Betul, biaya UKT dan tugas-tugas kuliah saat belajar di FISIP memang murah. Tapi, prospek kariernya tak jelas, dan modal selanjutnya juga tidak kecil
Ketika kita memilih jurusan untuk kuliah, tentu banyak hal yang perlu kita pertimbangkan. Apalagi, kalau kita berasal dari kelas menengah. Kadang, mimpi kita untuk belajar di jurusan tertentu harus dibendung dulu. Aspek lain yang tidak kalah penting untuk dipikirkan yakni apakah ekonomi kita mampu membiayai sampai kita lulus. Hal ini maklum, sebab biaya kuliah di negara kita juga bergantung pada jenis jurusannya.
Misal nih dulu, saya sebetulnya ingin sekali masuk jurusan-jurusan yang berbau IPA, seperti Biologi, Kimia, Farmasi, bahkan Kedokteran. Tapi, setelah saya lihat kemungkinan UKT yang harus saya bayar, saya menahan keinginan itu. Jadinya, saya cari alternatif lain yang biayanya lebih terjangkau. Ketemulah saya dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik atau disingkat FISIP.
Nah di FISIP, biaya kuliahnya lebih murah. Bukan cuma UKT-nya saja, tapi biaya untuk tugas-tugas saat kuliah juga tidak memerlukan biaya yang mahal. Makanya, saya ambil saja S1 Sosiologi. Tapi gaes, ternyata pembacaan saya salah. Menjadi mahasiswa FISIP nyatanya juga tidak cocok untuk kelas menengah ke bawah seperti saya.
Di FISIP malah lebih banyak mahasiswa berduit
Betul, biaya UKT dan tugas-tugas kuliah saat belajar di FISIP memang murah. Sebab, di FISIP tugasnya kebanyakan hanya mengetik, yakni bikin esai. Sumber-sumber yang dibutuhkan cuma bacaan, bisa buku atau jurnal. Hal ini berbeda dengan fakultas lain yang kadang sampai harus beli bahan dan menguras dompet mahasiswa.
Tapi, hal demikian ternyata tidak menunjukkan bahwa mahasiswa FISIP itu kebanyakan dari kelas menengah ke bawah. Malah sebaliknya, mereka berasal dari orang tua yang sudah sejahtera. Ada yang orang tuanya pejabat politisi, pengusaha bisnis, sampai ada yang punya tambang.
Jadi, banyak mahasiswa di FISIP itu kuliahnya sembari haha-hihi. Mereka lebih banyak nongkrong sama jalan-jalannya. Bagi mereka, yah intinya lulus. Toh, nanti bisa melanjutkan bisnis keluarga atau dapat warisan orang tua.
Setelah lulus, FISIP bikin kelas menengah kebingungan
Bagi saya, masuk akal memang jika FISIP itu cocok untuk mahasiswa yang sudah punya banyak duit. Sebab, di FISIP sedikit sekali kita belajar hal-hal praktis. Di fakultas ini, kebanyakan kita hanya dijejali dengan bacaan, tulisan, dan bacotan. Hehehe.
Bayangkan jika kelas menengah belajar di jurusan ini, setelah lulus mereka tentu tidak punya bekal keterampilan teknis untuk masuk ke dunia kerja. Berbeda dengan anak FISIP yang berasal dari keluarga kaya, setelah lulus mereka sudah punya jalan arahnya akan ke mana. Jadi, kuliah itu bisa dibilang cuma nunda waktu untuk melanjutkan kekayaan keluarganya.
Nah hal itu berbeda dengan saya yang berasal dari keluarga kelas menengah. Sebagai lulusan S1 Sosiologi, saya punya hobi membaca. Menulis pun saya bisa. Diajak diskusi juga nyambung. Tapi, untuk apa kemampuan itu jika modal di keluarga saya tidak ada. Akhirnya, setelah lulus saya cuma jadi alumni yang bingung. Entah akan kemana.
Kelas menengah dituntut cari yang pasti-pasti saja
Dari pengalaman saya tersebut, maka dari itu betul rasanya jika kelas menengah lebih baik cari yang pasti-pasti saja. Jurusan-jurusan seperti Filsafat, Sosiologi, Ilmu Politik itu rasanya memang tidak cocok untuk kita dari kelas menengah ke bawah. Jurusan itu sangat abstrak, prospek kariernya tidak jelas. Sangat rentan jadi pengangguran setelah lulus.
Ini berbeda kalau kita mengambil jurusan-jurusan di fakultas teknik atau bisnis dan ekonomi. Masa depan kelas menengah setelah lulus akan lebih terjamin. Sebab, prospek kerjanya seperti sudah jelas akan kemana, keterampilan teknisnya pun kelihatan.
Tapi lagi-lagi, tentu kita akan berhadapan dengan biaya kuliah yang tentunya lebih mahal ya.
Ya, demikianlah pendapat dan pengalaman saya sebagai alumni FISIP. Tapi overall, kita semua perlu sadari bahwa sebetulnya problem ini akarnya ada pada biaya pendidikan yang mahal. Seandainya biayanya terjangkau, tentu kita bisa bebas memilih mau belajar apa dan dimana. Jadi saran saya, selain terus belajar, mari terus berjuang menuntut pendidikan yang terjangkau. Hehehe, sekian!
Penulis: Abdur Rohman
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA FISIP Kehilangan “Taring” karena Mahasiswanya Jarang Baca dan Dosennya Sibuk Berpolitik dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok