Anak terakhir perempuan sering dikira manja, padahal diam-diam punya keresahan yang tak kalah besar tentang keluarga

Anak terakhir perempuan sering dikira manja, padahal diam-diam menyimpan keresahan yang tak kalah besar tentang keluarga Mojok.co

Anak terakhir perempuan sering dikira manja, padahal diam-diam menyimpan keresahan yang tak kalah besar tentang keluarga (unsplash.com)

Sejak kecil saya familiar dengan ucapan orang-orang yang menyematkan titel manja kepada anak terakhir, terlebih anak terakhir perempuan. Saya pun salah satu dari banyaknya anak bungsu perempuan yang kena label itu. 

Banyak orang mengatakan, peran terenak di keluarga adalah menjadi anak terakhir. Kata mereka, apapun yang dimau si anak ragil pasti akan diwujudkan oleh orang tuanya.

Saya tak menampik bahwa saya sangat dekat dengan bapak dan ibu saya. Namun, itu bukan berarti menjalani peran sebagai anak bungsu artinya selalu bahagia dan bebas dari kegelisahan.

Anak terakhir harus balapan dengan usia orang tua

Kenapa sih anak terakhir itu terburu buru untuk cepat lulus sekolah, cepat dapat kerja, dan cepat menikah? Itu karena timeline hidup kami berkompetisi dengan usia orang tua yang semakin tua.

Saya melihat anak-anak bungsu di sekitar saya banyak yang memilih untuk menyerah pada keinginannya mengeksplor dunia. Banyak anak terkahir yang orang tuanya sudah pensiun ketika mereka masih sekolah atau kuliah. Nggak adanya lagi pendapatan dari orang tua memaksa mereka buru-buru lulus, nggak sempat berleha-leha, dan segera dapat kerja.

Ketika mencari kerja pun mereka memilih pekerjaan yang aman, berisiko kecil, dan kalau bisa sudah lengkap dengan dana pensiun. Mereka yang mungkin punya keinginan di bidang lain memilih untuk merelakan mimpi itu demi pekerjaan yang stabil.

Anak terakhir nggak punya waktu untuk gagal dan mengecewakan orang tua. Ibaratnya hidup kami sekarang sedang lomba sprint melawan umur orang tua. Gagal dan terseok sedikit saja bisa membuat kami kehilangan waktu yang signifikan dan tertinggal jauh.

Bagian yang paling sedih adalah ketika anak bungsu merasa belum jadi apa-apa, tapi mulai menyadari usia orang tua semakin tua. Ketika saya melihat uban rambut bapak saya semakin banyak dan keriput di wajah ibu saya yang juga makin kentara, rasanya hati saya seperti teriris.

Orang tua sudah semakin tua, jadi saya nggak mau merepotkan mereka. Justru sebisa mungkin giliran saya yang membantu orang tua. Minimal, bikin mereka tenang dengan menjalani hidup yang baik.

Anak bungsu harus terbiasa dengan sepi

Anak bungsu saat kecil hidup bersama kejahilan kakak-kakaknya. Rumah selalu ramai dengan gelak tawa maupun rengekan yang keduanya sama-sama disebabkan oleh candaan. Ada saja yang bikin ribut. Entah rebutan remote TV, ngambek karena makanan diambil, bahkan sekadar tempat duduk di depan TV saja bisa bikin ramai.

Akan tetapi, semakin beranjak dewasa, kami anak terakhir dipaksa untuk terbiasa dengan keheningan di rumah setelah kakak-kakak menikah dan punya keluarga masing-masing.

Sebagai anak bungsu perempuan yang akan menikah terakhir, saya sudah menyaksikan kakak-kakak saya mengemas barang-barang dan pindah ke luar kota mengikuti pasangannya setelah menikah. Meja makan dan sofa di depan TV yang tadinya terasa ramai kini terasa sepi, tinggal saya dan kedua orang tua.

Saya tak pernah terbiasa dengan momen ketika rumah kami tiba-tiba sepi kembali setelah kakak-kakak saya dan keluarganya pamitan untuk pulang ke rumah mereka saat libur sekolah. Saya juga nggak bisa mendeskripsikan perasaan kosong yang saya rasakan tiap kali melihat kasur dan karpet yang tadinya mereka pakai untuk tidur kini sudah rapi kembali.

Nggak pernah tenang hidup jauh dari orang tua

Saya baru pertama kali merantau ketika menempuh kuliah S2. Hampir seperempat abad saya habiskan di rumah yang sama di kota tempat saya lahir dan tumbuh dulu.

Saya harus mengungkapkan bahwa tinggal jauh dari orang tua itu nggak ada enak-enaknya. Saya bisa mengurus diri saya sendiri, tapi kedekatan emosional antara saya sebagai anak terakhir perempuan dengan orang tua memang nggak bisa dibohongi.

Selain itu, saya selalu khawatir pada bapak dan ibu saya. Mengingat saya yang kini mendampingi orang tua, bapak dan ibu banyak bergantung pada saya, khususnya terkait teknologi. Inilah yang bikin saya waswas.

Saya takut orang tua kesulitan kalau nggak saya temani. Saya juga takut orang tua kena tipu sebagaimana saya sering lihat kasus lansia menjadi korban penipuan karena nggak familiar dengan teknologi yang terus berkembang.

Belum lagi ketika saya mendengar berita-berita nggak mengenakkan ketika masih di luar negeri. Kejadian-kejadian seperti gempa bumi, angin kencang, dan pemadaman listrik bergilir bisa bikin saya nggak nyenyak tidur. Jika belum benar-benar memastikan bahwa orang tua saya baik-baik saja, saya pasti terus-terusan kepikiran.

Jujur, pernah terlintas di pikiran saya apakah keputusan saya S2 ke luar negeri dan nggak mendampingi orang tua adalah salah. Apalagi setelah beberapa orang bertanya mengapa bisa-bisanya saya tega meninggalkan orang tua, saya sempat merasa bersalah.

Walaupun rasanya sedikit plong sewaktu saya pulang ke Indonesia untuk liburan dan melihat orang tua baik baik saja, saya tetap was-was. Nanti kalau saya balik merantau lagi bagaimana dengan orang tua saya.

Peran apapun di keluarga tidak mudah, termasuk anak terakhir perempuan

Kini saya sadari bahwa peran apapun yang kita dapatkan dalam keluarga nggak akan pernah mudah. Semua peran punya keuntungan sekaligus tantangan masing-masing.

Anak terakhir perempuan yang selalu dicap manja pun menyimpan kegelisahan di hati. Saat beranjak dewasa, dibandingkan pembelaan dari orang tua saat bertengkar dengan kakaknya, ia kini mengemban banyak tanggung jawab dan harus terbiasa dengan sepi.

Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Anak pertama perempuan, peran yang paling melelahkan di dunia setelah jadi ibu.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version