Informasi
ADVERTISEMENT

Alasan Lupis Legendaris Mbah Satinem Jogja Cukup Dikunjungi Sekali Aja

Alasan Lupis Legendaris Mbah Satinem Jogja Cukup Dikunjungi Sekali Aja Mojok.co

Gula Jawa yang dicolek diam-diam

Pesanan saya selesai. Seporsi lupis dan cenil dengan siraman gula jawa cair. Harganya Rp10.000. Catatan penting, lapak Lupis Mbah Satinem hanya menerima pembayaran tunai. Saya tidak lupa memotret dulu. Ada rasa bersalah yang besar kalau tidak mendokumentasikannya karena ada perjuangan di balik seporsi lupis ini. 

Sebelum menyantap, saya tergoda mencicipi gula merahnya dulu. Dengan ujung jari, saya colek sedikit cairan kental itu dan saya jilat. Manisnya pekat, tapi ada sedikit hint pahit.

Dalam porsi Lupis Mbah Satinem, saya mendapat dua potong lupis dan beberapa cenil mungil. Jujur saja, untuk harga Rp10.000, saya bisa mendapatkan porsi yang lebih banyak di penjual lain. Ini fakta yang sulit dibantah, terutama bagi dompet yang sudah lama dididik untuk selalu membandingkan harga.

Baca juga Bakmi Jawa di Jogja Tidak Semuanya Memuaskan, Wisatawan Sebaiknya Bisa Bedakan yang Enak dan Biasa Saja.

Enak, tapi sekali saja cukup

Suapan pertama lupis langsung mengantar saya pada rasa klasik jajanan pasar berbahan beras ketan. Teksturnya lembut, berpadu pas dengan gula jawa cair. Rautan gula kelapa di atasnya menambah tekstur sekaligus aroma yang khas. Cenilnya kenyal, tidak keras, dan nyaman dikunyah. Semuanya terasa pas, tidak berlebihan.

Tidak butuh waktu lama untuk menghabiskannya. Porsinya kecil, titik. Dan di sini saya harus jujur kalau ulasan Google Maps tidak sepenuhnya salah. Harganya memang terasa sedikit terlalu tinggi untuk ukuran porsi yang mini. Namun, soal rasa, Lupis Mbah Satinem jelas punya kualitas.

Saya bisa memahami kenapa orang-orang tetap datang dan rela mengantre. Banyak pembelinya berasal dari luar Jogja, mencari pengalaman kuliner legendaris sebagai bagian dari petualangan wisata. Tapi bagi orang Jogja asli, apalagi yang hidup dengan prinsip mendang-mending seperti saya, Lupis Mbah Satinem rasanya akan dikunjungi sekali saja sekadar menuntaskan rasa penasaran. Atau paling banter dua kali, kalau suatu pagi saya benar-benar kepengin dan sedang ingin berdamai dengan logika dompet. 

Penulis: Wahyu Tri Utami
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Gudeg Sagan: Gudeg Jogja yang Ramah bagi Lidah Wisatawan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 Januari 2026 oleh .

Wahyu Tri Utami

Pembaca buku, penonton film, penulis konten. Sesekali jadi penyelam andal (di internet, bukan di air).