Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

IQ Tinggi Bukan Berarti Kamu Jenius

Reynold Siburian oleh Reynold Siburian
26 Mei 2020
A A
jenius

IQ Tinggi Bukan Berarti Kamu Jenius

Share on FacebookShare on Twitter

Apa yang membuat seseorang disebut jenius? Mungkin bakal ada yang jawab kalau orang jenius itu adalah orang yang menguasai semua bidang ilmu. Ada juga yang jawab kalau orang jenius itu adalah orang yang bisa ngerjain hal yang orang lain nggak bisa kerjakan kayak menguasai bahasa dalam satu malam, atau jawab problem matematika yang selama ini nggak terpecahkan. Orang jenius itu pokoknya orang yang extra ordinary, bahkan bisa dibilang super human.

Gimana cara mengukur tingkat kejeniusan seseorang? Well, biasanya orang akan mengasosiasikan IQ yang tinggi dengan kejeniusan. Kalau kamu punya IQ tinggi, pasti otomatis disebut orang jenus. Tes IQ ini lumrah jadi standar buat ngukur tingkat kecerdasan orang. Bahkan sejak SD tes IQ sudah digunakan untuk mengkategorikan mana anak yang pintar (atau jenius) dan mana yang tidak.

Tes IQ dianggap bisa merepresentasikan kecerdasan seseorang karena menurut Psikologi, IQ yang tinggi memiliki hubungan dengan status sosio ekonomi, pencapaian akademik, sampai kesuksesan seseorang. Makanya orang yang punya IQ tinggi dianggap bisa menerima beban ilmu yang lebih tinggi juga karena mereka—entah gimana caranya—pasti sanggup menerima itu semua.

Ini juga yang jadi alasan kenapa tes IQ online menjadi populer walaupun banyak yang tahu bahwa tes online ini tidak akurat. Kita ingin seseorang memberitahu kita bahwa kita spesial. Memiliki IQ yang normal atau rendah hanya membuat Anda jadi seorang medioker yang tingkatannya setara dengan rakyat jelata. Artinya, jika Anda bukan bagian dari masyarakat super ber-IQ tinggi, Anda bakal susah buat sukses.

Ta ta ta tapi apakah Anda tahu kalau—meskipun kita semua yakin bahwa IQ dapat mengukur kecerdasan, bahkan kesuksesan—IQ sendiri masih merupakan perdebatan hangat antar kaum akademis? Khususnya soal kebenaran apakah IQ benar-benar bisa mengukur kecerdasan manusia.

Mari kita lihat sejarahnya terlebih dahulu

IQ (Intelligent Quotient) dibuat pada abad 19 di Eropa oleh psikologis Alfred Binet dan Theodore Simon. Binet dan Simon membuat IQ dengan tujuan mengidentifikasi murid-murid yang mengalami kesulitan belajar di Prancis. Jadi tes ini bukan untuk mengukur seberapa cerdas seseorang namun lebih ke seberapa kesulitan orang tersebut. Terdapat perbedaan penting pada dua hal ini.

Berbeda dengan tujuan awal dari Simon dan Binet, pada periode Perang Dunia pertama, IQ malah digunakan untuk mengukur seberapa pintar seseorang. Ide ini cepat menyebar apalagi saat itu banyak orang mendukung eugenics, yaitu pandangan bahwa ras manusia harus diperbaiki dengan cara membuang orang-orang yang berpenyakit atau cacat.

Baca Juga:

Konten tidak tersedia

Waktu itu juga dipercayai bahwa kepintaran merupakan sesuatu yang tetap dan diwariskan. Artinya, orang yang dianggap ‘bodoh’ akan menghasilkan generasi yang ‘bodoh’ juga. Di bawah pengaruh eugenics, terdapat studi yang membuat kesimpulan absurd bahwa ras tertentu lebih cerdas dari ras lain.

Studi ini mencapai kesimpulan d iatas tanpa memperhitungkan bias bahasa. Tes IQ pada studi tersebut dibuat dalam bahasa inggris sementara peserta tes dari ras lain adalah imigran yang tidak terlalu menguasai bahasa inggris. Penggunaan tes IQ secara sembarangan ini menyebabkan banyak rakyat Amerika dan Jerman yang disterilisasi karena dianggap idiot dan tolol sehingga tidak pantas bereproduksi.

Terlepas dari sejarah kelam tersebut, para akademisi sendiri masih belum setuju bahwa IQ dapat mengukur kecerdasan. Pertama, definisi kecerdasan berbeda dari kultur ke kultur. Contohnya individu dengan pengetahuan luas akan tanaman herbal akan dianggap pintar di Afrika namun belum tentu memiliki IQ yang tinggi.

Akibat kecerdasan yang kultur spesifik, beberapa peneliti berpendapat bahwa tes IQ bias ke orang-orang barat karena tes IQ ini dibuat di negara barat. Ini membuat tes ini bermasalah saat digunakan ke kultur yang berbeda. Bahkan ada yang berargumen lebih jauh bahwa tes IQ tidak mengukur kecerdasan sama sekali tetapi hanya mengukur kemampuan menjawab tes IQ. Jadi. orang yang hasil tes IQ nya tinggi bukan berarti dia pintar, melainkan hanya jago jawab soal-soal tes IQ saja.

Beberapa yang mendukung IQ sebagai penentu kecerdasan mencoba membuat argumen seperti ini, “Siapa yang akan kamu pilih untuk melakukan operasi tumor pada dirimu/siapa yang akan kamu pekerjakan di perusahaanmu, orang dengan IQ 90 atau orang dengan IQ 130?”

Pertanyaan ini aneh. Kenapa saya bilang aneh? Karena dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak memakai IQ untuk memutuskan hal tersebut melainkan melihat pengalaman individu. Saya tidak peduli dokter bedah saya memiliki IQ 90 atau 130 asal pasien-pasien yang dia operasi banyak yang sembuh. Sama halnya dengan pekerjaan, saya pikir para HRD merekrut karyawan berdasarkan CV masing-masing invididu dan bukan melalui tes IQ.

Kalau begitu apakah IQ benar-benar tidak berguna? Ya tidak juga. Usaha sudah dibuat untuk mengembalikan IQ ke tujuan awalnya yaitu mengidentifikasi anak-anak yang mengalami masalah belajar, contohnya yang mengalai autism spectrum disorder atau anak dengan gangguan tiroid. Tujuan mengidentifikasi ini supaya usaha lebih dibuat untuk membantu mereka mendapatkan pendidikan yang cukup agar mampu berfungsi di masyarakat.

Kesimpulannya, menentukan kepintaran manusia itu sulit dan tes IQ terbukti tidaklah akurat. Jadi, Anda jangan sombong dulu jika IQ Anda tinggi. The result might as well be meaningless.

BACA JUGA SNMPTN Lolos Terus Ngerasa Jenius? Sombhong Amat, Kalian Cuma Beruntung dan tulisan Reynold Siburian lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 26 Mei 2020 oleh

Tags: IQ tinggiorang jeniussalah kaprah IQ
Reynold Siburian

Reynold Siburian

Ordinary human

ArtikelTerkait

Konten tidak tersedia
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup Pola Pikir Pecundang (Unsplash)

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

6 April 2026
Penilai Properti: Profesi "Sakti" di Balik Kredit Bank yang Sering Dikira Tukang Ukur Tanah

Penilai Properti: Profesi “Sakti” di Balik Kredit Bank yang Sering Dikira Tukang Ukur Tanah

31 Maret 2026
Gresik yang Dahulu Saya Anggap Biasa Aja, Sekarang Malah Bikin Kangen Mojok.co

Gresik yang Dahulu Saya Anggap Biasa Aja, Sekarang Malah Bikin Kangen

31 Maret 2026
5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

Jalan-jalan ke Pantai saat Libur Panjang Adalah Pilihan yang Buruk, Hanya Dapat Capek Saja di Perjalanan

1 April 2026
Suzuki Katana Adalah Mobil yang Menyalahi Logika, Banyak Orang Menyukainya walau Jadul dan Kerap Bikin Sakit Pinggang Mojok.co

Suzuki Katana Adalah Mobil yang Menyalahi Logika, Banyak Orang Menyukainya walau Jadul dan Kerap Bikin Sakit Pinggang

1 April 2026
UMK Cikarang Memang Tinggi, tapi Biaya Hidup di Cikarang Tetap Murah, Jogja Can't Relate! scbd

Jika Harus Menjalani Sepuluh Ribu Kehidupan, Saya Tetap Memilih Jadi Pekerja Cikarang ketimbang Kakak-kakak SCBD

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial
  • WFH 1 Hari dalam Seminggu Cuma Bikin Pekerja Boncos dan Nggak Produktif, Lalu Di Mana Efisiensi Pemakaian Energinya?
  • Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi
  • Gagal Kuliah Kedokteran karena Bodoh dan Miskin, Malah Dapat Telepon Misterius dari Unair di Detik Terakhir Pendaftaran
  • Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif
  • Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.