Aku Cinta Kartasura, kecuali Saat Hujan, Pasti Banjir!

Aku Cinta Kartasura, Kecuali Saat Hujan, Pasti Banjir!

Aku Cinta Kartasura, Kecuali Saat Hujan, Pasti Banjir!

Aku sebenarnya nggak punya masalah sama Kartasura. Tempatnya hidup. Makan gampang. Kos-kosan rapat. Segalanya dekat. Cocok buat mahasiswa yang dompetnya sering pura-pura kuat padahal aslinya ngos-ngosan. Tapi semua rasa cinta itu langsung diuji setiap kali hujan turun lebih dari lima belas menit. Terutama di sekitar UIN Raden Mas Said.

Entah kenapa, hujan di Kartasura punya efek domino yang cepat. Langit baru gelap dikit, gerimis belum niat, eh jalan sudah berubah fungsi. Dari akses kendaraan menjadi kolam rendam kaki. Air naik pelan-pelan, lalu tiba-tiba sudah melewati mata kaki, seolah-olah ada kesepakatan tak tertulis antara hujan dan jalanan: “Yaudah, kita banjirin aja sekalian.”

Yang bikin menarik, banjir di Kartasura ini bukan banjir besar yang masuk berita nasional. Bukan juga banjir yang bikin orang dievakuasi pakai perahu. Ini banjir versi sehari-hari. Banjir yang cukup untuk bikin motor ragu, pejalan kaki pasrah, dan mahasiswa mikir dua kali antara lanjut atau putar balik.

Aku sering lihat sendiri orang-orang berhenti di ujung jalan, menatap genangan air dengan ekspresi penuh pertimbangan hidup. Bukan karena takut basah, tapi karena nggak tahu sedalam apa. Soalnya di Kartasura, air yang kelihatan tenang itu sering menyimpan kejutan. Tiba-tiba ada lubang. Tiba-tiba ada selokan yang nggak kelihatan. Dan tentu saja, sepatu basah total dan nyesel datang ke kelas.

Gang berubah jadi sungai mini

Di sekitar kosku juga nggak kalah dramatis. Gang-gang kecil berubah jadi sungai mini. Air memenuhi jalan seolah saluran air cuma formalitas belaka. Kalau dipikir-pikir, ini bukan soal hujan deras. Ini soal air yang nggak punya tempat pergi.

Saluran mampet, ukurannya kecil, atau memang dari awal nggak disiapkan buat nampung hujan yang agak serius. Akhirnya, air meluap ke jalan. Jalanan yang seharusnya jadi fasilitas umum malah jadi korban pertama setiap kali awan mendung lewat.

Lucunya, semua ini sudah jadi pengetahuan bersama. Orang Kartasura tahu. Mahasiswa tahu. Warga kos tahu. Makanya kalau hujan, refleksnya bukan nyari payung, tapi nyari jalan alternatif.

Masalah menahun di Kartasura

Kartasura punya banyak jalan kecil yang berkelok, tapi saat hujan, jalan-jalan itu berubah jadi teka-teki. Salah belok sedikit, bisa ketemu genangan yang bikin kamu mikir ulang soal takdir. Jadi nggak heran kalau banyak yang milih putar balik, walau harus muter jauh. Daripada nekat, motor mogok, lalu pulang dengan perasaan kalah.

Yang bikin agak nyesek, masalah ini bukan hal baru. Setiap musim hujan datang, ceritanya ya itu-itu lagi. Air naik. Jalan ketutup. Aktivitas melambat. Lalu ketika hujan berhenti, air surut, dan semuanya kembali seperti biasa. Sampai hujan berikutnya datang.

Kartasura seperti punya kemampuan luar biasa untuk melupakan. Lupa bahwa kemarin banjir, bahwa saluran air bermasalah, bahwa jalanan itu bukan cuma buat musim kemarau. Padahal, kawasan ini hidup. Mahasiswa keluar-masuk tiap tahun. Kos baru tumbuh. Perumahan nambah. Tapi saluran airnya tetap seperti dulu, seolah jumlah manusia dan volume hujan nggak pernah berubah.

Meski begitu, ya, aku tetap cinta Kartasura. Cinta karena di sini aku kuliah, karena hidup terasa dekat dan murah, karena banyak kenangan tumbuh di gang-gang sempit itu.

Tapi setiap hujan turun dan air naik sampai mata kaki, rasa cinta itu selalu diuji. Bukan diuji dengan romantis, tapi diuji dengan genangan, sandal basah, dan pertanyaan klasik: “Kenapa tiap hujan begini terus?”

Kartasura mungkin ramah untuk mahasiswa. Tapi soal hujan, ia masih sering lupa bersiap. Dan kita, seperti biasa, hanya bisa menyesuaikan langkah. Pelan-pelan, cari jalan lain, sambil berharap suatu hari, hujan nggak lagi identik dengan banjir.

Penulis: Putri Ardila
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Mengenal Kartasura, Kota Paling Strategis di Jawa Tengah. Mau ke Jogja Dekat, Solo apalagi!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version