Kinerja tukang sulit diprediksi
Di desa, nggak ada istilah ahli teknik sipil, apalagi arsitektur. Hanya ada dua istilah dalam hal bangun-membangun rumah, yakni tukang dan kernet. Tukang yang merancang bangunan, kernet yang bikin adonan semen dan lainnya. Proses pendidikannya pun hanya melalui praktik lapangan yang turun-temurun, nggak ada teori, awalnya cuma jadi kernet, setelah lihai akan otomatis jadi tukang.
Nah, karena tidak ada kualifikasi yang jelas, semua orang di desa bisa menjadi tukang atau kernet. Untuk memilih mereka pun, pertimbangannya hanya mana tukang paling dekat dengan rumah kita atau ya sanak kerabat. Kalau kita nggak menggunakan pertimbangan itu, tentu kita akan jadi bahan gunjingan tetangga. Pada akhirnya, ini menggugurkan tukang-tukang yang kinerjanya bagus dan profesional.
Buktinya nih ya, kemarin saya sempat membangun kamar mandi ukuran 2×6 meter. Waktunya butuh 21 hari. Sementara saudara saya yang bangun rumah ukuran 8×8 meter cuma butuh 25 hari. Setelah saya coba renungkan, tukang yang dipilih sebelumnya agaknya memang lebih banyak santainya.
Akan tetapi, apa daya, sebagai warga desa, katanya kita harus menomorsatukan tetangga. Tapi bagaimana kalau tetangga itu malah seenaknya saja? Capek deh!
Biaya printilan saat proses bangun rumah lumayan menguras kantong
Satu lagi yang menjadi beban mental saat kita membangun rumah di desa yakni biaya printilan yang tak masuk anggaran kita.
Printilan tersebut terutama hidangan yang kita siapkan untuk para tukang. Di desa saya, yang tidak boleh absen untuk tukang yakni rokok. Mulai dari hari pertama sampai selesai, para tukang ini harus disediakan dua bungkus rokok.
Ya, secara SOP memang tidak ada protokol seperti itu, namun realitas sosial, rokok cukup menentukan cepat nggaknya proses pembangunan.
Kemudian, berbeda dengan membangun rumah di kota yang kebanyakan pemiliknya
Kemudian, berbeda dengan di kota yang punya rumah nggak ada di lokasi, di desa pemilik rumah biasanya lebih mengikuti proses pembangunan rumah karena ada di lokasi. Itu mengapa, saat jam istirahat, pemilik biasanya menyediakan jajanan atau camilan.
Misal nih, mereka kerja jam 7, nanti jam 9 akan istirahat 20 sampai 30 menit. Tuan rumah yang baik tentunya harus menyediakan gorengan, minuman, kopi, dan lainnya. Kalau nggak, akan disindir dengan kata-kata nyelekit.
Kalau dihitung-hitung, biaya buat beli hidangan itu nggak sedikit. Cukup menguras anggaran yang telah direncanakan sebelumnya. Kalau di kota kan kita tinggal terima jadi, jadi nggak ada kewajiban-kewajiban seperti itu.
Sekian pengalaman saya saat renovasi rumah di desa. Ya, saya tau tidak semua tukang seperti itu, tapi yang seperti itu tentunya akan kalian temukan di desa, sebab sistem sosial di desa beda sama di kota. Jadi, buat kalian yang ingin pindah ke desa, jangan kaget ya kalau ketenangan yang kalian harapkan tidak ditemukan. Hehehe!
Penulis: Abdur Rohman
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
