Jadi ceritanya, saya baru dapat cuti setelah cukup lama bekerja sampai tanpa jeda secara harfiah. Cuti ini sudah saya ajukan jauh-jauh hari ke HRD, dan juga saya koordinasikan dengan atasan.
Dalam satu kesempatan, Mbak Swa (Head HRD kantor saya) sempat bertanya. Apa yang paling ingin saya lakukan saat punya waktu sendiri setelah berhenti sementara dari rutinitas kehidupan dewasa ini?
Jawaban saya sederhana. Minum kopi, baca buku, nulis. Kalau bisa di tempat yang banyak hijau-hijaunya, dengan tenang, tanpa gangguan.
Akhirnya saya menikmati cuti itu di kota hujan, Bogor. Setelah beberapa hari membaca buku fiksi dan nonfiksi, sekadar menyeimbangkan kepala, saya malah teringat diri saya beberapa tahun ke belakang. Saya yang bekerja sampai seperti mesin diesel, jarang berhenti.
Untuk apa bekerja sampai seperti ini?
Dari situ, satu pertanyaan eksistensial langsung terpantik. Sudah sekian tahun bekerja sampai seperti ini di ibu kota, sebenarnya untuk apa? Kenapa saya mau sejauh ini capek bekerja? Buat apa saya memilih sakit karena kerja, bukan sakit karena hal lain yang lebih “nyaman” tanpa harus bekerja?
Secara teoritis, selalu ada jalan lain. Misalnya, menikah dengan orang berduit, hidup dari harta warisan orang tua, atau cukup pasrah pada keberuntungan semata. Tapi, semakin kita belajar, baik lewat pendidikan formal maupun informal, semakin terasa bahwa tidak melakukan apa-apa itu sama saja dengan mati perlahan.
Bekerja sampai lelah sering kita pahami sebagai jalan paling masuk akal untuk hidup. Bangun pagi, berangkat, lelah, pulang membawa uang. Sederhana di atas kertas. Di praktiknya, tidak pernah sesederhana itu.
Perkara meeting-meeting yang menyita waktu. Deadline yang menggerus tidur dan jam-jam santai. Belum lagi malam-malam ketika pulang, ada yang sengaja mampir sebentar ke Indomaret. Duduk di kursi besi, minum kopi Golda, menunda waktu untuk pulang ke rumah. Atau menyetel musik sepanjang jalan, berharap suara itu cukup keras untuk menenggelamkan skenario terburuk tentang masa depan.
Apakah semua ini sepadan?
Saya bekerja di industri kreatif. Industri yang katanya dinamis, segar, penuh ide. Dan sebagai mana industri lain, ia akan diam-diam mencuri umur dengan cepat tanpa kita sadari. Selalu ada manusia-manusia baru yang lebih muda dan enerjik, lebih lapar akan ide-ide segar dan lebih haus dengan validasi dan bentuk promosi.
Lalu, setelah ini saya mau ke mana? Ketika ide saya sudah tak lagi segesit dulu, ketika stamina dan gairah tak lagi sama, ketika cara berfikir saya tak lagi lagi relevan dan selera pasar yang cepat berubah, apakah saya akan tergantikan begitu saja?
Apakah bekerja seperti ini memang sepadan? Semua stres, cemas, kurang tidur, bahkan bagi sebagian orang, menangis hampir saban malam, adalah harga wajar untuk sesuatu yang kita sebut “bekerja sampai lelah”? Lalu, bekerja punya garis finis, atau kita hanya terus berlari sampai tubuh atau usia yang akhirnya menghentikan?
Buku-buku pengembangan diri dan filsafat populer sering menawarkan ketenangan: fokus pada proses, mengendalikan hal-hal yang bisa dikendalikan, seperti yang ditulis Henry Manampiring dalam “Filosofi Teras”, atau membangun kebiasaan-kebiasaan kecil ala James Clear lewat “Atomic Habits”. Semua itu cukup membantu, namun hanya sampai pada beberapa aspek tertentu.
Bekerja sampai lelah bukan semata soal uang. Benarkah?
Kegelisahan ini memantik rasa penasaran saya. Saya coba iseng berkeliling dengan membaca forum diskusi di Facebook, X, sampai Reddit. Dari sana saya sadar, pertanyaan tentang bekerja sampai lelah ini ternyata bukan kegelisahan pribadi semata.
Ia muncul di banyak ruang dan ditulis oleh banyak orang. Mulai dari filsuf, peneliti, sampai penulis esai. Mereka sama-sama mencoba menjawab satu hal. Kenapa manusia tetap bekerja, bahkan ketika kerja itu melelahkan?
Banyak yang menyebut bahwa bekerja sampai lelah itu bukan cuma soal cari uang, tapi soal bentuk aktualisasi diri. Ruang itu menjadi tempat seseorang menguji kapasitasnya, merawat keterampilannya, dan merasa dirinya tidak sepenuhnya terbuang dari peradaban.
Walaupun paradoksnya, setiap upaya untuk mengaktualisasikan diri hampir selalu berisiko bersinggungan dengan orang lain. Gesekan, konflik, salah paham. Semuanya ikut jadi satu paket. Apakah bekerja sampai lelah itu memang sepadan?
Bekerja tidak selalu soal hasil akhir
Albert Camus, lewat “The Myth of Sisyphus”, menulis tentang manusia yang terus mendorong batu ke atas bukit. Bukan karena batunya akan sampai, tapi karena kesadaran akan dorongan itu sendiri.
Saya tidak tahu apakah Camus sedang bicara soal kerja seperti yang kita kenal hari ini, tapi gagasannya cukup relevan, sih. Kerja tidak selalu dibenarkan oleh hasil akhirnya, melainkan oleh sikap kita saat menjalaninya. Bukan karena ia menyelesaikan segalanya, tapi karena ia membuat kita tetap bergerak di saat dunia terasa sedang melawan kita.
Mungkin, bekerja sampai lelah juga bukan ibadah karena hasilnya. Dalam “Robohnya Surau Kami”, AA Navis justru menyinggung manusia yang melarikan diri dari tanggung jawab duniawi dengan berlindung sepenuhnya pada ibadah.
Tokohnya tekun berdoa, tapi lupa bahwa hidup juga menuntut adanya usaha. Dari situ, bekerja tidak ditempatkan sebagai lawan iman, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab manusia di dunia.
Kalau saya pikir lagi, mungkin pertanyaannya bukan lagi soal “apakah bekerja sampai lelah itu sepadan”, tapi lelah atau sakit mana yang sanggup kita tanggung. Karena nyatanya, hampir setiap aspek hidup menuntut tenaga. Ada lelah mencari uang, ada lelah menjaga relasi, ada lelah berkarya tanpa kepastian, dan ada juga lelah yang datang dari tidak melakukan apa-apa.
BACA JUGA: 3 Pekerjaan yang Bisa Bikin Kamu Kaya di Jogja Tanpa Jadi Budak Freelance
Tidak ada posisi yang benar-benar bebas dari beban
Yang ada hanya transaksi. Bekerja sampai capek memang melelahkan, tapi berhenti bergerak juga tidak otomatis membawa damai. Mungkin itu sebabnya banyak orang memilih bercanda dengan imannya sendiri. Biar lelah jadi lillah, katanya. Selalu ada cara manusia untuk memberi makna.
Mungkin, bekerja sampai lelah memang bukan soal mencapai sesuatu yang final. Ini bukan vonis telak dari hakim, dan juga bukan pembenaran moral. Lebih ke soal memilih untuk tetap bergerak meski sambil mengeluh, capek, sesekali berhenti minum kopi di kursi besi depan Indomaret. Lalu meneguhkan ulang dan menguat-nguatkan diri sendiri: “sampai di sini dulu capeknya, nanti kita lanjut lagi.”
Sisanya, seperti biasa, waktu yang akan menjawab.
PS: Jujur, tulisan ini tidak disponsori oleh Indomaret, maupun Golda. Kalau mau menenangkan diri, pilih air mineral atau kopi hitam tanpa gula. Setidaknya stres tidak disertai dengan kehadiran penyakit diabetes, King.
Penulis: Firmansyah Yedico Putra
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
