Banyak orang bilang, hidup itu penuh pilihan. Namun, bagi kelas pekerja, mencari nafkah bukanlah pilihan melainkan kewajiban yang tidak bisa ditawar. Sering terjadi pula, dua kepala harus sama-sama keluar untuk bekerja. Ya suami, ya istri. Dan ketika hal itu terjadi, muncul dilema. Anak-anak mau dititipkan ke siapa? Apakah mau dititipkan ke nenek, saudara, ART atau daycare saja?
Dititipkan ke nenek atau saudara, jelas merepotkan. Mempekerjakan ART pun tidak semudah itu. Selain butuh waktu untuk mencari yang sreg di hati, mempekerjakan ART juga harus siap dengan segala dramanya. Entah ART tiba-tiba tidak berangkat, banyak tuntutan, hingga drama pola asuh yang berbeda.
Nah, di tengah dilema tersebut, daycare seringkali dianggap sebagai opsi terbaik. Maka, tidak berlebihan rasanya jika tempat kerja yang menyediakan daycare, atau minimal daycare yang lokasinya nempel dengan kantor, mendapatkan apresiasi tertinggi. Kalau perlu, mari kita doakan para penyedia fasilitas itu masuk surga karena telah menyelamatkan rumah tangga dari huru-hara.
Daycare lebih mudah dipantau
Salah satu kawan saya, anaknya dititipkan di daycare. Kalian tahu, lokasi daycare kedua anaknya berada persis di samping tempat kerjanya. Beneran nempel dengan tembok kantor tempat kerjanya.
Alhasil, setiap pagi dia berangkat kantor sekalian memboyong anak-anaknya. Pertama dia ke kantor dulu, absen, lalu setelah itu jalan kaki mengantar anak-anaknya.
Lokasi daycareyang dekat dengan kantor, membuat kawan saya jadi mudah untuk memantau anaknya. Misal, jam istirahat mau nengok sebentar juga bisa. Ini, jelas sebuah privilese yang tidak semua orang tua bisa rasakan.
Saya, misalnya. Dulu, daycare anak saya berjarak sekitar 3 km dari tempat kerja. Masih cukup terjangkau sebenarnya, tapi tetap saja, kalau tiba-tiba dikabari anak sakit dan minta dijemput, jarak 3 km itu rasanya jauh sekali.
Duh. Apa kabar dengan orang tua lain yang jarak kantor ke daycare sampai puluhan km?
Akrab dengan suasana daycare
Selain lebih mudah untuk memantau anak, keberadaan daycare yang nempel kantor juga membuat orang tua jadi akrab dengan suasana sehari-hari anaknya.
Kawan saya yang daycare-nya di samping kantor itu, dia sampai hafal loh dengan lagu senam dan lagu-lagu lain yang seringkali dinyanyikan oleh guru-guru di daycare. Soalnya, para guru menyanyikannya dengan microphone.
Jadi, suara bu guru pas lagi nyanyi tembus sampai ke ruang kerjanya. Dan bukan hanya lagu-lagu saja, ya. Sampai segala tepuk yang diajarkan pun kawan saya hafal.
Nah, karena hafal inilah, kawan saya jadi bisa ikut-ikutan bernyanyi dan bertepuk bersama anaknya ketika di rumah. Pernah suatu ketika, si anak sampai bingung kok ibunya hafal semua lagu dan tepuk yang ada di sekolah. Lalu dengan santainya kawan saya menjawab, “Kan kedengeran dari kantor ibu.”
Lebih kenal satu dengan yang lain
Jujur, melihat betapa terbantunya teman saya ketika ada daycare dekat kantor, saya jadi berimajinasi.
Saya membayangkan betapa bahagianya jika setiap kantor atau perusahaan menyediakan fasilitas daycare bagi para karyawannya. Dijamin, rasa cemas yang biasa menghantui sepanjang jam kerja akan berganti dengan ketenangan.
Ucapkan selamat tinggal juga pada drama telat ngantor gara-gara ngantar anak ke daycare dulu. Begitu pun saat waktunya pulang. Para orang tua ini tidak perlu menjelma jadi Valentino Rosi hanya supaya tidak kena biaya overtime. Definisi mangkat bareng, balik bareng pokoknya.
Dan, berhubung daycare ini masuk dalam salah satu fasilitas kantor, bukan tidak mungkin lingkaran sosial di tempat kerja mendadak menjadi jauh lebih hangat. Para karyawan bisa saling mengenal anak rekan kerjanya dengan akrab saat berpapasan di lorong kantor atau saat jam istirahat. Kan enak, ya. Kerja, tapi rasanya seperti acara kumpul keluarga. Siapa tahu di masa depan bisa meningkat jadi besanan.
Bagaimanapun tetap ada sisi negatifnya
Meski demikian, tentu kurang fair kalau soal fasilitas daycare di kantor ini hanya dilihat dari satu sudut pandang saja. Biar bagaimanapun juga, daycare di kantor juga punya sisi negatif. Misalnya, alih-alih fokus membahas kerjaan kantor, para karyawan bakalan sering membicarakan soal anak mereka.
Bukan tidak mungkin pula, ini bagian yang paling tricky, adanya fasilitas daycare di kantor bisa memunculkan gesekan antar rekan kerja. Pemicunya sepele. Anak-anak berantem di daycare, sudah baikan dan main bareng lagi, eehhh… orang tuanya baper sampai musuhan.
Atau bisa juga, muncul perasaan tidak enak untuk menegur ketika dapat laporan ada anak yang bikin ulah. Apalagi, kalau anak yang berulah itu adalah anaknya atasan. Duh, didiemin bikin makan ati, mau ditegur takut banget besoknya disuruh nggak usah ngantor lagi.
Kalau kamu bagaimana? Setuju nggak kalau kantor perlu ada fasilitas daycare?
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Anak pertama perempuan, peran yang paling melelahkan di dunia setelah jadi ibu.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
