The world is full of surprises
But there’s always a happy tomorrow
Like the colors of a rainbow
We will shine, we will shine
Kalau kalian membaca kalimat tersebut dengan bernada, fix, kalian adalah korban dari cuci otak iklan televisi. Kalian tahu betul bahwa kalimat itu bukan sembarang kalimat, tapi jingle dari salah satu tempat les populer, Kumon.
Sebagai tempat les, kehadiran Kumon memang mencuri perhatian. Ini bukan semata soal jingle-nya yang mudah didengar. Apalagi soal logonya yang dianggap menggambarkan ekspresi wajah murid-murid di sana. Tapi, ini juga soal bagaimana tempat les ini membentuk kultur belajar yang berbeda dengan tempat les lainnya.
Itu sebabnya, banyak orang tua yang memilih Kumon untuk tempat belajar putra-putri mereka. Bahkan, ada yang anaknya masih usia pra-sekolah, SD saja belum, sudah didaftarkan ke Kumon. Tentu keputusan ini tidak akan orang tua ambil tanpa didasari adanya kepercayaan terhadap lembaga tersebut.
Meski demikian, tidak sedikit pula orang tua yang enggan anaknya les di Kumon. Kira-kira kenapa, ya? Bukannya Kumon itu bagus?
#1 Biaya les di Kumon dianggap mahal
Dalam banyak hal, uang sering kali jadi pertimbangan. Tak terkecuali mendaftarkan anak ke Kumon. Bagi sebagian orang tua, biaya les di Kumon dianggap lebih mahal dibanding tempat les lain.
Sebagai perbandingan, biaya les per bulan di Kumon (Jawa Tengah) adalah Rp430.000 untuk tingkat pra-sekolah hingga SD dan Rp480.000 untuk tingkat SMP-SMA.
Itu biaya untuk satu mata pelajaran saja ya. Misal, kamu mau ambil les bahasa Inggris, Matematika, dan bahasa Indonesia, biaya tadi tinggal kalikan 3 menjadi alias sekitar Rp1,9 juta per bulan. Btw, harga tersebut belum termasuk biaya pendaftaran sebesar Rp300.000 ya.
Di tempat les lain, dengan harga Rp480.000 per bulan, anak sudah bisa mendapat bimbingan belajar untuk 3 mata pelajaran atau bahkan semua mata pelajaran yang ada di sekolahnya. Secara hitung-hitungan matematika, jelas les di tempat lain lebih menguntungkan daripada di Kumon.
#2 Durasi les di Kumon yang terlalu singkat
Apabila biaya tak jadi persoalan, biasanya orang tua urung mendaftarkan anaknya di Kumon atau berhenti di tengah jalan karena tidak cocok dengan durasi lesnya yang terlalu singkat. Di Kumon, durasi les untuk siswa level awal rata-rata hanya sekitar 30 menit. Kebetulan, kondisi ini bisa berlangsung selama 3 bulan, bahkan lebih.
Pernah saya baca keluhan seorang ibu. Dia bilang, anaknya datang les jam 10.30, kemudian jam 10.51 lesnya sudah selesai. Jelas ini jadi tanda tanya besar bagi sebagian orang tua. Apaan les cuma setengah jam? Geli-geli doang. Mungkin mereka berharap durasi lesnya bisa seharian kali, ya? Mengingat mereka sudah bayar mahal.
Padahal, durasi les Kumon itu menyesuaikan konsentrasi, usia anak, serta banyaknya materi atau lembar kerja yang harus dikerjakan pada hari itu. Nanti, akan ada masanya anak ditungguin kok lama banget nggak keluar-keluar, bahkan bisa sampai 1,5 jam. Cuma ya itu, tidak banyak orang tua yang mau sabar dengan proses.
#3 Terlalu banyak tugas
Hal lain yang membuat orang tua enggan memasukkan anaknya ke Kumon karena tempat ini memberikan banyak sekali tugas. Bahkan, di waktu liburan pun anak-anak masih disibukkan dengan banyak worksheet yang harus mereka kerjakan. Bagi anak yang tidak kuat secara mental, mereka pasti akan merasa tersiksa. Begitu pula jika orang tuanya tidak tegaan, pasti ada rasa ketakutan anaknya bakal stress.
Memangnya berapa banyak sih worksheet yang harus dikerjakan oleh anak Kumon?
Berdasarkan penelusuran, koreksi kalau saya salah, maksimal ada 10 worksheet yang harus dikerjakan setiap harinya. Tapi tentu saja bukan worksheet yang susah-susah banget ya. Nggak. Worksheetnya sudah disesuaikan dengan level anak-anak. Cuma, dengan adanya worksheet ini, orang tua mau nggak mau memang harus effort untuk rewel ke anak-anak supaya mereka rutin mengerjakan worksheet tersebut.
Nah, part kudu rewel ini mungkin yang dihindari oleh sebagian orang tua. Sudah bayar mahal-mahal, kok tetap harus repot? Pengennya itu kan terima beres.
#4 Tidak ada pendampingan PR
Terakhir, faktor yang menyebabkan orang tua tidak melirik Kumon adalah karena di Kumon tidak ada pendampingan untuk PR yang diberikan sekolah.
Memang, di Kumon, seluruh waktu dan lembar kerja di kelas murni didedikasikan untuk materi modul Kumon sendiri. Padahal, ekspektasi sebagian besar orang tua saat mendaftarkan anaknya ke tempat les adalah agar beban tugas harian dari sekolah formal ikut terselesaikan. Maklumlah, pelajaran anak hari ini memang seringkali terasa lebih kompleks, sehingga orang tua tidak bisa membantu untuk menyelesaikan PR tersebut.
Maka, bayangkan kalau anaknya les di Kumon. Sudahlah harus mengerjakan PR dari sekolah, ada puluhan worksheet dari Kumon pula. Menyala!
Itu dia 4 alasan orang tua enggan memasukkan anaknya les di Kumon. Kalau kamu jadi orang tua, mau memasukkan anaknya les di Kumon nggak? Apa alasannya?
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
