Kalau bicara donat, anak-anak generasi sekarang mungkin lebih akrab dengan donat merek J.CO. Maklum, donat J.CO memang sedang berada di puncak kejayaannya. Selain gerainya di mana-mana, donat ini juga dianggap lebih lembut, lebih fluffy, lebih variatif ketimbang donat yang lain. Situasi ini jelas mengancam salah satu “pemain donat” yang jauh lebih senior. Iya, Dunkin’ Donuts.
Selama bertahun-tahun, Dunkin’ Donuts benar-benar jadi top of mind ketika bicara soal donat. Benar-benar kayak nggak ada yang lain. Kalau mau donat yang enak, ya Dunkin’ Donuts. Raja donat lah. Tapi semua itu perlahan hilang ketika muncul merek donat lain, termasuk J.CO. Makanya ketika J.CO sudah sebesar ini, yang ada di pikiran saya cuma, “Wah, kayaknya Dunkin’ Donuts mati deh habis ini.”
Namun ternyata saya keliru. J.CO memang berjaya, tapi kejayaannya belum mampu “membunuh” Dunkin’ Donuts. Dunkin’ memang nggak seramai dan sejaya dulu. Gerainya bahkan sepi kayak nggak ada pelanggan yang datang. Tetapi mereka masih bertahan. Mereka masih berdiri tegak dan ada di mana-mana. Gara-gara ini saya jadi penasaran, kira-kira kenapa Dunkin’ masih bertahan meski kelihatannya sepi pelanggan.
Baca juga: 5 Donat Paling Enak di Indonesia.
#1 Kebanyakan beli take away
Alasan paling masuk akal mengapa Dunkin’ Donuts masih bertahan meski gerainya kelihatan sepi karena ada perubahan pola konsumsi. Dulu, orang pergi ke sana untuk makan donat sambil nongkrong. Dine in gitu lah. Tetapi sekarang orang-orang memilih untuk take away dan makan donat di rumah atau di kantor buat makanan resign.
Selain itu, ada perbedaan orang yang dine in dan take away. Kalau kita perhatikan, orang yang pergi ke gerai Dunkin’ Donuts buat dine in pesannya nggak banyak. Katakanlah tiap dua orang memesan 4-6 donat dengan dua minuman. Tapi kalau take away, mereka bisa pesan lebih banyak. Mereka bisa saja memesan 2-3 kotak berisi selusin donat plus minuman untuk 7-8 orang di rumah atau kantor, misalnya. Hitungannya tetap banyak.
Inilah mengapa Dunkin’ Donuts masih bertahan. Sesederhana karena yang beli masih ada. Memang nggak kelihatan karena belinya take away atau online, tapi ya masih ada yang beli. Makanya mereka bertahan sampai sekarang.
#2 Gerai yang banyak, yang “membagi” pasar, sehingga kelihatannya sepi terus
Selain alasan perubahan pola konsumsi, alasan lain mengapa Dunkin’ masih bertahan meski gerainya sepi pelanggan ya karena jumlah gerainya terlalu banyak sehingga pasarnya “terbagi”. Agak aneh dan membingungkan, ya? Tapi nggak apa-apa, saya bakal coba jelasin dengan sederhana.
Kalau kita amati, gerai Dunkin’ ini makin banyak. Di beberapa pom bensin yang saya jumpai pasti ada gerainya. Nggak besar, tapi ada.
Nah, gerai yang banyak ini jelas membagi pasar. Contohnya, di satu kota kecil dulunya ada satu gerai Dunkin’ Donuts. Katakanlah pelanggannya 300 orang per hari. Lalu di kota sama, beberapa tahun kemudian, ada 4 gerai Dunkin’ yang baru.
Sekarang di kota kecil tersebut ada 5 gerai Dunkin’. Akhirnya dari 300 pelanggan yang tadinya terpusat pada satu gerai saja, kini terbagi ke 5 gerai. Artinya, saat ini satu gerai hanya melayani 60 pelanggan per hari. Kelihatan lebih sepi, kan? Ya memang. Tetapi total pelanggannya masih sama dan hitung-hitungan bisnisnya masih aman. Cuma kelihatan sepi.
#3 Dunkin’ Donuts masih punya pelanggan setia
Balik lagi ke alasan paling sederhana mengapa Dunkin’ Donuts masih bertahan meski gerainya kelihatan sepi, ya karena mereka punya pelanggan setia. Di Indonesia, Dunkin’ sudah ada sejak tahun 1985. Sudah lama banget. Jika dibandingkan kompetitornya, J.CO yang baru ada 2005, jaraknya 30 tahun, lho.
Nah, selama puluhan tahun di Indonesia Dunkin’ nggak mungkin nggak punya pelanggan setia. Pasti banyak. Orang-orang yang lidahnya selama bertahun-tahun dimanjakan dengan donat Dunkin’ mungkin nggak cocok jika dikasih J.CO atau donat lain. Namanya juga pelanggan setia, mereka pasti nggak akan membelot ke kompetitior.
Bagaimanapun mereka akan kembali pada Dunkin’ Donuts, apa pun yang terjadi. Dan para pelanggan setia inilah yang bikin Dunkin’ tetap eksis sampai sekarang.
#4 Nama Dunkin’ Donuts terlalu besar untuk buru-buru mati
Lagi pula Dunkin’ terlalu besar untuk mati sekarang. Kayaknya banyak yang belum rela kalau Dunkin’ harus mati sekarang hanya karena kalah sama kompetitor atau karena usianya terlalu tua dan sudah nggak relevan.
Nggak, Dunkin’ nggak boleh mati dulu. Gerainya masih banyak, pelanggan setianya juga masih banyak. Donat mereka juga masih enak, kok.
Jadi, nggak ada alasan bagi Dunkin’ Donuts untuk pergi dari sini atau bahkan tutup di tengah persaingan ketat donat saat ini. Mereka harus tetap ada meski mungkin kelihatan sepi. Saya yakin, bakal banyak orang yang sedih dan nggak rela kalau Dunkin’ nggak ada.
Penulis: Iqbal AR
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA Sulitnya Menjadi Penyuka Dunkin’ Donuts Di Antara Banyaknya Penggemar J.CO.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
