Untuk Para Artis yang Terjun ke Politik, Nggak Usah Nyalon di Bekasi

4 Kesamaan Bekasi dengan Yogyakarta Jakarta

4 Kesamaan Bekasi dengan Yogyakarta (Pande Putu Hadi Wiguna via Shutterstock.com)

Tanpa diduga-duga, Abdul Qodir Jaelani atau biasa disapa Dul, menyatakan diri bahwa dia siap menjadi cawabup Bekasi 2024 nanti. Seketika fokus orang-orang teralihkan, dari deklarasi capres ke dirinya.

Saya tahu, memang Dul belum eligible jadi wakil bupati Bekasi. Sebab, syarat minimal jadi cawabup adalah 25 tahun, sedangkan Dul saat ini masih berusia 22. Ketika 2024 nanti, dia baru berusia 24 tahun. Ya maklumin aja, umur segitu emang lagi lucu-lucunya.

Meski cuman sensasi sesaat, tapi saya melihat deklarasi ini sebagai sesuatu yang serius. Lagi-lagi, artis mengincar Bekasi sebagai daerah tempat mereka bertarung. Sebelum terlambat, sebaiknya, kalian para artis sebisa mungkin jangan jadikan Bekasi sebagai arena pertarungan politik kalian. Mengapa?

#1 Janji politik kalian kadang ngaco

Ada seorang musisi legendaris Indonesia yang nyalon jadi cawabup Bekasi. Katanya kalau dia menang pemilu, dia akan mengundang Red Hot Chili Peppers.

BENTAR.

Di mana-mana calon kepala daerah itu menawarkan janji politik yang menyejahterakan rakyat. Seperti membuka lapangan pekerjaan, pendidikan gratis, sampai tersedianya fasilitas kesehatan yang lengkap. Kok malah kepikiran ngundang band luar negeri? Lo pikir pensi?

Pasti kalian masih ingat dong siapa orang yang sedang saya bicarakan dari tadi. Ya betul, Bapaknya Dul, yaitu Ahmad Dhani.

#2 Belum tentu menang

Jangan kira masyarakat Bekasi mudah terbeli dengan popularitas. Meski daerah ini kerap diejek sebagai daerah planet lain, bukan berarti penduduknya mudah silau sama popularitas. Kalau kalian menganggap enteng, justru kalian bisa malu sendiri.

Kecuali memang kalian yakin dan punya program yang masuk akal, bisalah itu diobrolin lagi.

#3 Rekam jejak yang nggak bisa dibilang bagus

Cukup nama-nama seperti Zumi Zola dan Angelina Sondakh, yang menjadi pelajaran bagi kita rakyat Indonesia bahwa artis yang masuk ke dunia politik itu nggak benar-benar pengin mengabdikan dirinya untuk masyarakat.

#4 Kasihan sama artisnya

Sebenarnya ini nggak ada hubungannya sama Bekasi, tapi karena daerah ini kerap jadi tujuan para artis untuk “berperang”, maka ada baiknya dimasukin. Kalau kalian artis diminta untuk terjun pemilu Bekasi, baiknya sih ditolak.

Pertama, kalian itu hanya jadi alat pendongkrak suara atau popularitas parpol saja. Kalau kalian terima pinangan itu, apalagi jika karier kalian masih berpotensi untuk naik, ya itu namanya bunuh diri karier.

Tidak sedikit juga kejadian parpol yang mengingkari janji kepada ratusan bahkan jutaan rakyat yang memilihnya. Jutaan orang aja ditipu, apalagi kau.

#5 Karier yang mati

Seperti yang sama-sama kita ketahui, kebanyakan artis-artis yang nyemplung ke dunia politik adalah artis-artis yang kariernya mulai redup di industri hiburan. Padahal daripada artis-artis ini nyemplung ke dunia politik. Lebih baik mereka mulai berkarier di dunia digital. Kek bikin podcast, vlog YouTube, atau malah bikin warnet. Eh, bikin warnet masuk karier dunia digital nggak?

Itulah kenapa saya sarankan agar jangan memilih Bekasi untuk jadi tempat “berperang” atau malah sekalian nggak usah terjun politik. Mudaratnya banyak, untungnya… ya banyak sih untungnya, tapi biasanya yang untung besar pada diciduk KPK.

Bercandaaa.

Penulis: Ahmad Arief Widodo
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Di Bekasi, Ramalan Cuaca Seakan Tak Berguna

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.
Exit mobile version