Akar permasalahan banjir di Semarang itu sebenarnya amat rumit, tapi tak bisa dimungkiri, kalau banjir ini juga gara-gara ulah warganya sendiri
Begitu musim hujan datang, celoteh warga Semarang biasanya langsung mendadak kompak. Mengomel soal cuaca ekstrem, mengumpat perkara got mampet, atau menyindir pemerintah kota habis-habisan karena nggak cekatan menanggulangi masalah klise. Padahal, jauh sebelum air bah itu tumpah ke jalanan dan sukses bikin motor mogok massal, ada masalah lebih ruwet yang jadi biang keladinya.
Sebagai orang yang tumbuh besar dan menghabiskan sebagian besar hidup di Kota Atlas, saya tahu betul kalau banjir langganan itu cuma puncak gunung es. Banjir di Semarang hanyalah efek samping paling kasat mata dari akumulasi kebijakan yang ngawur, dikawinkan pula dengan tabiat warganya yang sembrono. Sialnya, duo kombo maut ini sudah terlanjur mendarah daging. Pun, dibiarkan beranak-pinak dan dipelihara menahun begitu saja.
#1 Solusi jenius warga, sibuk tinggikan rumah sendiri tapi cuek menutup lubang drainase
Inilah trik paling egois tapi paling laris di Semarang. Yakni, gotong royong meninggikan lantai dan halaman rumah. Aksi renovasi semacam ini gampang banget ditemui di berbagai sudut kota dari dulu. Bukan cuma di kawasan pesisir yang notabene langganan rob. Hasilnya? Ya, rumah sendiri memang selamat dari kepungan air. Banjir di Semarang terlihat tak ada efeknya ke mereka.
Tapi sialnya, proses peninggian itu sering dibarengi aksi individualis lainnya. Apalagi kalau bukan menutup lubang drainase depan rumah. Alasannya usang, tapi bikin darah tinggi. Mulai demi memperluas lahan parkir, malas membersihkan selokan, sampai alasan estetika biar tampak depan rumah terlihat rapi.
Praktis, saluran air yang dipaksa tutup rapat itu malah jadi bumerang yang bikin genangan makin parah dan aspal jalanan di depannya cepat hancur lebur. Bisa dibilang, solusi instan yang terkesan inovatif ini sebenarnya nggak lebih dari aksi egoisme berjamaah. Merasa aman sendiri, tapi bikin masalah makin runyam seisi kampung.
#2 Brutalnya alih fungsi lahan di Semarang Atas
Kalau mau berpikiran terbuka mencari biang keladi mengapa Semarang Bawah kerap jadi kolam renang gratisan setiap musim hujan, coba alihkan pandangan ke atas. Di Semarang Atas, alih fungsi lahan sudah terjadi secara ugal-ugalan, tanpa rem. Bukit-bukit hijau, daerah resapan air, sampai pepohonan yang harusnya jadi spons alami buat menyerap air hujan, sekarang bertransformasi jadi perumahan elite dan bangunan komersial. Ya wajar kalau banjir di Semarang nggak selesai.
Ironisnya, keserakahan tadi lambat laun bakal dirasakan juga akibatnya oleh para penghuni Semarang Atas sendiri. Buktinya nyata, jelas, dan sudah dirasakan. Wilayah atas sekarang makin gersang. Panasnya nggak ada beda dengan pusat kota dan sudah jauh dari kesan sejuk yang dulu jadi kebanggaan.
Belum lagi, risiko tanah longsor yang siap mengancam akibat maraknya penggalian liar dan pemotongan bukit. Paling menyedihkan, para pemangku kebijakan seolah pilih tutup mata dan telinga. Apa boleh buat, asalkan pundi-pundi cuan di rekening terus terisi lancar, realita seperti ini mungkin tampak gaib di mata mereka.
#3 Sungai yang diubah jadi tempat pembuangan sampah raksasa bikin banjir di Semarang makin gila
Satu lagi hal paling bikin saya kecewa pada kampung halaman tercinta. Meski warganya hobi banget koar-koar di medsos tiap kali banjir di Semarang terjadi, realitasnya kebiasaan buang sampah yang ngaco sudah meresap ke DNA mereka dan nyaris mustahil diobati.
Padahal, sistem pengelolaan sampah kota sendiri sudah megap-megap. Bahkan terkadang, tempat pembuangan akhir sampah malah bersarang persis di tengah permukiman. Petaka ini masih pula dibumbui tabiat sebagian warga yang sok ngide merombak sungai jadi tempat pembuangan akhir jumbo.
Mulai dari lautan kresek sampai sisa sampah rumah tangga bisa berenang bebas dengan santainya di sepanjang aliran sungai. Tapi, giliran hujan deras turun, air meluap, dan bawa kiriman sampah sampai masuk ke teras rumah, nggak sedikit yang mengkambing hitamkan alam. Padahal, tangan mereka sendiri yang dengan sadar menimbun kotanya pakai tumpukan sampah harian.
Jujur saja, saya sudah lama berhenti berharap banjir di Semarang bakal benar-benar tuntas. Sudah tahu penduduk Jawa Tengah, khususnya Semarang, lagi kompak-kompaknya aktivasi mode autopilot buat mengurus kota biar denyutnya tetap hidup, masih kudu ikhlas pula menanggung kelakuan sebagian warga yang ampun-ampunan absurdnya. Kalau begini terus, Semarang bukan cuma bakal jalan di tempat. Tapi, sungguh akan tenggelam. Toh, banjir itu sebetulnya cuma alarm pengingat yang berisik.
Harapan saya sebenarnya sederhana saja, tapi mungkin mahal harganya. Semarang butuh ketegasan hukum yang mutlak buat mengerem eksploitasi lahan di atas, evaluasi total sistem drainase kota, serta tumbuhnya kesadaran kolektif warga. Kalau reformasi kecil dari kesadaran diri sendiri ini nggak segera dimulai, jangan kaget kalau suatu hari nanti nggak ada lagi yang namanya Kota Lumpia.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Daerah Langganan Banjir di Semarang dan Tips Hidup di Sana
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













