ADVERTISEMENT

Membayangkan MSCI benar-benar turunkan kelas pasar saham Indonesia ke Standalone Market bareng Nigeria

Membayangkan MSCI benar-benar turunkan kelas pasar saham Indonesia ke Standalone Market bareng Nigeria Mojok.co

Sebagaimana kebiasaan saya sebagai investor ritel kelas teri, Jumat pagi, 16 Oktober 2026, saya mengecek portofolio saham untuk memastikan, apakah warnanya merah atau hijau. Setelah saya buka, boom! Saham Bank BCA (BBCA) yang saya pelihara beberapa waktu terakhir berwarna merah.

Kalau warnanya merah dengan penurunan yang tajam di awal pembukaan, artinya ada yang tidak beres dengan bursa saham Indonesia. Sebab, BBCA adalah salah satu saham blue chip yang jadi alarm awal ketika situasi pasar saham tidak kondusif. Dan benar saja, begitu melihat IHSG, rupanya seluruh pasar sedang mengalami nasib nahas.

ADVERTISEMENT

Pagi itu, IHSG terjun bebas hingga 8 persen. Seperti biasa, bursa efek langsung memberlakukan trading halt, yaitu menghentikan perdagangan selama 30 menit. Setelah perdagangan berlanjut, situasi tidak membaik. IHSG menutup harinya dengan penurunan total 11,57 persen di level 5.185,10. Catatan ini mendekati penurunan harian terdalam sejak 8 Januari 1998 yang pada saat itu tercatat 11,95 persen. 

Penyebab dari kondisi itu datang dari MSCI, penyedia indeks saham yang menjadi acuan investor global. Jadi sehari sebelumnya, lembaga ini merilis pernyataan agar pasar saham Indonesia diusulkan turun dari kelas Emerging Market menjadi Standalone Market.

Yang bikin investor ritel seperti saya makin dongkol adalah respon para pejabat yang gampangke. Misalnya nih, Wamenko Perekonomian Dradjad Hari Wibowo malah mempersilakan investor domestik “serok” saham ketika asing keluar dan harga turun. Sementara itu, CEO Danantara Rosan Roeslani menyebut koreksi IHSG sebagai kesempatan berinvestasi jangka panjang lantaran valuasi saham semakin murah.

Nggak  salah memang membeli saham perusahaan bagus ketika harganya turun. Tapi, mbok ya mikirrrr! Mau serok, uangnya dari mana? Lha portofolio saja sudah kadung minus dan merah merona begitu. Untuk serok saham, butuh dana lebih, sementara pendapatan saja habis buat memenuhi kebutuhan yang sudah kadung di-downgrade. Mikir woy! Dikira semua investor ritel itu uangnya berlimpah seperti Raffi Ahmad apa?

Lagi pula, persoalan MSCI ini bukan sekadar saham yang lagi murah, tapi juga soal transparansi, kewajaran transaksi, dan kepercayaan terhadap pasar modal dalam negeri yang sedang penuh pertanyaan. Main serok, serok aja.

Peringatan MSCI tidak muncul tiba-tiba

Jadi masalah MSCI ini sebenarnya sudah disuarakan sejak bulan Januari 2026 lalu. MSCI menilai struktur kepemilikan saham sejumlah emiten Indonesia sangat sulit ditelusuri. Ini juga efek dari laporan para investor mengenai dugaan perdagangan terkoordinasi yang bisa mengganggu pembentukan harga secara wajar.

Salah satu isu yang paling penting adalah mengenai free float, yakni saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan kepada publik.

Ilustrasinya begini, bayangkan ada satu emiten saham dengan kode CUAKS punya nilai pasar Rp100 triliun. Dari seluruh sahamnya tersebut, 30 persen atau Rp30 triliun beredar di bursa saham. Tapi, ternyata, berdasar penelusuran, ada indikasi 25 persen dari total saham perusahaan yang beredar tersebut milik beberapa pihak yang saling terafiliasi dan tidak benar-benar diperdagangkan secara bebas di bursa saham.

ADVERTISEMENT

Kondisi itu membuat saham CUAKS yang benar-benar terbuka dan diperebutkan oleh investor lainnya hanya 5 persen, atau Rp5 triliun. Hal itu membuat saham terkesan lebih mudah diperjualbelikan daripada kenyataannya. Konsentrasi kepemilikan juga bisa membuat pergerakan saham CUAKS ini sangat rentan oleh segelintir pihak.

Itulah yang membuat MSCI membekukan beberapa perubahan indeks saham Indonesia, termasuk penambahan saham baru dan kenaikan bobot tertentu. Intinya, mereka sedang mengawasi pergerakan pasar Indonesia. Bahkan sejak Januari, MSCI sudah bilang, kalau gak segera berbenah, pasar saham Indonesia akan turun ke kategori Frontier Market.

Eh tiba-tiba, 15 Oktober kemarin, usulan penurunannya langsung direvisi, tidak ke kategori Frontier Market tapi langsung ke Standalone Market. Menurut MSCI, saham Indonesia nggak ada perbaikan dan investor masih khawatir. Lah gimana nggak khawatir, Presidennya saja bilang orang main saham itu sama aja kayak main judi. Upsss.

Kalau keluar dari indeks MSCI, memang kenapa?

Pertanyaannya pun jadi bergeser, kira-kira apa efeknya kalau pasar saham Indonesia kategorinya Standalone Market?

Jadi dalam klasifikasi pasar saham, MSCI mengelompokkannya menjadi Developed, Emerging, dan Frontier. Sementara Standalone Market berdiri di luar kelompok indeks gabungan utama tersebut. Ini bisa diartikan bahwa Indonesia di-kick dari pengelompokan indeks MSCI.

Lah kenapa juga kalau di-kick? Toh bursa saham Indonesia tetap bisa beroperasi kan? Persoalannya ada pada aliran uang investasinya.

Jadi banyak pengelola dana internasional memakai indeks macam MSCI sebagai patokan. Bahkan, banyak yang menjalankan dana pasif miliknya melalui komposisi investasi berdasarkan indeks MSCI ini.

Jadi begini, misalnya ada perusahaan investasi asing punya dana kelolaan Rp10 triliun. Perusahaan itu mengikuti indeks MSCI Emerging Markets sebagai pedoman untuk menentukan saham negara mana saja yang perlu dibeli. Dalam daftar yang dimiliki MSCI, ada beberapa negara dengan bobotnya masing-masing, misalnya China 30 persen, Hongkong 25 persen, Vietnam 25 persen, India 15 persen, Malaysia 3 persen, dan Indonesia 2 persen. Negara ini hanya contoh ya.

Dari dana Rp10 triliun, 2 persen di antaranya yaitu sekitar Rp200 miliar ditempatkan pada saham-saham Indonesia. Masalahnya kalau Indonesia dikeluarkan dari kategori Emerging Markets, maka perusahaan yang sebelumnya punya saham senilai Rp200 miliar di saham-saham Indo, harus menjualnya lalu uangnya dialihkan ke negara lainnya.

Nigeria turun kelas, situasi pasar modalnya malah semakin sulit

Sekarang coba bayangkan kalau situasi itu tidak hanya dilakukan oleh satu perusahaan investasi, tapi banyak perusahaan sekaligus dan terjadi secara serentak? Maka banyak saham Indonesia lepas ke pasar.

Ketika investor menjual saham secara serentak, sementara pembelinya tidak banyak, maka harga saham akan jatuh semakin dalam. Tentu tidak mungkin dong berharap sama investor ritel keras teri macam saya yang beli sahamnya hanya recehan? Akibatnya, saham-saham Indonesia jadi gak bernilai. Iya sih murah, tapi gak laku di pasar global.

Efek dominonya, perusahaan yang saham-sahamnya ada di bursa efek pun jadi sulit mendapatkan modal tambahan dengan biaya terjangkau. Mereka harus menaikan premi risiko supaya investor mau membeli dan tidak menjual saham perusahaan. Akibatnya, biaya mereka jadi makin tinggi, kan?

Saya kasih contoh Nigeria yang punya pengalaman serupa. Pada Februari 2024, MSCI resmi menurunkan negara tersebut dari Frontier Market menjadi Standalone Market. Dampaknya langsung terlihat dari pasar sahamnya yang tertekan begitu dalam. Pada sembilan bulan pertama 2024, transaksi penjualan dan pembelian saham oleh investor asing di Bursa Nigeria terlihat timpang.

Lebih banyak yang jual yaitu mencapai 385,89 miliar naira, dari pada yang membeli, yaitu hanya 310,99 miliar naira. Dana asingnya lebih banyak yang keluar. Nilai kapitalisasi pasarnya pun mengecil dari sebelumnya 65,5 miliar dolar AS pada Juni 2023 menjadi 37,7 miliar dolar AS pada Juni 2024.

Jangan cuma nyuruh investor dalam negeri nyerok!

Risiko kehilangan tempat di MSCI nggak bisa dengan cara menyuruh investor untuk serak-serok. MSCI sudah kasih tenggat waktu untuk berkonsultasi hingga 30 April 2027 dan menjadwalkan keputusan paling lambat 30 Juni 2027. Dalam jangka waktu tersebut, yang harus berjalan adalah reformasi dalam seluruh aspek.

Contoh, negara yang berhasil memperbaiki pasar sahamnya adalah Arab Saudi. Sebelumnya negara ini masuk kategori Standalone Market dan menjadi Emerging Market pada 2018, negara itu memperluas akses investor asing, memperbaiki sistem penyelesaian transaksi, melakukan transparansi pengelolaan emiten, dan memperkuat tata kelola pasar. Bulgaria juga berhasil naik dari Standalone ke Frontier pada Juni 2026 setelah likuiditas serta infrastruktur perdagangannya membaik.

Memang Indonesia tidak bisa begitu saja menyalin kebijakan dari kedua negara tersebut. OJK, BEI, dan KSEI harus betul-betul mengikuti saran dari MSCI, yaitu memastikan pemilik manfaat akhir saham bisa dilacak, menindak transaksi terkoordinasi yang terbukti melanggar, memeriksa apakah free float benar-benar bebas diperdagangkan, serta menerbitkan laporan hasil pengawasan yang bisa diuji publik. Itu lebih baik daripada ketimbang ngomong serak-serok kepada publik untuk saham yang murah.

Saya jadi teringat, Presiden Prabowo pernah bilang bahwa Indonesia akan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar ke-4 di dunia, tapi mau jadi ekonomi besar gini, lah wong sekarang pasar sahamnya justru terancam terlempar dari kelompok pasar negara berkembang. Kalau mau serius jadi ekonomi terbesar keempat, harusnya kan naik jadi Developed Market (Pasar Maju), dong! Bukan begitu Pak Presiden?

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Gara-gara saya belajar saham, saya jadi paham kenapa orang tua lebih memilih investasi tanah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 Oktober 2026 oleh .

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.