Dear Wisatawan, Jangan Bangga Berhasil Membawa Oleh-oleh Bakpia Kukus, Itu Cuma Bolu Menyaru Kuliner Jogja yang Salah Branding

Bakpia Kukus Kuliner Jogja yang Palsu dan Cuma Numpang Tenar (Unsplashj)

Bakpia Kukus Kuliner Jogja yang Palsu dan Cuma Numpang Tenar (Unsplashj)

Saat musim liburan, sudut-sudut Jogja mulai sesak oleh pemandangan monoton. Kerumunan orang turun dari mobil berplat luar AB, menenteng kotak kardus fancy menggambarkan kuliner Jogja bertuliskan bakpia kukus.

Ada binar kebanggaan terpancar dari wajah para pelancong. Seolah, mereka baru saja mengamankan artefak paling berharga dari jantung Kota Gudeg. 

Namun, buat yang masih punya sisa-sisa idealisme kuliner Jogja, fenomena ini menyimpan ironi. Bakpia yang punya sejarah panjang, seakan sedang dipaksa memakai baju yang bukan ukurannya demi tuntutan zaman. 

Produk yang laku keras ini memang punya manajemen pemasaran jempolan. Tapi, bagi lidah-lidah yang masih menghargai esensi sebuah kudapan tradisional, ada jati diri yang terasa digadaikan.

Baca juga: 7 Bakpia Jogja Paling Enak dan Cocok di Lidah Wisatawan

#1 Bakpia kukus adalah simbol hilangnya jiwa kuliner Jogja dalam balutan bolu

Bakpia tradisional Jogja adalah tentang layering. Ada usaha manusia dalam mengolah adonan hingga menciptakan tekstur rapuh sekaligus kokoh dalam satu gigitan. Secara kodrat, panganan bakpia merujuk pada kue yang dipanggang dengan kulit berlapis-lapis dan agak crispy

Sementara, eksistensi bakpia kukus menghancurkan itu semua tanpa sisa. Alih-alih menawarkan perlawanan menyenangkan saat kita menggigitnya, bakpia kukus malah terasa lembek dan kenyal mirip spons cuci piring. 

Jujur saja, ini bukan inovasi, melainkan pengkhianatan terstruktur terhadap pakem kuliner Jogja bernama bakpia. Semata hanya demi mengejar tekstur bolu yang sebenarnya bisa kamu temukan di toko roti.

#2 Taktik marketing parasit, menumpang tenar di bawah bayang-bayang legendaris bakpia Patuk

Mari buka-bukaan. Seandainya sejak awal mereka memberi label bolu kukus mini isi, apa bakal selaku sekarang? Strategi pemasarannya terbilang cerdik, kalau nggak mau dibilang licik. 

Dengan meminjam nama besar bakpia yang sudah lama jadi ikon kuliner Jogja, mereka melakukan jalan pintas untuk mengecoh kesadaran masyarakat awam. Yah, di sisi lain, kita harus memberi apresiasi karena ini taktik numpang tenar paling sukses.

Secara teknis, anatomi bakpia kukus sesungguhnya lebih dekat dengan bakpao yang sedang mengalami stunting. Mereka hanya butuh ketenaran untuk mengeruk cuan, tanpa mau repot. Maka, rasanya nggak berlebihan kalau saya menyebut pencatutan nama ini sebagai wujud modernisasi penjajahan terhadap tradisi panggangan yang sudah jadi budaya dan khazanah kuliner Jogja.

#3 Manipulasi lelehan lava bakpia kukus, memanjakan lidah dengan propaganda mewah

Ada kepercayaan sesat dalam dunia kuliner modern. Semakin lumer isi sebuah makanan, maka orang akan menganggapnya mewah dan nikmat. 

Nah, bakpia kukus lagi-lagi memanfaatkan celah ini. Bukannya menggunakan isian padat yang prosesnya bisa berlangsung berjam-jam, bakpia kukus justru mengandalkan lelehan lava yang terasa sangat artifisial.

Perasa sintetis dengan level manis berlebihan mendominasi cairan isi bakpia kukus. Dugaan saya, semua manipulasi itu bertujuan buat menutupi kualitas bahan dasar yang medioker. 

Belum lagi, bakpia kukus merekayasa pelanggannya menjadi pemalas, lantaran jajanan itu langsung lewat di kerongkongan tanpa perlu banyak interaksi. Sayangnya, banyak wisatawan terjebak dalam euforia lelehan ini tanpa sadar kalau tengah dikelabui oleh penganan yang menyaru dalam kuliner Jogja..

#4 Monopoli lokasi, bikin wisatawan enggan eksplorasi kuliner Jogja

Mau dengar fakta pahit? Percayalah, kesuksesan bakpia kukus bukan terletak pada rasanya yang superior, melainkan karena agresi modal di titik-titik strategis. Perhatikan saja, mereka seolah memasang barikade di setiap pintu keluar-masuk Jogja. Dari ruang tunggu stasiun sampai terminal keberangkatan bandara.

Hebatnya, “jebakan” tersebut sangat efektif buat memenangkan kompetisi. Bagi sebagian turis, ketimbang pulang dengan tangan hampa, mending beli yang ada di depan mata. 

Wisatawan bukan lagi memilih kuliner Jogja berdasarkan rasa. Sebaliknya, bakpia autentik abadi tersembunyi di balik permukiman perajin karena keterbatasan dana untuk menyewa lapak premium di etalase kota.

Baca juga: Kok Bisa Ada Mendoan Garing, Bakpia Kukus, dan Makanan yang Diceraikan dari Identitas Otentiknya?

#5 Hilangnya sentuhan hangat perajin dalam estetika pabrikan yang dingin

Memang, visual bakpia kukus sungguh rapi, higienis, dan tampak mahal. Sangat representatif buat menjadi hantaran atau oleh-oleh kuliner Jogja.

Apalagi, bentukan setiap bijinya selalu seragam dan presisi. Namun, estetika pabrikan yang terlalu sempurna ini justru membuatnya kehilangan sisi paling romantis dari sebuah oleh-oleh. Mengonsumsi bakpia kukus rasanya seperti mengonsumsi produk industrial, dingin dan steril.

Sementara, saat membeli bakpia di dapur perajin, tersembul aroma asap yang hangat dan menenangkan. Pun, sedikit kejutan kulit gosong bakpia atau bentuk bulatannya yang selalu berbeda. Bakpia kukus memangkas semua pengalaman tersebut. Cantik, tapi kosong secara emosional. 

Jadi, sudah saatnya bakpia kembali ke akar. Pelancong asli pasti akan lebih rela memilih masuk ke gang-gang sempit demi menemukan bakpia yang lebih jujur dan bersahaja. 

Sebab, oleh-oleh bukan sebatas membawa serta sekotak makanan viral, tetapi ikut membawa pulang karakter sebuah kota. Itulah makna dari khazanah kuliner Jogja.

Penulis: Paula Gianita Primasari

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA 3 Kesalahan yang Tidak Disadari Wisatawan Saat Membeli Bakpia Jogja

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version