Andai duit bukan masalah, saya mau merintis usaha katering rumahan

Andai duit bukan masalah, saya mau merintis usaha katering Mojok

Andai duit bukan masalah, saya mau merintis usaha katering (unsplash.com)

Saat kuliah S1, saya pernah diajak oleh kawan untuk ikut bekerja paruh waktu di sebuah usaha katering rumahan. Jadi usaha itu dimiliki oleh seorang ibu-ibu yang di dalamnya mempekerjakan warga sekitar. Jadi, tiap harinya, usaha tersebut mendistribusikan makan siang ke beberapa lokasi, mulai dari kampus (untuk dosen dan tenaga pendidik) hingga pabrik. Jumlah makanan yang diantar pun lumayan banyak. Setidaknya beberapa kloter untuk dua mobil sekali jalan.

Tugas saya waktu itu adalah membantu menata lauk ke dalam tempat makan, lalu setelah sudah siap, saya kemudian ikut mengantarkannya ke beberapa titik lokasi. Pengalaman itu membuat saya tahu bahwa usaha katering rumahan tampak sederhana dari luar tapi punya kompleksitas tersendiri.

Sejak pagi hari, dapurnya sudah riuh dengan suara koordinasi antar para ibu-ibu dan suara alat masak. Kemudian memastikan seluruh makanan dingin terlebih dahulu dengan tetap menjaga kebersihannya dari hinggapan lalat atau serangga. Nggak kalah mengkhawatirkan adalah ketika para pelanggan sudah menelpon berkali-kali ketika terjadi keterlambatan beberapa menit.

Meski begitu kompleks, usaha ini ternyata punya omset yang menjanjikan, setidaknya rata-rata Rp10-15 juta per harinya. Bahkan, ada satu momen ketika permintaan meningkat di beberapa tempat sekaligus, omsetnya menyentuh angka Rp20 juta per hari.

Mengetahui ini saya kemudian berangan-angan, jika saya tiba-tiba dapat uang Rp100 miliar, dan uang itu saya wajib gunakan semuanya, maka saya akan memilih membuka usaha katering rumahan ini dengan skala yang lebih besar. Sebab, dengan nominal sebesar itu, saya merasa sangat mungkin untuk membuka katering rumahan berskala industri dengan kapasitas produksi hingga ratusan porsi setiap harinya.

Begini saya mengalokasikan modal Rp100 miliar

Dari Rp100 miliar itu, sekitar Rp25 miliar akan saya manfaatkan untuk mengakuisisi lahan yang lebih luas dan membangun dapur katering yang terhubung dengan rumah. Di dalamnya digunakan untuk gudang bahan baku, ruang pengemasan, kantor, musala, dan tempat istirahat karyawan.

Sebesar Rp20 miliar akan saya pakai untuk membeli peralatan dapur, freezer, mesin, pengolah makanan, generator, serta sistem pengelolaan limbah. Kemudian Rp15 miliar dimanfaatkan untuk membeli kebutuhan distribusi seperti sepeda motor hingga mobil boks pendingin.

Kemudian, sebanyak  Rp10 miliar saya alokasikan untuk keperluan ketahan produksi mulai dari biaya bahan baku dan biaya perawatan katering. Selain itu digunakan untuk kemasan pada masa awal operasional. Selanjutnya untuk Rp10 miliar dialokasikan untuk gaji pegawai untuk beberapa bulan ke depan sebagai bantalan awal, pelatihan, seragam, dan kebutuhan pekerja lainnya. Sebesar Rp8 miliar saya gunakan untuk mengembangkan laboratorium mutu, sistem sanitasi, panel surya, dan pengolahan air agar ramah lingkungan. Selain itu saya gunakan juga untuk biaya promosi dan merek dagang.

Selain itu, Rp7 miliar berikutnya akan saya manfaatkan untuk modal kerja dari sisi perawatan, perizinan, pajak, dan biaya tak terduga. Kemudian Rp5 miliar sisanya adalah simpanan untuk mambackup segala kemungkinan di masa depan jika terjadi kegagalan operasional.

Bayangan saya, usaha katering ini tidak hanya mencakup pelayanan acara besar atau pabrik dengan puluhan hingga ratusan buruh, tapi juga menyediakan layanan makanan berlangganan untuk mahasiswa dan pekerja kantoran.

Menunya tentu tidak harus selalu mewah, hanya saja harus seimbang dan tidak aneh seperti halnya lele marinasi.

Tantangan usaha katering

Terlepas dari itu, modal Rp100 miliar bukan berarti tanpa masalah. Saya bisa jadi tetap akan menghadapi banyak persoalan klasik mulai dari bahan baku yang harganya fluktuatif, antisipasi terhadap komplain dari pelanggan soal makanan, hingga soal distribusi yang sering kali muncul dalam bentuk keterlambatan proses pengantaran. 

Dan, mungkin yang paling menantang adalah saat awal-awal harus berdarah-darah menawarkan produk-produk makanan dari ke cktering saya ke para calon pelanggan yang skalanya bukan perorangan, tapi institusi seperti kampus dan pabrik.

Meski begitu, saya akan tetap menjadikan katering sebagai pilihan. Sebab, dengan Rp100 miliar, saya mengembangkan usaha yang setidaknya pernah saya jalani sebagai karyawan. Terlebih lagi, saya pun punya teman yang jago soal masakan. Jadi saya tidak khawatir soal cita rasa.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Alasan orang bermodal Rp100 miliar lebih baik buka usaha laundry saja daripada bisnis yang lagi viral.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version