Alangkah Kesalnya kalau Ada Orang Minta Diajarin Nulis tapi Dia Pemalas

Alangkah Kesalnya Kalau Ada Orang Minta Diajarin Nulis Tapi Dia Pemalas terminal mojok.co

Alangkah Kesalnya Kalau Ada Orang Minta Diajarin Nulis Tapi Dia Pemalas terminal mojok.co

“Mas, saya diajarin nulis, dong! Saya ingin jadi penulis.”

“Kamu setiap hari suka nulis, gak?”

“Nggak, sih, Mas.”

Pertanyaan yang sering saya temui beberapa tahun terakhir: gimana cara nulis yang bagus hingga trik dimuat di media. Barangkali mereka berpikir bahwa menulis bisa dipelajari dalam waktu satu malam. Tidak, tidak sama sekali. Menulis bukan sistem aplikasi otomatis yang tinggal enter langsung jadi melainkan butuh proses yang tidak sebentar.

Menulis itu gampang. Tapi, prosesnya yang sulit. Saya ingin berbagi pengalaman bagaimana jiwa menulis itu tidak serta merta langsung jadi seketika. Bukan sehari minta diajarin nulis, besoknya sudah bisa.

Proses saya dimulai pada 2009 ketika saya masih kelas 2 SMP. Saya ingat betul waktu itu saya menulis puisi yang judulnya “Puisi”. Saya menulisnya di selembar kertas buku, kemudian saya robek dan saya masukkan ke kotak karya majalah dinding milik tetangga saya. Puisi itu dimuat, dan saya senang sekali melihatnya terpampang.

Sejak saat itu, semangat saya menggebu-gebu. Saya tidak hanya menyetor puisi, tapi juga artikel. Namun, beberapa bulan kemudian majalah dinding itu tutup. Saya kecewa, tiada lagi wadah untuk menelurkan tulisan-tulisan saya. Bahkan sampai SMA sekalipun, saya hanya menulis untuk koleksi pribadi.

Nah, baru pada 2014, saya bertemu seorang kakak senior yang juga kuliah di Jogja. Dia sudah mahir menulis puisi. Sebut saja Selendang Sulaiman. Dialah yang selalu memberikan kritik terhadap puisi-puisi saya. Setiap hari saya menulis puisi dan sesekali dikirim ke koran-koran lokal.

Sepanjang 2014, saya sering mengirim tulisan ke media tapi berakhir nahas. Tidak ada satu pun puisi saya yang dimuat, sampai saya sendiri hampir putus asa. Namun, kekecewaan itu dibalas ketika pada 2015, saya mendapat kabar dari Selendang Sulaiman mengenai puisi saya yang dimuat di Koran Radar Surabaya. Senangnya minta ampun, saya seperti ketiban uang triliunan rupiah. Padahal, hanya dimuat dan tidak ada honor sama sekali. Saya tidak peduli, yang penting puisi saya sudah nampang di media setelah satu tahun lamanya menunggu.

Saya terus menulis setiap hari, bahkan kadang-kadang menulis berita acara yang juga dimuat di Tribun Jogja. Ada kalahnya saja diajarin nulis oleh “keadaan”. Tapi, soal puisi, baru dimuat lagi pada 2016 oleh Koran Media Indonesia. Kabar itu datang dari orang tak dikenal yang mengirim pesan melalui Facebook. 

Hari itu juga saya mencari Koran Media Indonesia daerah Jogja dan ketemu. Bayangkan, puisi-puisi yang saya kirim ke berbagai media selama jangka waktu satu tahun itu apa kabar? Hampir setiap hari saya cek email pemberitahuan dan tidak ada satu pun yang masuk. Tapi, saya senang dan mulai menerima bahwa nasib penulis pemula memang seperti itu.

Saya telepon Selendang Sulaiman dan bertanya mengenai cara mendapatkan honornya dari Media Indonesia. Dia mengirimkan nomor telepon pihak Media Indonesia, kemudian nomor itu saya hubungi dengan bekal pulsa Rp15 ribu. Bukannya langsung dapat, pihak Media Indonesia meminta saya menghubungi pimpinan redaksinya. Saya pun beli pulsa lagi Rp15 ribu lagi. Saya diminta menunggu selama 1 minggu ke depan. Akhirnya honor cair juga, Rp500 ribu, dua kali lipat karena puisi saya dimuat dua pekan berturut-turut.

Kembali, pada 2017 puisi saya dimuat di Koran Minggu Pagi, koran lokal yang ada di Yogyakarta. Saya mendapat kesenangan yang serupa, tapi mulai terpikir di benak saya, Minggu Pagi honornya cuma Rp75 ribu, itu pun harus saya jemput ke kantor Koran Kedaulatan Rakyat. Belum lagi media itu tidak pernah mengirim pemberitahuan. Kalau gini terus, gimana caranya aku kaya dari hobi menulis?

Sejak itulah proses menulis saya mulai lamban dan mulai berkeliaran mencari muara yang bisa menjamin biaya hidup. Saya pun mengeluh kepada Rusydi Tolareng yang juga menjadi mentor saya sejak 2016. Dia mengatakan, “Pada akhirnya semua penyair akan seperti itu, Nir. Mereka akan mulai memikirkan kehidupan duniawi, bisnis, dan hal lain yang berkaitan dengan uang. Tapi untuk ke sana memang butuh proses, butuh kompetensi untuk layak mendapatkan semua itu.”

Sadar akan proses yang begitu sulit dan tidak sebentar itu, saya mulai kesal dengan orang-orang yang suka bertanya cara menulis yang bagus dan minta diajarin nulis, tetapi mereka sendiri tidak rajin menulis setiap hari. Memang menulis itu bukan profesi, melainkan condong kepada hobi dan keahlian. Maka yang namanya “penulis” berarti orang yang menjadi pelaku dari kata “menulis”. Hobi menulis setiap hari itulah yang akan membawa setiap orang menjadi seorang penulis.

Kalau kata senior saya, “Semua penyair yang puisinya bagus dan terkenal, pasti memiliki puisi yang paling jelek.” Itu masuk akal, pada dasarnya mereka berproses dari awal, dari yang tidak bisa menulis sama sekali. Tulisan jelek bukanlah alasan untuk berhenti menulis dan berhenti berproses. Ini adalah awal menuju ketajaman jiwa kepenulisan. Minta diajarin nulis oleh penulis terkenal sekalipun tidak bisa jadi jalan pintas yang menjamin kita semakin andal.

Jadi, untuk yang sering nanya dan minta diajarin nulis sama saya, mending kalian banyakin ngopi deh! Atau, sering-sering aja putus cinta dan sakit hati biar rajin “curhat” lewat tulisan.

BACA JUGA Seni Menghadapi Harta Dunia Melalui Peribahasa Madura Asel Ta’ Adina Asal dan artikel Terminal Mojok lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Exit mobile version