Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kustini Sri Purnomo dan Parikan Jawa ‘Nandur Opo sing Dipangan, Mangan Opo sing Ditandur’

Muhammad Pribadi Fuad oleh Muhammad Pribadi Fuad
10 Agustus 2020
A A
Kustini Sri Purnomo dan Parikan Jawa ‘Nandur Opo sing Dipangan, Mangan Opo sing Ditandur’ MOJOK.CO

Kustini Sri Purnomo dan Parikan Jawa ‘Nandur Opo sing Dipangan, Mangan Opo sing Ditandur’ MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Baru juga Agustus 2020, Pilkada Sleman masih agak jauh di Desember nanti. Namun, hangatnya sudah terasa. Sudah banyak muncul ledekan-ledekan dan sindiran halus ke calon bupati yang sudah “ditetapkan”, yaitu Kustini Sri Purnomo dan Danang Mahersa. Kalau nggak salah, keduanya diusung oleh PDIP.

Ledekan dan sindirian halus sudah jelas dialamatkan kepada Kustini Sri Purnomo, yang mana adalah istri dari Bupati Sleman sekarang, Sri Purnomo. Dari Bapak, lalu mau lanjut ke Ibu. Istilah dinasti politik langsung hangat terasa. Nggak cuma Gibran anaknya Jokowi di Solo, di Sleman, narasi kayak gitu saya rasa akan makin anget pas deket deket Desember.

Yah, sebagai orang yang nggak terlalu melek politik, saya nggak mau cawe-cawe soal dinasti politik. Biar dibahas sama orang-orang yang ilmu politiknya sundul langit. Iya, ilmu politik yang sumbernya adalah “katanya” itu. Lha wong belum tahu gimana, eh sudah kenceng banget ngeledeknya. Kayak orang bener.

Saya sendiri mau fokus ke Kustini Sri Purnomo saja. Bukan soal politiknya ya, tetapi soal parikan Jawa yang biasa saya temukan ketika baca berita kunjungan Kustini ke Kelompok Wanita Tani (KWT). Parikan itu berbunyi: ‘nandur opo sing dipangan, mangan opo sing ditandur’.

Parikan itu, kata Wikipedia, adalah salah satu jenis puisi Jawa modern yang serupa dengan pantun Melayu dalam hal wujud spasial dan pola rimanya. Parikan dapat dianggap sebagai puisi rakyat karena hidup dan berkembang di tengah-tengah rakyat.

Parikan ‘nandur opo sing dipangan, mangan opo sing ditandur’ dari Ibu Kustini ini, bagi saya sangat menarik. Terutama di tengah masa pandemi kayak begini.

Yah, kita tahu dong bagaimana kerja pemerintah di tengah pandemi. Mau dikata bagus kok ya enggak. Mau dikata enggak, eh nanti saya kena ciduk. Intinya, kalau boleh saya bilang, masih belum oke. Terutama untuk masalah harga bahan pangan, misalnya cabai, yang sempat jatuh dan merugikan petani.

Nah, kalau sudah ngomong petani, masalahnya makin pelik. Terkadang, kita melihat semua masalah dari sudut pandang kekotaan, bahkan menjadi kayak Jakarta-sentris. Mau soal ekonomi, sosial-budaya, sampai agama. Seakan-akan, yang “bau kota” itu sophisticated dan sudah pasti bener.

Baca Juga:

Ketika Prabowo Bikin Rakyat Bertepuk Sebelah Tangan di Hari Valentine

Mas Gibran, kalau Anak SD dan SMP Belajar dan Bisa Coding, Lalu Selanjutnya Apa?

Padahal, di masa-masa pandemi begini, justru melihat kembali ke “hal-hal kecil” itu sangat berarti. Misalnya, kenapa pemerintah nggak dari dulu memaksimalkan ibu-ibu PKK untuk sosoalisasi bahayanya virus corona. Kenapa pemerintah nggak fokus dulu menyelamatkan kehidupan petani sebelum ngomong penyelamatan ekonomi negara?

Oya ding, pemerintah terlalu sibuk meremehkan virus corona ini di awal Januari 2020. Dan mencoba kalem tapi sebetulnya panik tuh ketika Jokowi banyak menggandeng tentara masuk ke dalam badan-badan untuk merespons penyebaran virus corona. Kenapa nggak menggandeng ibu-ibu PKK, pemuda karang taruna, dan para petani?

Sesengit-sengitnya pemuda kepada pemerintah, saya kok yakin, mereka bakal bergerak kalau lingkungannya terancam oleh pandemi. Sebagai makhluk yang menghargai proses komunal, para pemuda akan berhimpun dan berdaya demi keselamatan circle mereka. Misalnya soal pangan.

Nah, di sinilah parikan Jawa yang sering diucapkan Kustini Sri Purnomo menjadi masuk akal sekali. ‘Nandur opo sing dipangan, mangan opo sing ditandur’. Terkadang, mereka yang ada di desa, para petani, sudah punya semacam sistem untuk mengatasi pagebluk. Mereka sudah siap dengan sistem. Namun, pemerintah memandang sebelah mata dan menjadikan sistem mereka sebagai “cara kuno”.

Saya juga masih punya cadangan keyakinan yang besar kalau manusia bisa melakukan hal-hal ekstrem demi kebaikan. Bahkan bisa kamu bilang radikal. Petani dan ibu-ibu PKK bisa diberdayakan untuk menjadi “pemimpin”. Memimpin anak-anak muda untuk bertanam bahan-bahan pangan secara masif, di pekarangan rumah masing-masing.

Ketika pandemi makin runyam, banyak orang mencoba menanam bahan pangan. Banyak yang berhasil, tapi lebih banyak yang gagal. Selain karena, mungkin tidak terbiasa dan tidak bisa konsisten. Saya kok curiga, mereka hanya butuh bimbingan, kok. Mereka belum terbiasa ‘nandur opo sing dipangan, mangan opo sing ditandur’.

Selain memastikan “lumbung masyarakat” tidak asat, anak-anak muda yang dibimbing petani akan menjadi “guru” untuk generasi selanjutnya. Masyarakat kita tidak akan kehilangan jiwa agraris, meski sawah-sawah sudah salin muka menjadi mall, perumahan, atau apartemen. ‘Nandur opo sing dipangan, mangan opo sing ditandur’.

Ajari masyarakat untuk berdaya. Ajari mereka dengan ilmu, bukan hanya bantuan tunai saja. Lha wong saya nggak masalah anak-anak nggak perlu sekolah sampai Desember, misalnya, untuk diajari menanam bahan pangan secara intensif. Lho, ilmu menanam bahan pangan itu skill yang sangat berharga dan siapa tahu akan berguna kelak ketika gelompang pandemi corona tak juga mereda.

Dari Kustini Sri Purnomo, saya berterima kasih bisa mengenal parikan Jawa ‘nandur opo sing dipangan, mangan opo sing ditandur’. Saya nggak mau cawe-cawe soal politik. Saya mau berusaha mengambil sisi positif dari sosok calon bupati. Boleh, tho?

BACA JUGA Makan Gorengan Kustini Sambil Nyeplus Lombok Rawit atau tulisan lainnya dari Muhammad Damar Muslim.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 10 Agustus 2020 oleh

Tags: gibranKSPKustini Sri Purnomoparikan jawaPilkada 2020Pilkada Slemansri purnomo
Muhammad Pribadi Fuad

Muhammad Pribadi Fuad

Bersetia di perkara kecil.

ArtikelTerkait

Ilustrasi Fakta di Balik Kontroversi Perdagangan Miras di Sleman (Unsplash)

Fakta di Balik Kontroversi Perdagangan Miras di Sleman: Siapa yang Seharusnya Bertanggung Jawab?

1 November 2024
jadi presiden selama sehari lambang negara jokowi nasionalisme karya anak bangsa jabatan presiden tiga periode sepak bola indonesia piala menpora 2021 iwan bule indonesia jokowi megawati ahok jadi presiden mojok

Jokowi Layak Dinobatkan sebagai Kepala Keluarga Terbaik di Indonesia

12 Desember 2020
Saran Bagi Sahrul Gunawan Bila Menjadi Wakil Bupati Kabupaten Bandung terminal mojok.co

Saran buat Sahrul Gunawan Bila Menjadi Wakil Bupati Kabupaten Bandung

23 Oktober 2020
Daripada Blusukan Daring, Gibran Rakabuming Mending Lakukan Hal yang Lebih Wangun kaesang pilkada jokowi terminal mojok.co

Jika Gibran dan Kaesang Layak Menjadi Politisi, Itu Karena Hasil Survei

6 Agustus 2019
Penyambutan Tokoh Ormas Boleh, Konser Musik Harusnya Juga Boleh, dong? terminal mojok.co

Aturan KPU Soal Diperbolehkannya Konser Musik Kampanye Sungguh Ra Mashook

17 September 2020
Daripada Blusukan Daring, Gibran Rakabuming Mending Lakukan Hal yang Lebih Wangun kaesang pilkada jokowi terminal mojok.co

Prediksi Duel Maut: Gibran-Teguh vs Kotak Kosong di Solo, Siapa yang Bakal Menang?

21 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Aerox Motor Yamaha Paling Menderita dalam Sejarah (unsplash)

Aerox: Motor Yamaha Paling Menderita, Nama Baik dan Potensi Motor Ini Dibunuh oleh Pengguna Jamet nan Brengsek yang Ugal-ugalan di Jalan Raya

8 April 2026
Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

4 April 2026
Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi Mojok.co

Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi 

8 April 2026
4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan (Unsplash)

4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan

8 April 2026
Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

7 April 2026
Toyota Hiace, Mobil Toyota yang Nyamannya kayak Bawa LCGC (Unsplash)

Derita Pemilik Hiace, Kerap Menghadapi “Seni” Menawar Harga yang Melampaui Batas Nalar

8 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Gagal Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat Dihina Bodoh, Malah Dapat Kerjaan “di Atas” ASN Langsung Bungkam Penghina
  • Buka Bisnis di Desa Menggiurkan, Tapi Bukannya Slow Living Malah Dibayangi Sengsara karena Kebiasaan Warga
  • Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif
  • Sisi Gelap di Balik Naiknya Harga Gudeg Jogja Langganan yang Membuat Stigma Buruk Semua Gudeg Itu Mahal Makin Dihina Orang Tolol
  • Hari-hari Penuh Perjuangan Pedagang Es Teh Jumbo Menuju Kebangkrutan: Sudah Melarat karena Tipisnya Keuntungan Kini Terancam Mati karena Kenaikan Harga Plastik
  • PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.