalah urusan kapasitas tangki. Mengendarai motor dengan tangki pas-pasan untuk perjalanan antarkota membuat saya sempat pesimis. Nyatanya, saya dan motor ini baik-baik saja sampai Tuban.
Dari sisi konsumsi BBM, Honda Beat terbilang irit. Selama rute Jogja-Tuban kemarin, saya hanya perlu dua kali mengisi penuh bensin, dan perjalanan pun aman tanpa ada drama kehabisan bahan bakar.
Selain itu, ada satu hal lain yang benar-benar patut diacungi jempol. Ketahanan mesin Honda Beat. Sepanjang perjalanan, tidak ada keluhan overheat. Tidak ada drama mogok di tengah jalan. Dan, mesin injeksi 110cc tetap setia meraung konstan.
Sebagai orang yang nggak paham soal mesin motor, saya cuma bisa bersyukur mesin ini nggak neko-neko sepanjang jalan. Namun, paling tidak, sebelum melakukan perjalanan jauh, saya membawa motor kecil ini ke bengkel untuk diservis ringan.
Pengalaman pulkam dari Jogja ke Tuban menggunakan motor Beat benar-benar tidak akan lupa. Selain menguji batas-batas fisik dan mental diri sendiri, pengalaman ini secara nggak langsung menguji ketangguhan Honda Beat di jalanan.
Penulis: Siti Istiqomah
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Mengapa Kita Memilih Motor Honda?
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.