Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Teknologi

Aplikasi iPusnas Terbaru: Niatnya Berbenah Malah Bikin Pembaca Susah

Tiara Uci oleh Tiara Uci
24 Oktober 2024
A A
Aplikasi iPusnas Terbaru Niatnya Berbenah Malah Bikin Pembaca Susah

Aplikasi iPusnas Terbaru Niatnya Berbenah Malah Bikin Pembaca Susah (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Aplikasi Perpustakaan Nasional atau biasa disebut iPusnas sedang berbenah. Saya sempat berpikiran positif, barangkali pihak pengelola Perpustakaan Nasional menanggapi keluhan pembaca setia iPusnas terkait susahnya meminjam buku incara lantaran jumlah copy-nya terlalu sedikit dan aplikasinya sering eror.

Akan tetapi saat aplikasi iPusnas versi terbaru sudah diluncurkan, alih-alih bahagia, sebagai pengguna saya justru kecewa. Bukannya nggak bersyukur dengan perpustakaan digital yang sudah disediakan secara gratis oleh pemerintah, tapi iPusnas terbaru lebih mirip situs berita online ketimbang perpustakaan. Niat pengelola untuk berbenah malah bikin kami (baca: pembaca) susah.

Aplikasi lebih berat, lebih sering eror, dan sulit diakses

Aplikasi iPusnas versi terbaru memang lebih berat. Tapi bukan itu saja masalahnya, iPusnas versi baru justru sering eror dan susah diakses. Untuk pengguna lama seperti saya terpaksa harus membuat akun baru lantaran sulit log in dengan akun lama. Alhasil, semua catatan dan riwayat bacaan saya hilang semua.

Selain itu, iPusnas versi baru sering log out sendiri dan susah log in kembali. Dalam satu hari ini saja, saya sudah dua kali log in iPusnas dan gagal. Masalah seperti ini tak hanya terjadi pada saya, ada banyak pengguna yang mengeluhkan hal yang sama. Kalian bisa menemukan sambatan para pengguna aplikasi ini di X.

Agak lucu, sih. Masa aplikasi versi baru malah lebih lelet dari yang lama. Kalau begini ceritanya, niat iPusnas upgrade malah jadi downgrade.

Aplikasi iPusnas versi baru terlalu banyak video dan berita yang tidak perlu

Secara tampilan, iPusnas versi baru memang lebih bagus dan enak dilihat. Namun, hal tersebut menjadi nggak berguna lantaran ada banyak video dan kanal berita di dalamnya. Gini, lho, fungsi utama iPusnas adalah untuk membaca buku, jadi biarkan ia berfungsi seperti layaknya e-reader. Jangan menambahkan banyak video dan berita yang justru membuat niat awal pengguna untuk membaca malah terdistraksi ke video atau hal-hal lain yang ada di aplikasi tersebut.

Mirisnya lagi, isi beritanya nggak berhubungan dengan buku atau kegiatan perbukuan, tapi lebih banyak berita tentang kegiatan pemerintah. Misalnya, nih, minggu ini dashboard paling atas iPusnas berisi berita tentang strategi pemerintah menjaga keseimbangan harga batu bara. Duh, berita soal batu bara bisa dimuat di website Kementerian ESDM saja. Nggak harus diinformasikan pada aplikasi untuk pembaca buku juga.

Sulit mencari judul buku

Menu penelusuran (searching) di aplikasi iPusnas kualitasnya makin memburuk. Kalau kita ingin mencari buku harus berdasarkan judul bukunya, nggak bisa dari nama penulisnya. Hal tersebut tentu merepotkan. Sebagai pembaca, saya kadang lupa judul bukunya dan ingat penulisnya. Selain itu, nyaris semua pembaca buku memiliki penulis favorit. Saya saja kesulitan mencari judul buku dari penulis favorit yang sudah masuk iPusnas.

Baca Juga:

4 Alasan Saya Meninggalkan iPusnas dan Beralih Membeli Buku Fisik

iPusnas, Aplikasi Perpustakaan Nasional Gratisan yang Sering Bikin Patah Hati

Misalnya nih, jika saya ingin tahu buku Eka Kurniawan yang sudah masuk iPusnas apa saja, saya harus menulis judul buku Eka Kurniawan satu per satu terlebih dahulu. Ribet sekali ya Allah. Malah lebih enak aplikasi iPusnas yang lama, kalau kita tulis nama pengarangnya, semua bukunya langsung muncul di laman pencarian.

Masalah lainnya, menu penelusuran (searching) pada aplikasi iPusnas nampak sekali kurang pintar, jauh bila dibandingkan searching Google atau YouTube. Misalnya nih, saya ingin mencari novel dengan judul Pertempuran Lain Dropadi yang ditulis Triyanto Triwikromo. Namun, saya salah menulis huruf “o” dengan “u” menjadi Pertempuran Lain Drupadi.

Nah, salah satu huruf saja langsung nggak ketemu judul buku tersebut. Kita wajib menulis sama persis dengan judul buku cetaknya, termasuk letak titik komanya. Berbeda dengan search di iPusnas versi lama, kita cukup tulis kata depannya saja, mesin pencari akan otomatis menampilkan beberapa judul buku yang memiliki kata terkait pada dashboard.

Sudah cari buku dari nama penulis nggak bisa, dicari dari judul bukunya pun harus sama persis per kata, benar-benar menyusahkan pembaca. Tolonglah, pengelola iPusnas harus belajar dari Amazon Kindle, e-reader besutan Amazon yang dicintai banyak pembaca buku di seluruh dunia karena mudah digunakan dan simple.

Antrian buku iPusnas tetap lama

Menu antrian buku menjadi masalah yang dikeluhkan pembaca sejak lama. Jumlah buku yang terbatas dengan peminat yang makin banyak membuat waktu antrian semakin lama. Sayangnya, carut marut soal antrian ini belum sepenuhnya selesai.

Memang sih ada beberapa judul buku yang jumlah copy-nya ditambah, termasuk buku Twenty-Four Eyes yang tahun lalu saya keluhakan di Terminal Mojok lantaran jumlahnya hanya 10 biji padahal peminatnya ribuan. Saat ini buku tersebut sudah ditambah menjadi 336 pcs. Luar biasa memang.

Sayangnya, hal tersebut nggak berlaku untuk semua buku. Awal bulan ini, saya sudah antri buku Sally Roony yang berjudul Normal People, tapi sampai sekarang belum juga dapat pinjaman dan status antriannya malah tiba-tiba hilang sendiri.

Sebenarnya iPusnas bisa saja membuat antrian lebih simple, misalnya mengurutkan antrian berdasarkan tanggal atau waktu. Orang yang antri hari Senin dapat lebih cepat dari yang antri di hari Selasa, bukan malah dibuat sistem rebutan seperti sekarang.

Di luar masalah-masalah yang sudah saya sebutkan di atas, saya tetap mengapresiasi iPusnas versi baru yang sudah mau menambahkan banyak sekali judul buku baru. Walapun sering kesal dan jengkel sendiri setiap membuka aplikasi iPusnas yang eror, saya tetap berharap iPusnas tetap ada dan nggak dilenyapkan dari bumi Nusantara ini.

Penulis: Tiara uci
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA iPusnas Justru Bikin Saya Malas Baca Buku karena Antrean Peminjamnya sampai Ribuan!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 24 Oktober 2024 oleh

Tags: ipusnasPerpustakaanperpustakaan digital
Tiara Uci

Tiara Uci

Alumnus Teknik Mesin Universitas Negeri Surabaya. Project Manager perusahaan konstruksi di Surabaya. Suka membaca dan minum kopi.

ArtikelTerkait

Mahasiswa Unpad Iri dengan Perpustakaan Kampus Lain yang Buka sampai Malam Mojok.co

Mahasiswa Unpad Iri dengan Perpustakaan Kampus Lain yang Buka sampai Malam

2 November 2024
Disarpus Kota Bandung, Perpustakaan Bagus, tapi Fasilitasnya Tidak Berfungsi Sebagaimana Mestinya, Masak Komputer Nggak Bisa Dipakai Semua?

Disarpus Kota Bandung, Perpustakaan Bagus, tapi Fasilitasnya Tidak Berfungsi sebagaimana Mestinya, Masak Komputer Nggak Bisa Dipakai Semua?

2 Juli 2024
Surat Terbuka untuk Para Penimbun Buku di iPusnas, Apa yang Kalian Lakukan Itu Jahat  Mojok.co

Surat Terbuka untuk Para Penimbun Buku di iPusnas, Apa yang Kalian Lakukan Itu Jahat  

3 Maret 2025
skripsi ratusan halaman data skripsi kutipan dalam karya tulis skripsi dibuang mojok

Skripsi Bukan Dijual, Bisa Jadi Masuk Jadwal Retensi Arsip (JRA)

23 Juli 2020
Aturan Tidak Tertulis Perpustakaan Digital yang Kerap Disepelekan Pengunjungnya Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Perpustakaan Digital yang Kerap Disepelekan Pengunjungnya

29 Desember 2023
3 Hal yang Bikin Saya Merasa Ngenes Saat Ikut Program Kampus Mengajar

3 Hal yang Bikin Saya Merasa Ngenes Saat Ikut Program Kampus Mengajar

10 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kontrakan di Jogja itu Ribet, Mending Sewa Kos biar Nggak Ruwet, Beneran   pemilik kos

4 Kelakuan Pemilik Kos yang Bikin Jengkel Penyewanya dan Berakhir Angkat Kaki, Tak Lagi Sudi Tinggal di Situ

13 Maret 2026
Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar Mojok.co

Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar

13 Maret 2026
Yamaha Lexi Tercipta Untuk Orang Malang, Santai tapi Tegas (Wikimedia Commons)

Yamaha Lexi Adalah Motor yang Terlalu Santai tapi Sebenarnya Tegas, Paling Cocok Dipakai oleh Orang Kota Malang

8 Maret 2026
Honda Stylo Motornya Orang Kaya Waras yang Ogah Beli Vespa Matic Overprice, tapi Nggak Level kalau Cuma Naik BeAT dan Scoopy Mojok.co

Honda Stylo Motornya Orang Kaya yang Ogah Beli Vespa Matic Overprice, tapi Nggak Level kalau Cuma Naik BeAT atau Scoopy

13 Maret 2026
All New Honda Vario 125 eSP 2018: Motor Matik Kencang, Nyaman, dan Paling Enak Dipakai Harian motor honda blade 110 honda vario 160 supra x 125 vario street

Vario Street Adalah Gebrakan Sia-Sia dari Honda: Niatnya Ingin Sporty, Malah Kelihatan Basi  

7 Maret 2026
Liburan ke Luar Negeri Bukan Soal Gengsi, tapi Pilihan Masuk Akal karena Tiket Pesawat Domestik Sudah Kelewat Mahal Mojok.co

Liburan ke Luar Negeri Bukan Soal Gengsi, tapi Pilihan Masuk Akal karena Tiket Pesawat Domestik Sudah Kelewat Mahal

8 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”
  • Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto
  • Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah
  • Mahasiswa UGM Belajar Kehidupan dari Kepala Suku di Raja Ampat, Merasa “Kecil” karena Ilmu di Kuliah Sebatas Teori tanpa Aksi Nyata
  • Perantau Minang Gabut Mudik Bikin Tanduk Kerbau dari Selimut KAI, Tak Peduli Jadi Pusat Perhatian karena Suka “Receh”
  • Pengalaman Brengsek Naik Travel dari Jogja ke Surabaya, Dapat Sopir Amatiran Membahayakan Nyawa dan Semburan Muntahan Penumpang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.