Derita yang Saya Alami ketika Melihat Anak Muda Gamping Sleman Kecanduan Judol: Mereka Bukan Pemalas, tapi Sadar Pemasukan Situasi Ekonomi Makin Berart

Bahaya di Gamping Sleman Ketika Anak Muda Kecanduan Judol (Unsplash)

Bahaya di Gamping Sleman Ketika Anak Muda Kecanduan Judol (Unsplash)

Bahaya mengintai Gamping Sleman. Situasi berbahaya itu bernama anak muda yang mulai kecanduan judol dan pinjol. Dan penyebabnya, ternyata lebih berbahaya.

Saya lahir dan besar di Gamping Sleman. Daerah yang berkembang. Baik dari segi pembangunan juga kultur sosial. Perkembangan itu bisa kami lihat dengan mata telanjang. Namun, kami tidak bisa memilikinya.

Belakangan saya sering mendengar percakapan yang menyedihkan untuk ukuran anak muda seusia saya. Bukan lagi soal cita-cita, rencana menikah, atau impian membuka usaha. Yang lebih sering muncul justru obrolan tentang cicilan, pinjaman online, tagihan yang belum lunas, sampai cerita teman yang diam-diam mulai bermain judi online.

Dulu saya mengira fenomena judol dan pinjaman online hanya ramai di media sosial. Sampai kemudian saya menyadari bahwa beberapa orang yang saya kenal ternyata sudah masuk ke dalam lingkaran itu.

Ada teman saya di Gamping Sleman, yang awalnya hanya meminjam beberapa ratus ribu rupiah untuk kebutuhan mendesak. Ada yang tergoda bermain judol karena melihat tangkapan layar kemenangan orang lain di grup WhatsApp. Ada yang berangkat dari rasa penasaran, lalu berakhir menjadi kebiasaan. Tidak semua berakhir hancur. Tetapi hampir semua berakhir dengan penyesalan.

BACA JUGA: Pengalaman Saya 5 Tahun Kecanduan Judol: Delusi, bahkan Setelah Salat pun Doa Minta Jackpot

Alasan judol bisa masuk ke Gamping Sleman

Saya tidak sedang membenarkan judol atau pinjaman online. Dua-duanya jelas menyimpan banyak masalah. Namun, saya merasa kita terlalu sering membahasnya dari sudut pandang moral semata. 

Seolah-olah semua orang yang terjerat judol di Gamping Sleman hanya karena kurang iman, kurang bijak, atau terlalu malas bekerja. Padahal, kenyataannya, sering lebih rumit. 

Saya melihat banyak anak muda di sekitar saya bukan sedang mencari kekayaan instan. Mereka sedang mencari jalan keluar yang terasa mungkin. Dan itu adalah hal yang jauh lebih menyedihkan.

Di Gamping dan banyak wilayah Sleman lain, harga tanah terus bergerak naik. Perumahan baru terus bermunculan. Setiap beberapa bulan sekali, saya menemukan lahan yang dulu kosong berubah menjadi bangunan baru. Sebagai warga lokal, saya tentu senang daerah saya berkembang. 

Namun, di saat yang sama, ada perasaan aneh. Terutama ketika menyadari bahwa semakin banyak pembangunan justru membuat banyak anak muda semakin jauh dari kemungkinan memiliki rumah sendiri. 

Ironisnya, kami lahir, tumbuh, sekolah, dan mencari nafkah di Sleman. Tetapi semakin dewasa, kami mulai sadar bahwa belum tentu kami mampu membeli tempat tinggal di daerah tempat kami dibesarkan. Itulah yang membuat banyak anak muda di Gamping Sleman kecanduan judol atau pinjaman online.

Kecemasan anak muda di Gamping Sleman

Sekarang, percakapan anak muda sudah berubah. Bekerja keras masih penting, tetapi rasanya semakin sulit percaya bahwa kerja keras saja cukup. Ketika harga tanah naik jauh lebih cepat daripada pendapatan, harapan mulai berubah bentuk menjadi kecemasan.

Kecemasan itu kemudian bertemu dengan dunia digital yang menawarkan jalan pintas. Pinjaman cair dalam hitungan menit. Paylater tersedia dalam beberapa klik. Judol menjanjikan kemenangan besar hanya dengan modal kecil. Semua hadir di layar ponsel yang sama. Semua menawarkan ilusi yang sama: “Mungkin hidupmu bisa sedikit lebih ringan besok pagi.”

Saya rasa, di sinilah letak persoalan yang jarang kita bicarakan. Bukan sekadar soal anak muda Gamping Sleman tergoda judul atau terjebak pinjaman online. Melainkan mengapa tawaran-tawaran semacam itu terasa masuk akal. 

Ketika seseorang merasa masa depannya masih terbuka lebar, dia cenderung berpikir panjang sebelum mengambil risiko. Namun, ketika masa depan mulai terlihat kabur, orang lebih mudah tergoda pada sesuatu yang menawarkan hasil cepat. 

Sekali lagi, ini bukan pembenaran. Ini adalah kenyataan di Gamping Sleman. Sebab, jika kita hanya sibuk menghakimi tanpa memahami mengapa, kita tidak benar-benar menyelesaikan apapun.

Kehidupan yang berubah celaka

Saya melihat sendiri beberapa teman di Gamping Sleman berubah setelah terjerat judol dan pinjaman online. Ada yang menjadi lebih tertutup, sulit diajak ketemu, banyak yang berusaha biasa saja tapi stres. 

Yang paling menyedihkan, banyak dari mereka sebenarnya bukan pemalas. Teman-teman saya ini para pekerja keras. Namun, yang mereka dapat, tak lagi cukup untuk membuat mereka merasa aman.

Mungkin karena itulah saya selalu merasa ada yang salah ketika orang terus-menerus mengatakan bahwa Jogja atau Sleman masih murah. Hanya murah bagi yang datang membawa modal dari kota besar. Bagi mereka yang sudah memiliki rumah warisan, mungkin iya. Bagi investor yang membeli tanah sebagai aset, jelas iya.

Namun, bagi banyak anak muda lokal yang memulai semuanya dari nol, kehidupan jadi celaka. Kami hidup di daerah yang terus berkembang, tetapi sering tidak ikut menikmati hasil perkembangan tersebut. 

Anak-anak muda di Gamping Sleman hanya bisa menyaksikan harga properti naik, tetapi pendapatan kami tetap tiarap. Warga melihat pembangunan, tetapi tetap bertanya-tanya apakah suatu hari nanti kami bisa memiliki tempat tinggal sendiri.

BACA JUGA: Tentang Sebuah Kampung yang Ketagihan Judi Togel: Sebuah “dosa” yang malah bikin mereka jadi “bahagia”

Judol menawarkan harapan palsu bagi anak muda Gamping Sleman

Dan di tengah kegelisahan itu, judol serta pinjaman online datang menawarkan sesuatu yang sebenarnya palsu, yaitu harapan instan. Itulah sebabnya saya tidak melihat fenomena judol dan pinjol semata-mata sebagai persoalan individu. 

Saya melihatnya sebagai gejala yang lebih besar. Gejala tentang anak-anak muda Gamping Sleman yang mulai kehilangan keyakinan bahwa masa depan kita kejar melalui jalur yang normal. Ketika rumah terasa mustahil, pekerjaan terasa tidak cukup, dan biaya hidup terus bergerak naik, sebagian orang mulai mencari jalan yang tidak masuk akal.

Masalahnya, jalan yang tidak masuk akal itu malah tampak paling masuk akal. Khususnya bagi mereka yang sedang terdesak. Mungkin itulah hal yang paling membuat saya sedih sebagai anak yang lahir dan besar di Gamping Sleman. 

Sekali lagi, tidak sedikit yang memang bodoh dan malas bekerja sehingga mengabdikan diri dalam lingkaran setan bernama judol. Namun, tidak menutup fakta bahwa di ekonomi sekarang bagi banyak anak muda lokal, judol adalah keniscayaan. 

Pada akhirnya, yang lebih berbahaya daripada judol adalah alasan ketika anak muda memandangnya sebagai sesuatu yang masuk akal. Bukan karena mereka bodoh, melainkan karena harapan yang seharusnya mereka miliki, perlahan menjadi barang yang semakin mahal.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Salah satu Dampak Buruk Tol Solo Jogja Dirasakan Warga Gamping: Hilangnya Ruang Hidup ketika Warga Lokal Tidak Sanggup Membeli Tanah Kelahiran Sendiri

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version