Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Pengalaman Masa Kecil: Memburu Keberadaan Markas PKI

Taufik oleh Taufik
30 September 2020
A A
Pengalaman Masa Kecil: Memburu Keberadaan Markas PKI komunis Pengkhianatan G30S/PKI terminal mojok.co

Pengalaman Masa Kecil: Memburu Keberadaan Markas PKI komunis Pengkhianatan G30S/PKI terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Sejak memasuki usia sekolah, seperti halnya anak sekolah lainnya, kami diwajibkan untuk menonton film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI. Imbauan ini bukan dari orang tua atau warga kampung, tapi dari guru di sekolah. Memang guru-guru saya ini dulu sangat tahu begitu pentingnya pelajaran sejarah PKI bagi generasi kami.

Singkat cerita, jadilah pada setiap malam tanggal 30 September, saya dan teman-teman sekolah rela menahan kantuk hanya untuk menyaksikan film yang bercerita tentang malam biadab pembantaian para Jenderal itu. Biasanya memang tidak sampai di adegan akhir saat para Jenderal diangkat dari lubang buaya karena memang kami tidak selalu bisa begadang sampai di adegan itu. Ngantukin juga sih.

Setelah dua atau tiga kali saya menyaksikan film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI itu, mulai tebersit rasa takut dan kesal. Takut karena beberapa adegan yang saya lihat sangat sadis bahkan mengalahkan film-film laga macam Tutur Tinular dan Jaka Sembung yang adegannya kadang sampai usus terburai. Belum lagi scoring-nya yang lebih mirip film horor.

Kekesalan tentu saja berangkat dari kebencian yang mengakar berkat pelajaran sejarah di sekolah yang menggambarkan anggota PKI sebagai pihak amoral. Belum lagi adegan-adegan sadistik yang ditampilkan melalui film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI. Ini seperti memberikan legacy kepada saya dan beberapa teman untuk tidak hanya membenci PKI tapi juga memburu mereka secara terang-terangan.

Setelah masuk kelas 4 SD, saya mulai punya pemikiran baru mengenai bagaimana memburu PKI yang setiap akhir September isunya diembuskan.

Untuk anak seusia saya waktu itu, membongkar fakta dan kebenaran mengenai keberadaan para loyalis dan simpatisan PKI adalah bentuk sikap pahlawan. Terbentuknya narasi “PKI musuh negara” membuat kami, anak-anak SD, merasa perlu melakukan sesuatu.

Awalnya saya dan dua teman, ketika masuk pertengahan September, kami mulai mencari informasi keberadaan hantu komunis. Tentu saja tidak di perpustakaan sekolah karena semua buku di sana menceritakan keberadaan PKI itu di daerah Lubang Buaya, Jakarta. Tidak pula di kantor sekolahan dan ruang guru, karena ternyata walaupun mereka yang hampir tiap hari (setiap masuk September) bercerita layaknya mereka lihat langsung atau mengalami, nyatanya mereka juga nggak tahu menahu. Juga tidak di masjid-masjid atau tempat pengajian. Sebab, tentu sangat jelas, PKI tidak punya agama pasti mereka ya tidak akan sholat apalagi mengaji.

Kami tahu bahwa isu PKI selalu berembus saat ada kumpul bapak-bapak di Gazebo Dermaga atau saat ada acara main gaple. Maka jadilah kami selalu ke lokasi-lokasi itu. Mendengarkan secara seksama apa yang mereka ceritakan apalagi jika ada kabar soal hantu komunis. Walau kadang juga mereka cerita ya soal film “Bota-bota” yang menurut pengetahuan saya justru film bokep. Lha kok nyari info soal PKI malah tersesat sejauh ini.

Baca Juga:

Desa Nglopang Magetan, Desa yang Menyimpan Sejarah Kelam Indonesia

Menonton Film Eksil sebagai Cucu Jenderal Zaman Orde Baru Bikin Hati Saya Remuk Tak Berbentuk

Kabar mengenai hantu komunis itu akhirnya kami dapatkan. Katanya, ada dua tempat yang dijadikan persembunyian. Satu di pantai yang letaknya di pulau seberang, satu lagi di tebing dekat laut yang jaraknya sekitar setengah perjalanan ke arah barat desa. 

Info paling penting dan krusialnya lagi, para anggota partai terlarang ini melakukan kegiatannya di malam hari. Melakukan pembunuhan, perampokan dan segala macam kejahatan lainnya di malam hari. Siangnya? Menurut info “valid” itu, siang hari digunakan anggota PKI untuk “mantap-mantap” a.k.a. melakukan hubungan intim ramai-ramai. Sungguh sangat biadab, info itu.

Demi memenuhi hasrat ingin tahu mengenai keberadaan para anggota PKI, jadilah saya dan teman saya yang awalnya cuma dua bertambah jadi tujuh. Filosofinya adalah kami bertujuh ibarat tujuh Jenderal yang menjadi martir dalam kejadian malam berdarah.

Pada 29 September malam, kami berangkat ke daerah tebing di sebelah barat desa. Mengendap-endap tentu saja, agar tidak ketahuan para antek komunis. Setelah agak dekat dengan lokasi yang dideskripsikan oleh si empunya cerita, kami memelankan langkah. Beberapa saat saja kami sudah sampai. Dannn, tidak ada apa-apa di sana. Tidak ada anggota PKI, tidak ada Gerwani, tidak ada yang nyanyi-nyanyi.

Kami masih menyimpan rasa penasaran. Setengah berbisik, teman saya memberi kode agar kami menunggu. Menurut teman yang akhirnya kami tahu ternyata juga sok tahu ini, antek komunis masih di perjalanan pulang dari merampok dan membunuh. Maka kami pun menunggu.

Setelah agak lama menunggu, mungkin satu jam, tahulah kami bahwa dua orang teman kami mulai ada yang ngantuk bahkan tertidur. Padahal, para anggota PKI juga tidak tampak batang hidungnya dan memang tidak pernah ada.

Suasana semakin tidak kondusif karena malam semakin larut dan teman lain yang bisa merasakan “kehadiran” makhluk halus mulai terlihat risih. Dalam hitungan satu-dua-tiga, kami berlari pulang ke arah desa. Sedangkan teman yang tertidur kami biarkan. Sampai sekitar jam 11 malam seluruh warga desa geger mencari dua orang teman kami tadi yang disangkanya sudah diculik anggota PKI.

Photo by Artem Beliaikin via Pexels.com

BACA JUGA 4 Alasan Warung Kelontong di Desa Sulit Berkembang lalu Gulung Tikar dan tulisan Taufik lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 1 Oktober 2020 oleh

Tags: komunispki
Taufik

Taufik

Ide adalah ledakan!

ArtikelTerkait

anti-kapitalisme buku kiri komunis oktober PKI Orba Lenin mojok

Saya Anti-kapitalisme, Bukan Orang Gila

14 Januari 2021
takhayul

Takhayul yang Masih Banyak Dipercaya: Sukanya Kok Membatasi Ruang Gerak

16 Oktober 2019
Orang Madiun Tak Menganut Komunisme, dan Madiun Bukanlah Basis PKI, Ingat Itu!

Orang Madiun Tak Menganut Komunisme, dan Madiun Bukanlah Basis PKI, Ingat Itu!

15 Desember 2022
Komunisme Berubah Jadi Kapitalisme kalau Soal Mengiklankan Partai terminal mojok.co

Komunisme Berubah Jadi Kapitalisme kalau Soal Mengiklankan Partai

23 Oktober 2020
Pengkhianatan G30S/PKI

Film Pengkhianatan G30S/PKI Memang Layak Diputar dan Ditonton Saban Tahun

30 September 2021
anti-kapitalisme buku kiri komunis oktober PKI Orba Lenin mojok

Nyatanya, Kita Tidak Lebih Baik daripada PKI

2 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat Mojok.co

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat

5 Februari 2026
Oleh-Oleh Khas Wonosobo yang Sebaiknya Kalian Pikir Ulang Sebelum Membelinya Mojok.co

Wonosobo Memang Cocok untuk Berlibur, tapi untuk Tinggal, Lebih Baik Skip

3 Februari 2026
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang Mojok.co

4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang

31 Januari 2026
Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

31 Januari 2026
8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja Mojok.co

8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.