Alasan Kota Pekalongan Layak Jadi Kota Bisnis

Panduan Membedakan Kota dan Kabupaten Pekalongan biar Nggak Salah Lagi! Terminal Mojok

Kemarin saya iseng mengetik keyword “kota bisnis di Indonesia” di mesin pencari nomor satu di dunia. Hasilnya, pada pencarian paling atas, muncul daftar rekomendasi kota-kota yang layak sebagai destinasi bisnis. Di antaranya Semarang, Bandung, Yogyakarta, Palembang, dan tentu saja Jakarta. Oleh karena nggak ada Kota Pekalongan di sana, saya pun mengubek-ubek website lain. Barangkali daftar tadi itu belum di-update. Sebab saya pikir, mana mungkin kota ini nggak masuk daftar.

Dan benar saja. Setelah saya mengelilingi dari satu portal ke portal lainnya, sama sekali nggak ada yang menyebut bahwa Pekalongan layak menjadi kota bisnis. Muntab saya, kok bisa-bisanya nggak ada satu pun media online yang menyebutkan kota ini cocok dan strategis buat bisnis.

Curiga saya, DNA Pekalongan sebagai kota bisnis tak bisa terbaca dengan baik. Ya mungkin karena bayangan orang-orang di luar sana, Pekalongan adalah kota kecil. Yang menjadi kekuatan Pekalongan mungkin cuma dilewati jalur Pantura, itu saja. Selebihnya kota ini memang nggak terkenal-terkenal amat, apalagi soal bisnis.

Padahal Pekalongan itu mau bagaimanapun memang patut diperhitungkan sebagai kota bisnis. Ditinjau dari berbagai sudut pun memang begitulah kenyataannya. Nilai-nilai bisnis sudah melekat kuat di masyakarat kota ini.

Sebagai putra daerah, dan sebagai orang yang selalu berprasangka baik kepada Walikota Pekalongan, saya rasa perlu untuk memberikan semacam alasan bahwa kota ini begitu cocok menjadi kota bisnis.

Banyaknya pelaku bisnis

Kita sudah sangat fasih menyebut Jakarta adalah kota bisnis dengan gedung-gedungnya yang tinggi-tinggi. Kita juga mengenal Jogja sebagai kota yang banyak sekali pedagang dan pengusaha. Walaupun mungkin kita cuma mengukurnya dari apa yang kita lihat di Malioboro. Begitu pula dengan kota-kota bisnis.

Asal kalian tahu saja, di Pekalongan kalau mau cari pelaku bisnis banyak banget. Bahkan tanpa perlu keluar rumah, cukup dengan membuka linimasa Facebook kalian bisa menemukannya. Lha gimana coba itu?

Saking banyaknya, pelaku bisnis di kota kelahiran saya ini telah sampai ke taraf untuk mudah ditemukan. Di Pekalongan, kalau ada satu bisnis mati, tumbuh ratusan bahkan ribuan pebisnis lainnya. Pebisnis di kota ini bakal beregenerasi.

Kalian mau cari PT atau CV di Kota Pekalongan? Beuh… Banyak banget, bahkan perusahaan yang nggak punya kantor pun bisa kalian temukan.

Dalam sebuah obrolan, saya pernah mendengar bahwa ada orang yang memegang lebih dari satu PT. Dan itu nggak ada kantornya semua. Hebat to?

Tak cukup di situ, pelaku-pelaku bisnis juga sampai ke sudut-sudut terkecil di kota ini. Satu kampung saja misalnya, belasan toko kelontong dan warung berderet. Hebatnya, CEO masing-masing kelontong atau warung tersebut punya semacam strategi jualannya sendiri.

Jika kriteria kota bisnis itu harus banyak pelaku bisnisnya, jelas Kota Pekalongan sangatlah layak mendapat anugerah tersebut. Kalau soal banyak saingan, itu bisa diurus belakangan. Toh, kota-kota bisnis lain juga gitu.

Obrolannya selalu bisnis

Barangkali satu-satunya hal yang sangat sulit dihindari saat ngobrol bareng orang-orang Kota Pekalongan adalah bisnis. Segala sesuatu yang menyangkut bisnis selalu menjadi obrolan di tiap-tiap tongkrongan. Coba saja kalau kalau kalian mau membuktikan, datang ke sebuah kafe di Kota Pekalongan.

Nggak usah ikut nimbrung. Cukup duduk manis pesen es teh—kalau nggak mampu beli latte, dan silakan menguping. Pasti kalian akan mendengarkan sekelompok orang tengah ngobrolin bisnis.

Saya yang warga asli sudah sangat sering mengalaminya. Bahkan masuk ke dalam sirkel obrolan tersebut. Entah kenapa, saat memulai obrolan selalu ada yang nyeletuk gini “Ejiannn… Saiki sibuk duite akeh kie ooo…” (Gilaaa… Sekarang sibuk nih ya, uangnya banyak ya…).

Atau ada pula yang langsung to the point nyamber dengan pernyataan “aku rampung garap proyek nganu” atau malah pertanyaan “ono proyek (kerjaan) opo ke bos?” Setelah itu, obrolan yang sebenarnya dari awal nggak membahas bisnis bisa mendadak ngomongin proyek.

Itu bukti bahwa hal-hal yang menyangkut dunia usaha sudah masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Kota Pekalongan. Tentu saja hal ini membahagiakan, sebab Kota Pekalongan pada akhirnya bisa masuk ke dalam bursa kota bisnis.

Saya yakin sekali, investor akan dengan mudah menjalin kerjasama dengan pengusaha-pengusaha di Kota Batik. Semua pengusaha, termasuk boleh jadi pengusaha yang sambil kerja freelance di kantor pemerintah daerah. Nggak perlu khawatir, ini justru berpeluang membuka lapangan pekerjaan.

Penak to? Kalian-kalian yang baru lulus kemarin-kemarin itu nggak mau kerja apa? 

Orangnya pandai menjual barang

Kira-kira apa yang membuat Kota Pekalongan terkenal dengan sebutan Kota Batik? Sampai-sampai Google pun mengamini itu? Sedangkan batik bukanlah barang eksklusif kota ini. Soalnya Jogja dan Solo juga punya batik, terkenal pula.

Inilah bukti kecerdasan intelektual masyarakat Kota Pekalongan dalam urusan bisnis. Sehingga mampu menguasai pasar batik di Indonesia. Apabila kalian ragu, boleh cek di beberapa kota. Kemungkinan besar pedagang batik di kota-kota tersebut adalah orang Pekalongan. Jika bukan, berarti kulakan batiknya yang dari Kota Pekalongan.

Masyarakat Kota Pekalongan sangat piawai menjual batik. Mulai dari harga yang sukar dinalar orang kaya, sampai harga yang sulit dipercaya orang melarat sekalipun. Jadi jangan main-main sama orang Pekalongan.

Kalau kalian pikir sudah menjual batik dengan harga yang murah, sangat murah, dan yakin bakal laku, orang-orang di tempat saya bisa menaruh harga lebih murah daripada itu. Pun sebaliknya, tapi apa ada yang berlomba-lomba mahalin harga?

Tentu batik hanyalah contoh kecil kehebatan orang Pekalongan dalam dunia bisnis. Masih banyak lagi, dan karena sangat berjebah maka nanti bakal kepanjangan kalau saya ceritain semuanya.

Alasan-alasan tadi saya rasa sangat cukup untuk menyebut Kota Pekalongan adalah kota bisnis. Kalau ini sampai diakui oleh seluruh masyarakat Indonesia, begitu bangganya saya. Maklum selama ini, secara otoritatif yang mengakui Kota Pekalongan adalah kota bisnis cuma pemerintah daerahnya saja, je. 

Sumber Gambar: javatravel.net

BACA JUGA Panduan Membedakan Kota dan Kabupaten Pekalongan biar Nggak Salah Lagi! dan tulisan Muhammad Arsyad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
Exit mobile version