Bahasa Jonegoroan Bikin Teman Kuliah Saya Gagal Paham

Bahasa Jonegoroan Bikin Teman Kuliah Saya Gagal Paham

Bahasa Jonegoroan Bikin Teman Kuliah Saya Gagal Paham (Unsplash.com)

Kalau saya keceplosan ngomong pakai bahasa Jonegoroan, temen-temen kuliah biasanya kebingungan dan minta dijelasin ulang.

Bojonegoro merupakan kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Timur. Kabupaten ini dikenal sebagai kabupaten penyumbang migas terbesar di Indonesia. Bojonegoro ternyata memiliki keunikan lain yang bisa membuat orang dari luar kabupaten tersebut gagal paham.

Dalam keseharian, masyarakat Bojonegoro menggunakan bahasa Jawa seperti pada umumnya. Akan tetapi ada beberapa dialek berbeda sehingga orang yang nggak biasa mendengarnya jadi gagal paham. Dialek khas yang hanya dimiliki orang Bojonegoro itu disebut bahasa Jonegoroan.

Selama menempuh studi di Malang, saya kerap keceplosan mengeluarkan bahasa Jonegoroan. Akibatnya, teman sekelas saya nggak memahami apa yang saya katakan sehingga saya harus menjelaskan dua kali. Gimana ya, bahasa Jonegoroan memang akan terdengar asing dan aneh bagi mereka yang nggak pernah menjumpainya dalam kehidupan sehari-hari, sih.

Imbuhan -em

Imbuhan -em digunakan menggantikan kepemilikan -mu yang biasa dipakai dalam bahasa Jawa. Segala bentuk kepemilikan yang biasanya diakhiri dengan kata -mu akan diganti -em dalam bahasa Jonegoroan.

Contoh: Tasem nok mejo ruang tamu (tasmu di meja ruang tamu), Awakem kenapo kok lemes? (Kamu kenapa kok lemes?), dll.

Letak perbedaannya hanya di kata -em, tapi saya kudu menjelaskan berkali-kali ke teman kuliah yang berasal dari luar Bojonegoro. Capek sih, tapi seneng juga karena teman-teman saya jadi tahu kalau saya punya bahasa Jonegoroan yang unik.

Baca halaman selanjutnya: Dikira misuh gara-gara ngomong “sicok”…

Penyebutan angka satu “siji” jadi “sicok” atau “sitok” dalam bahasa Jonegoroan

Saya sering kali dikira misuh oleh teman-teman kuliah gara-gara keceplosan menyebutkan angka satu menggunakan bahasa Jonegoroan. Penyebutan “sicok” atau “sitok” biasa digunakan oleh masyarakat Bojonegoro bagian timur, terutama di Kecamatan Baureno dan Kepohbaru.

Penggunaan kata ini hanya berlaku jika sudah benar-benar akrab dengan lawan bicara atau teman sebaya karena “sicok” atau “sitok” termasuk dalam kosakata cukup kasar di Bojonegoro. Makanya kata ini kurang populer di kawasan Bojonegoro bagian kabupaten.

Contoh penggunaan “sicok”: Aku titep bakso sicok wae (Aku nitip bakso satu aja).

Tiap kali keceplosan menggunakan kata “sicok” atau “sitok”, saya harus memberikan klarifikasi kepada teman-teman kuliah bahwa saya nggak berkata kasar. Kejadian kayak gini sebenarnya cukup menguras tenaga, tapi kalau diingat-ingat lucu juga, sih.

Kasta panggilan “saman”, “awakem”, dan “kowe”

Kata panggilan “saman” sebenarnya berasal dari kata “sampeyan”. Saya nggak tahu kasta panggilan “saman”, “awakem”, dan “kowe” ini juga berlaku di daerah lain yang menggunakan bahasa Jawa atau nggak, tapi yang jelas ketiganya adalah kata ganti untuk orang kedua di Bojonegoro.

“Saman” menduduki kasta tertinggi atau merupakan kata ganti untuk orang kedua paling halus dalam bahasa Jonegoroan. Makanya kata ini sering digunakan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua tau orang asing yang baru ditemui. Bagi teman-teman kuliah saya yang bukan orang Bojonegoro, penggunaan kata “saman” ini terkesan kaku dan nggak menunjukkan hubungan yang akrab. Padahal saya menggunakannya kepada teman-teman kuliah sebagai bentuk hormat.

Kasta kedua diduduki oleh “awakem”. Kata ganti orang kedua ini sifatnya netral, nggak halus dan nggak kasar. Biasanya “awakem” dipakai ketika berbicara dengan teman sebaya yang sudah akrab. Mayoritas orang Bojonegoro menggunakan kata ganti orang kedua ini. Saya sendiri nggak pernah menggunakan kata ganti orang kedua ini kepada teman-teman kuliah karena mereka terbiasa menggunakan “awakmu”. Jadinya saya ikut-ikutan pakai “awakmu” juga, deh.

Kasta terakhir dari kata ganti orang kedua dalam bahasa Jonegoroan adalah “kowe”. Kata ini sifatnya kasar, dan biasanya digunakan untuk teman yang sudah akrab bahkan saudara. Di daerah Malang dan Surabaya yang juga menggunakan bahasa Jawa, kata “kowe” mungkin terdengar biasa aja, tapi akan sangat berbeda di Bojonegoro. Kata ini jarang digunakan orang Bojonegoro kecuali dalam keadaan marah untuk mengekspresikan emosi dan kata kasar.

Bahasa Jonegoroan yang sering didengar

  1. Gendhol artinya botol
  2. Jongok atau Jungok artinya duduk
  3. Dingklek artinya kursi
  4. Lebi artinya menutup
  5. Akakno artinya nyalakan
  6. Njarak artinya sengaja
  7. Layakman artinya pantesan
  8. Jungkat artinya sisir
  9. Ghumon artinya heran
  10. Jengker artinya berbicara
  11. Dunung artinya ngerti
  12. Damoni artinya tiupin
  13. Mbediding artinya merinding takut ketinggian
  14. Suruan artinya pergi ke kondangan
  15. Jengklong artinya nyamuk
  16. Nayoh artinya gampang
  17. Genjong artinya diangkat
  18. Piyeleh artinya gimana sih
  19. Embet artinya becek
  20. Tepak artinya kayak

Tulisan ini bertujuan untuk memperkenalkan bahasa Jonegoroan sekaligus bentuk klarifikasi untuk teman-teman kuliah saya. Ini adalah bukti bahwa bahasa Jawa sebenarnya memiliki beragam dialek unik dan sangat menarik untuk dipelajari. Dan sebagai orang Bojonegoro asli, tentu saja saya bangga dengan bahasa ibu saya ini.

Penulis: Siti Nur Niswati
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Kalau Ngomong Pakai Bahasa Jonegoroan, Kenapa Harus Diketawain?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version