Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Apoteker: Dituntut Sat-Set dan Multitalenta, tapi Minim Apresiasi

Nabial Chiekal Gibran oleh Nabial Chiekal Gibran
27 Oktober 2023
A A
Apoteker: Dituntut Sat-Set dan Multitalenta, tapi Minim Apresiasi jurusan farmasi

Apoteker: Dituntut Sat-Set dan Multitalenta, tapi Minim Apresiasi (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Apoteker merupakan salah satu dari tenaga kesehatan yang ada. Kami, para apoteker, sama dengan dokter dan perawat. Walaupun sama-sama tenaga kesehatan yang melakukan pelayanan kesehatan pada masyarakat atau langsung kepada pasien, belakangan ini saya menyadari kalau profesi yang saya geluti ini masih minim apresiasi. 

Semua orang tahu kalau mendiagnosis penyakit adalah tugasnya dokter. Kemudian yang membantu dan merawat cedera pasien adalah tugas dari perawat. Lantas gimana dengan apoteker? Nah, masyarakat kita kebanyakan tahunya profesi ini hanya bertugas memberikan obat. Sebuah kegiatan yang dianggap bisa dilakukan semua orang tanpa harus memiliki kompetensi tertentu.  

Perkara inilah yang akhirnya membuat profesi apoteker kurang mendapat apresiasi dari masyarakat. Kami hanya dilihat sebagai penjual obat dan menyerahkan obat, tak lebih dan tak kurang. 

Lantaran kerap mendapat label seperti itu, beberapa rekan sejawat, bahkan termasuk saya, sempat mengamini hal tersebut. Karena dianggap seperti itu, kami hanya melakukan apa yang dilabeli masyarakat pada kami.

Sebenarnya urusan minim apresiasi ini wajar. Kita nggak bisa memaksakan orang lain untuk memperlakukan kita sebagaimana yang kita inginkan. Lagi pula, minimnya apresiasi pada apoteker biasanya terjadi karena memang interaksi antara pasien dan apoteker sendiri sangat minim. Padahal banyak hal yang bisa dilakukan oleh apoteker, lho. Kompetensi kami cukup mumpuni untuk mengoptimalkan terapi bagi para pasien. 

Edukasi dan konseling obat itu penting

Penggunaan insulin mungkin menjadi salah satu contoh yang paling tepat dalam hal ini. Insulin adalah salah satu golongan obat yang digunakan secara khusus untuk terapi pasien diabetes melitus. Pasien harus tahu cara menyimpannya, menggunakannya, kapan mengganti jarumnya, bagaimana cara menyimpannya, lokasi suntik insulin yang tepat, dll.

Beberapa hal tadi jika dilemparkan atau diserahkan kepada tenaga kesehatan lainnya mungkin beberapa ada yang bisa membantu pasien. Tapi, bukan tak mungkin ada juga yang tidak bisa menjelaskan hal-hal tersebut. Bukannya saya meremehkan profesi lainnya ya, tapi memang bukan ranah mereka untuk mengetahui seluk-beluk obat-obatan. 

Dokter memang mengetahui jenis obat-obatan seperti apoteker. Mereka memahami kandungan, indikasi, dan nama-nama obat yang sejenis. Akan tetapi jika edukasi obat diserahkan pada dokter, tentu saja pelayanan kesehatan menjadi kurang optimal dan kondusif. Makanya tenaga kesehatan perlu berbagi peran untuk mengoptimalkan terapi pasien.  

Baca Juga:

Wisuda Terasa Biasa Aja bagi Mahasiswa Jurusan Farmasi karena Setelahnya Masih Harus Sekolah Lagi 

Minyak Gosok sampai Obat Kuat, Ini 5 Obat Cina yang Wajib Ada di Rumah Saya

Apoteker memang sudah mendapatkan materi kuliah yang cukup banyak dan melalui proses panjang, makanya kami yakin mengenai apa yang kami sampaikan pada pasien. Edukasi dan konseling pada obat menjadi penting dan salah satu pilar utama kesembuhan.

Akan tetapi yang terjadi kebanyakan pasien sudah kelelahan menghabiskan waktu untuk diagnosis dan kontrol ke dokter. Saat menebus obat pun pasien biasanya hanya fokus pada mengambil obat dan pulang. Padahal tiap obat memiliki aturan sendiri, contohnya golongan obat pemakaian khusus tadi. Seperti cara penggunaan insulin yang baik dan benar, cara penyimpanan, dan sebagainya.

Cekatan dan cepat jadi tuntutan utama

Dengan kemajuan teknologi di mana kita tinggal scroll layar hape dan klik tombol ini itu hingga terbentuk pola pikir semua hal bisa dipesan dan instan, obat-obatan nggak demikian. Golongan obat tertentu nggak bisa dipesan secara daring.

Selain itu, seorang apoteker yang bertugas juga dituntut untuk sat-set saat menyiapkan obat lantaran banyak orang yang menganggap mengambil obat saja lama. Padahal nyatanya, proses menebus obat harus melalui berbagai fase. Mulai dari skrining resep, konfirmasi pada pasien untuk ditebus atau tidak, mengecek stok obat, memberikan etiket pada tiap obat, mencatat kartu stok, sampai akhirnya obat bisa diserahkan pada pasien.

Sebelum obat sampai di tangan pasien, ada juga pelayanan informasi obat. Kami harus memberi tahu aturan minum obat dan cara minum obat (dikunyah atau ditelan, dilarutkan, atau bahkan ditempel). Semua proses itu perlu waktu banyak wahai masyarakat. 

Apoteker juga dituntut harus tahu banyak hal

Selain minim apresiasi, apoteker juga harus tahu segalanya tentang obat. Hal ini wajar karena memang sudah tugas kami. 

Rekan sejawat saya kerap bertemu pasien yang mau membeli obat tapi hanya menunjukkan kemasan yang tidak utuh. Tidak ada nama obatnya, zat aktifnya, bahkan mereknya. Dan yang bikin bingung lagi, pasien sendiri tidak tahu nama obatnya. Kalau sudah begini, apoteker seolah dituntut menjadi dukun yang harus punya indra keenam.

Sebagai apoteker, kami tentu siap dan rela meluangkan waktu kami untuk memberikan pelayanan terbaik bagi kesembuhan pasien. Jadi, kami sangat berharap masyarakat juga bisa bekerja sama dengan baik. Berikan kami kesempatan untuk menjalani kompetensi kami sebagai ahli obat dengan meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan kami. 

Penulis: Nabial Chiekal Gibran
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 5 Tipe Konsumen Apotek yang Menghiasi Hidup Apoteker.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 27 Oktober 2023 oleh

Tags: apotekerapresiasiObatpasien
Nabial Chiekal Gibran

Nabial Chiekal Gibran

Penjual obat yang legal| Penikmat film semua genre kecuali horor| Hanya menyediakan jasa tanya-tanya obat-obatan. Terkadang juga sering mengajar dan menulis.

ArtikelTerkait

Wisuda Terasa Biasa Aja bagi Mahasiswa Jurusan Farmasi karena Setelahnya Masih Harus Sekolah Lagi Mojok.co

Wisuda Terasa Biasa Aja bagi Mahasiswa Jurusan Farmasi karena Setelahnya Masih Harus Sekolah Lagi 

2 Oktober 2025
5 Informasi Penting yang Perlu Kalian Tahu Sebelum Konsumsi Obat terminal mojok.co apoteker apotek farmasi efek samping obat

Nasihat Bidan

18 Mei 2019
Petunjuk Singkat Cara Membaca Lambang Obat bagi Orang Awam terminal mojok

Petunjuk Singkat Membaca Lambang Obat bagi Orang Awam

5 November 2021
osce pasien praktik dokter tenaga medis mojok

Pengalaman Saya Menjadi Pasien Standar OSCE

11 November 2020
Aturan Tidak Tertulis Apotek, Sebaiknya Pelanggan Tahu supaya Tidak Merepotkan Apoteker Mojok.co jogja

3 Aturan Tidak Tertulis Apotek, Sebaiknya Pelanggan Tahu supaya Tidak Merepotkan Apoteker

4 Januari 2024
Dari Minyak Gosok sampai Obat Kuat, Ini 5 Obat Cina yang Wajib Ada di Rumah Saya Mojok.co

Minyak Gosok sampai Obat Kuat, Ini 5 Obat Cina yang Wajib Ada di Rumah Saya

25 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Indomaret Tutup, Orang Dewasa Depresi Bakal Makin Stres (Unsplash)

Membayangkan Semua Gerai Indomaret Tutup: Ibu-Ibu Merana Kehilangan Promo Minyak Goreng, Orang Dewasa Stres Makin Depresi Kehilangan Kursi Besi Andalan

1 Juni 2026
Bahaya di Gamping Sleman Ketika Anak Muda Kecanduan Judol (Unsplash)

Derita yang Saya Alami ketika Melihat Anak Muda Gamping Sleman Kecanduan Judol: Mereka Bukan Pemalas, tapi Sadar Pemasukan Situasi Ekonomi Makin Berart

1 Juni 2026
Jalan Dr Sutomo, Jalan Satu Arah yang Mencoreng Nama Baik Muntilan Magelang

Jalan Dr Sutomo, Jalan Satu Arah yang Mencoreng Nama Baik Muntilan Magelang

2 Juni 2026
Pengalaman Saya Menemani Anak 3 Tahun untuk Sunat (Unsplash)

Pengalaman Saya Sebagai Bapak Milenial Mengalahkan Rasa Takut untuk Menemani Anak Sunat di Usia 3 Tahun

29 Mei 2026
Soto, Kuliner Solo Bukan Makanan, tapi Jimat Bertahan Hidup (unsplash)

Soto, Warisan Budaya di Khazanah Kuliner Solo yang Tidak Lagi Dianggap Makanan, tapi Cara Bertahan Hidup

31 Mei 2026
Kebumen Kecamatan Aneh, Kadang Sulit Dipahami Pendatang (Unsplash)

Pengakuan dari Saya, Warga Asli Kebumen yang Menyadari Bahwa Daerah Saya Memang Sulit Dipahami Khususnya Para Pendatang yang Sedang Beradaptasi

31 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.