Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Alasan Orang Padang Nggak Pakai “Minangkabau” untuk Menamai Rumah Makan Padang

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
12 September 2022
A A
Alasan Orang Padang Nggak Pakai "Minangkabau" untuk Menamai Rumah Makan Padang rumah makan padang

Banyak pilihan lauknya (Connie Carolline/Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Satu yang saya suka ketika memasuki rumah makan Padang adalah suasana dan ruang makannya yang terang meski itu pada malam hari, sebagaimana penyebutan terang dalam bahasa Jawa yaitu “padhang”. Terang dari lampu-lampu yang dipasang biasanya nggak nanggung sehingga nggak tampak remang-remang. Selain itu, set up ruangan dari rumah makan Padang juga biasanya sangat rapi dan bersih, sehingga menambah kenyamanan saya selaku konsumen ketika menikmati menikmati makanan khas Minangkabau dari rumah makan Padang.

Tapi, bicara soal rumah makan Padang, pernah nggak sih kalian kepikiran kenapa rumah makan tersebut nggak menggunakan nama Minang? Padahal kuliner mereka kan kuliner khas Minang, kok yang dipakai malah nama Padang?

Penamaan ini nggak jarang memicu persepsi dari orang-orang di luar Sumatra. Mereka jadi menganggap bahwa Padang sebagai satu-satunya daerah asal dari suku Minangkabau. Padahal ya nggak juga.

Sebagai seorang penikmat masakan Padang, tentu saya jadi bertanya-tanya. Masalah nggak sepele ini, serius. Oke, kita bahas.

Apabila ditinjau dari aspek sejarah, terdapat beberapa versi dari asal usul penamaan rumah makan Padang. Di antaranya adalah yang dikemukakan oleh Suryadi Sunuri, peneliti dari Universitas Leiden, Belanda. Beliau mengatakan bahwa penyebutan nama restoran atau Rumah Makan Padang pertama kali ditemukan dalam iklan surat kabar yang terbit pada 1930-an.

Iklan tersebut mempromosikan sebuah restoran dengan nama Padangsch Restaurant (dalam penyebutan Belanda). Namun, penamaan tersebut tidak lantas diadopsi oleh orang Minang. Justru istilah lapau lebih kerap digunakan saat itu.

Pada abad ke-19, Padang menjadi daerah administratif Gouvernement van Sumatra’s Westkust yang berfungsi sebagai pusat aktivitas ekonomi. Seluruh hasil bumi yang diperoleh dari wilayah Sumatra Barat akan disalurkan terlebih dahulu ke Padang sebelum didistribusikan ke luar wilayah Sumatra, baik ke wilayah Indonesia maupun ke luar negeri.

Untuk menunjang penyaluran berbagai komoditas ekonomi dari seluruh daerah, kalangan kolonial kemudian membangun berbagai jalur distribusi di seluruh wilayah Sumatra Barat. Dalam setiap jalur yang menghubungkan berbagai daerah tersebut, dibangun semacam rest area yang disebut dengan “estape” (titik perhentian) dengan dilengkapi penginapan sekaligus “lapau” yang menghidangkan berbagai masakan khas Minangkabau. Jadi nama awalnya adalah lapau yang kalau diterjemahkan dari bahasa Minangkabau artinya tempat makan-minum.

Baca Juga:

Kalio Disangka Rendang Adalah “Dosa” Terbesar Orang Jawa di Rumah Makan Padang

9 Ciri Warung Nasi Padang yang Sudah Pasti Enak dan Bikin Balik Lagi

Penamaan rumah makan Padang sebenarnya baru mulai digunakan dan dikenal populer pada 1970-an. Penggunaan kata Padang adalah bagian dari upaya para perantau Minangkabau untuk menutupi identitas aslinya saat itu. Hal ini disebabkan karena citra buruk orang Minangkabau, gara-gara aksi pemberontakan PRRI di Sumatra Barat.

Pasca pemberontakan tersebut, pemerintah pusat berusaha menghilangkan semua elemen PRRI. Akibatnya, terjadi eksodus besar-besaran suku Minangkabau ke daerah lain, terbanyak ke pulau Jawa.

Mereka yang merantau kemudian mencoba menutupi identitas kesukuannya, termasuk dalam hal aktivitas ekonomi seperti berbisnis kuliner. Mereka yang membuka warung makan lebih memilih menggunakan istilah Padang ketimbang Minangkabau, hal ini untuk menghindari berbagai sentimen negatif yang mereka terima ketika berada di perantauan.

Terlebih, apabila ditinjau secara psikologi bisnis, istilah Padang yang digunakan terdengar lebih mudah diingat oleh para pelanggan. Eksistensi daerah Padang lebih dikenal ketimbang Minangkabau.

Selain itu, di Indonesia sangat jarang ada rumah makan yang menggunakan istilah kesukuan. Yang ada lebih banyak yang menggunakan nama daerah, misalnya warteg dan rumah makan Lamongan. Bahkan nama makanan sendiri pun lebih banyak menggunakan nama daerah seperti sate Madura dan soto Surabaya.

Saya mencoba meminta pendapat teman saya. Dia orang Jawa keturunan Padang, dan kebetulan punya paman yang buka usaha rumah makan padang. Dia dengan santai menjawab.

“Dari segi penyebutan saja nggak efisien banget di lidah. Rumah makan Minangkabau, susah. Nama adalah doa, jadi, seperti namanya, semoga pelanggan iku padang pikirane, atine, dan rezekine setelah makan di rumah makan padang.”

Jawaban yang sedikit nggatheli, tapi masuk akal juga.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi

Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Mempertanyakan Keaslian Rumah Makan Padang

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 12 September 2022 oleh

Tags: minangkabauPRRIrumah makan padang
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

4 Menu Rumah Makan Padang yang Sebaiknya Dihindari kalau Tidak Mau Menyesal Mojok.co

4 Menu Rumah Makan Padang yang Sebaiknya Dihindari kalau Tidak Mau Menyesal

11 Agustus 2025
Perbedaan Rumah Makan Padang Jogja vs Medan yang Bikin Kaget: Rasanya Manis dan Penyajiannya Prasmanan, kek Mana Ini? warung padang murah, warung makan padang

Perbedaan Rumah Makan Padang Jogja vs Medan yang Bikin Kaget: Rasanya Manis dan Penyajiannya Prasmanan, kek Mana Ini?

6 Agustus 2024
9 Ciri Warung Nasi Padang yang Sudah Pasti Enak (Hammam Izzuddin)

9 Ciri Warung Nasi Padang yang Sudah Pasti Enak dan Bikin Balik Lagi

6 Oktober 2025
Kesalahan Penjual Nasi Padang yang Bukan Orang Minang Asli, Rasanya Cuma Bikin Kecewa

Kesalahan Penjual Nasi Padang yang Bukan Orang Minang Asli, Rasanya Cuma Bikin Kecewa

16 Februari 2024
Rumah Makan Padang yang Tidak Otentik Bukan Dosa (Unsplash)

Rumah Makan Padang yang Tidak Otentik Bukan Dosa, Tidak Perlu Dirazia apalagi Dilarang Jualan

30 Oktober 2024
7 Dosa Rumah Makan Padang yang Bikin Pelanggan Kapok Balik Lagi

7 Dosa Rumah Makan Padang yang Bikin Pelanggan Kapok Balik Lagi

23 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tidak Ada Nasi Padang di Kota Padang, dan Ini Serius. Adanya Nasi Ramas! angkringan

4 Alasan Makan Nasi Padang Lebih Masuk Akal daripada Makan di Angkringan  

11 Januari 2026
4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang "Kalah" dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar Mojok.co

4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang “Kalah” dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar

11 Januari 2026
Jalan Daendels Jogja Kebumen Makin Bahaya, Bikin Nelangsa (Unsplash)

Di Balik Kengeriannya, Jalan Daendels Menyimpan Keindahan-keindahan yang Hanya Bisa Kita Temukan di Sana

13 Januari 2026
Sisi Gelap Dosen Swasta yang Jarang Dibicarakan Orang

Sisi Gelap Dosen Swasta yang Jarang Dibicarakan Orang

12 Januari 2026
5 Camilan Private Label Alfamart Harga di Bawah Rp20 Ribuan yang Layak Dibeli Mojok.co

5 Camilan Private Label Alfamart Harga di Bawah Rp20 Ribu yang Layak Dibeli 

13 Januari 2026
Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas Mojok.co

Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas

14 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • 2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup
  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.