Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Jangan Bebani Timnas Kelompok Umur untuk Juara

Fajar Hikmatiar oleh Fajar Hikmatiar
29 September 2020
A A
liga 2 judi bola shin tae-yong konstitusi indonesia Sepakbola: The Indonesian Way of Life amerika serikat Budaya Sepak Bola di Kampung Bajo: Bajo Club dan Sejarahnya yang Manis terminal mojok.co

Budaya Sepak Bola di Kampung Bajo: Bajo Club dan Sejarahnya yang Manis terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Dalam sebuah pertandingan sepak bola, menang dan juara pastilah yang diharapkan semua orang. Kurang sedap rasanya ketika tim yang kita dukung gagal menang dalam sebuah pertandingan. Begitu pula yang diharapkan suporter tim nasional Indonesia yang sangat penyabar. Suporter timnas dan netizen yang rindu juara ini begitu sabar menanti tim Garuda buat angkat piala.

Tidak mengherankan memang karena kita sudah lama tidak melihat kapten timnas Indonesia mengangkat sebuah trofi. Bahkan untuk sekelas trofi Piala AFF, yang notabene piala regional Asia Tenggara saja belum pernah. Sebuah anomali sebetulnya mengingat euforia sepak bola di Indonesia cukup tinggi.

ADVERTISEMENT

Itu untuk ukuran timnas senior. Pada tingkat junior, prestasi timnas kita lumayan, agak, sedikit, cukup baguslah dibanding senior-seniornya. Hal ini yang membuat netizen yang budiman dan suporter yang pokok’e joget berharap banyak pada timnas kelompok umur untuk bisa angkat piala. Tanpa memperhatikan fakta bahwa sesungguhnya timnas kelompok umur, baik itu U-16, U-19, atau bahkan U-23 dibentuk bukan untuk mencari juara, melainkan untuk pembinaan usia muda.

Dalam ilmu kepelatihan, terdapat sebuah istilah yang dinamakan grass root atau akar rumput dalam bahasa Indonesia. Dalam level ini, sangat dilarang untuk membebani pemain muda untuk juara. Sekali lagi, sangat dilarang, sebab pada tingkatan grassroot ini tujuannya hanya pembinaan.

Di negara yang level sepak bolanya sudah maju, suporter hanya peduli pada pemain muda ketika sudah tampil di tim utama sebuah klub pada kompetisi teratas. Tapi, di negara sepak bola yang isinya hanya dagelan ini, pemain timnas usia di bawah 16 tahun saja sudah banyak diangkat media, dibesar-besarkan dan dipuja-puji selayaknya akan menjadi seorang Lionel Messi baru. Tentu sangat familiar bukan dengan istilah tersebut? Ungkapan “Ronaldo-nya Indonesia” atau “Messi dari Indonesia” akrab di telinga masyarakat ketika ada pemain muda yang namanya mulai diperbincangkan media.

Seorang pemain muda, katakanlah usia di bawah 18 tahun, belum saatnya memikul tanggung jawab untuk menjadi harapan juara. Lha wong mentalnya saja baru mulai dibentuk kok. Hal yang terjadi kemudian akan tumbuh kembang star syndrome dalam diri seorang pemain muda. Merasa sudah menjadi pemain bintang di usia muda, padahal karier senior saja belum dimulai.

Mari kita melihat contoh kasus dari tragedi yang belum lama ini terjadi. Pada gelaran Piala AFF usia di bawah 22 tahun di Kamboja 2019 lalu, Indonesia berhasil menjadi juara dengan mengalahkan Thailand di babak final. Suporter Indonesia bersuka cita, para pemain dipuja-puji. Bahkan, salah seorang pemain yang berasal dari daerah saya, mendapat penyambutan dengan cara diarak keliling kota. Terlalu berlebihan menurut saya mengingat ini hanya gelaran paling kecil tingkatannya dalam sepak bola internasional, apalagi hanya sekelas kelompok umur.

Padahal, beberapa bulan setelah itu timnas yang sama harusnya sudah mulai bersiap untuk gelaran yang lebih tinggi lagi, yaitu Piala Asia U-23. Tapi, gegara euforia berlebihan dari masyarakat ini, persiapan dan mental pemain pun terganggu. Dan hasilnya, timnas Indonesia yang berpredikat juara Asia Tenggara itu pun harus hancur lebur di babak kualifikasi setelah dihantam Thailand dan Vietnam.

Baca Juga:

Manajemen Tolol Penyebab PSS Sleman Degradasi dan Sudah Sepatutnya Mereka Bertanggung Jawab!

Olahraga Lari Adalah Olahraga yang Lebih “Drama” ketimbang Sepak Bola

Sulit sepertinya untuk berkaca dari masa lalu. Ingat era keemasan Timnas U-19 angkatan Evan Dimas pada 2013 lalu? Untuk pertama kalinya Garuda Muda berhasil menjuarai Piala AFF U-19. Tak lama kemudian, lolos ke Piala Asia U-19 setelah mengalahkan Korea Selatan. Euforia berlebihan pun terjadi. Para pemain ini dianggap mata air diantara keringnya prestasi Indonesia di kancah sepak bola internasional. Mereka dijadikan badut sirkus dengan dalih tur nusantara. Beruji coba dengan tim-tim lokal yang levelnya di bawah mereka. Terdengar seperti hal yang bodoh menurut saya.

Piala Asia U-19 sudah menunggu di depan mata. Dengan diiringi target tembus ke semifinal agar bisa berlaga di Piala Dunia U-20 pada tahun berikutnya, skuat Garuda malah babak belur di babak penyisihan grup. Hanya berhasil mencetak dua gol dan kebobolan delapan gol. Dengan catatan tiga kekalahan dari Uzbekistan, Australia dan Uni Emirat Arab.

Pemain-pemain tumpuan pada saat itu, seperti Maldini Pali, Ilham Udin Armayn, Ravi Murdianto, Fatchu Rochman, dan Muchlis Hadi pun kini seperti hilang tidak diketahui rimbanya. Tidak ada satu pun dari mereka yang menjadi pemain langganan timnas di tingkat senior. Padahal, potensi mereka cukup diperbincangkan pada saat itu. Tapi, nyatanya, sama sekali tidak berkembang dan larut dalam era keemasan masa lalu.

Fakta tersebut memaparkan sebuah kenyataan bahwa star syndrome itu benar adanya dan menjadi momok yang menakutkan bagi pemain muda. Pemain muda Indonesia harusnya difasilitasi dan diberikan edukasi agar mau belajar dan meningkatkan karier di luar negeri karena memang liga lokal di sini amburadul dan jauh dari kata profesional. Tapi, bukannya melakukan ekspansi, justru malah berkutat di liga amatiran yang mengaku-ngaku profesional. Ujung-ujungnya malah nyambi jadi PNS, polisi, bahkan militer dengan iming-iming masa depan terjamin. Jadi pengen ketawa, upsss.

Jadi intinya, berhenti membangun ekspektasi publik dengan banyak mengharap prestasi untuk timnas kelompok umur. Ayolah, Bung, itu bukan kewajiban mereka. Jangan pula terlalu menyanjung mereka dengan puja-puji setinggi langit. Jangan mencaci-maki, jangan merundung, dan jangan menghina mereka di media sosial ketika kalah. Jangan hanya berharap prestasi instant, tapi percaya proses. Ingat, percaya proses.

BACA JUGA Pemain Naturalisasi: Ketika Jadi Tuan Rumah Pildun, tapi yang Main Bukan Orang Indonesia

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 29 September 2020 oleh

Tags: kelompok umurpemain mudaSepak BolaTimnas
Fajar Hikmatiar

Fajar Hikmatiar

Cuma mas-mas biasa yang hobi banget nonton bola.

ArtikelTerkait

Fans Sepak Bola Itu Banyak Jenisnya, Nggak Usah Merasa Paling Sejati terminal mojok.co

Soccer, Istilah Ciptaan Orang Inggris yang Dibenci Orang Inggris

14 September 2020
lionel messi copa america

Copa America: Ajang Pembuktian Sekaligus Beban Bagi Lionel Messi

13 Juni 2019
3 Alasan Banyak Orang Suka Baca Prediksi Skor Bola terminal mojok.co

3 Alasan Banyak Orang Suka Baca Prediksi Skor Bola

29 Juni 2021
naturalisasi

Buat Apa Ada Pemain Naturalisasi Selama Masih Ada Pemain Lokal?

11 September 2019
Hanya Coach Justin, Sosok yang Pantas Jadi Pelatih RANS Cilegon FC terminal mojok.co

Hanya Coach Justin, Sosok yang Pantas Jadi Pelatih RANS Cilegon FC

2 April 2021
nutmeg Lionel Messi tarkam sepakbola anak-anak mojok.co

Memahami Buruknya Naturalisasi Melalui Tarkam

1 September 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kawasan Surabaya Utara: Dijuluki Mexico-nya Surabaya dan Identik dengan Hal Negatif

Jangan ke Surabaya Utara saat siang hari, jalannya bikin emosi, panasnya nggak masuk akal!

10 Agustus 2026
Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

5 Agustus 2026
Nalar Cacat Kepala Sekolah yang Menganggap Enteng Bullying pada Siswa

Penyelesaian bullying di sekolah hanya dengan permintaan maaf adalah bukti bahwa hal ini nggak pernah dianggap serius

8 Agustus 2026
Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

7 Agustus 2026
Ospek kampus masih gini-gini aja, masih tidak berguna dan nggak ngasih apa-apa

Ospek kampus masih gini-gini aja, masih tidak berguna dan nggak ngasih apa-apa

6 Agustus 2026
Keliling naik motor malam hari, hiburan murah bagi kita yang dihajar hidup dari kanan-kiri

Keliling naik motor malam hari, hiburan murah bagi kita yang dihajar hidup dari kanan-kiri

8 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.