Dipaksa “matang” duluan
Tidak seperti buah yang ranum alami karena perpaduan asupan nutrisi dan lingkungan yang baik, nasib anak pertama perempuan justru sebaliknya. Mereka ibarat buah yang dipetik mentah-mentah sebelum waktunya. Kemudian, diperam paksa di dalam timbunan beras. Dari luar, siap dikonsumsi. Orang-orang yang hanya menilai dari kulitnya tentu akan langsung melontarkan pujian.
Kondisi tersebut mirip dengan label kedewasaan prematur yang kerap disematkan dan diromantisasi pada anak perempuan sulung. Bungkusnya tampak mandiri, tenang, dan bijaksana. Padahal, jika dibelah, rasa manisnya belum sepenuhnya merata.
Kematangan mental seorang anak perempuan sulung terbentuk bukan karena usia kognitifnya sudah sampai. Mereka dipaksa melunak oleh keadaan dan segudang tanggung jawab, bukan lewat proses tumbuh kembang yang rileks dan merdeka.
Sosok sulung mungkin selama ini terlihat begitu tangguh di luar, bisa mendadak runtuh, rapuh, dan gampang tersinggung saat mendapat tekanan sekecil apa pun. Faktor ini juga yang diam-diam sering membuat seorang anak pertama perempuan sekaligus ibu menjelma menjadi pribadi berstatus sumbu pendek.
Banyak anak pertama perempuan sejak awal kehilangan hak paling dasarnya. Hak untuk dimanja, dilindungi, dan menjadi pusat perhatian keluarga. Belum sempat mereka selesai memberesi emosi masa kecilnya sendiri, bahu mereka sudah keburu dibebani mandat.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.














