Sudah mafhum di masyarakat pedesaan. Kalau ada seseorang punya kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang lain, maka warga desa akan meminta segala macam bantuan ke orang tersebut. Entah nyambung maupun tidak nyambung dengan latar belakang pendidikan atau kemampuan aslinya.
Dahulu hal seperti itu umumnya tersemat secara alamiah kepada orang-orang yang “pinter”. Misal, orang dengan kemampuan pijat patah tulang, menghitung hari baik untuk perayaan, pawang hujan hingga orang yang bisa membuat omben-omben (istilah air doa untuk anak kecil yang rewel misalnya).
Di era sekarang, hal tersebut masih berlaku dan justru merambah ke bidang lain. Sebagai contoh saya. Dalam setahun terakhir, banyak tetangga yang datang ke rumah untuk meminta saran dan bantuan. Bukan karena saya punya keahlian seperti yang saya sebut di atas. Namun, warga menganggap saya pintar dalam hal teknologi dan soal ponsel.
Semua bermula saat pertengahan tahun lalu saya memutuskan pulang kampung untuk menemani Ibu yang yang sudah sepuh. Selama hampir 15 tahun lebih saya merantau ke Semarang, selepas belajar di bangku kuliah melanjutkan mengelola usaha kecil-kecilan di bidang digital printing.
Saat pandemi saya memutuskan pulang selama tiga bulan karena usaha di kota sepi akibat PPKM Covid-19 dan membuka usaha konter pulsa, mungkin dari sinilah semua bermula anggapan bahwa punya usaha konter pulsa paham seputar dunia IT dan ponsel.
Untuk sobat pembaca, berikut pengalaman saya berinteraksi dengan warga dengan keahlian saya yang sebenarnya nggak ada apa-apanya, tapi sering didatangi warga dari yang meminta bantuan hingga sekedar bertanya.
#1 Cek kepesertaan BPJS, jasa sederhana yang ternyata dibutuhkan warga desa
Suatu hari seorang bapak-bapak datang, mertuanya sedang nggak enak badan selama beberapa hari. Keluarga berencana membawanya ke rumah, tapi khawatir BPJS Kesehatannya tidak aktif. Mereka khawatir kalau harus membayar mahal jika dirawat sebagai pasien umum.
Datanglah bapak-bapak ini ke rumah saya, beliau mendengar saya “punya kemampuan” mengecek apakah seseorang BPJS nya aktif atau tidak.
Menggunakan HP Samsung A04 yang sebenarnya sudah lemot, saya segera membuka Whatsapp BPJS atau dikenal sebagai Pandawa. Lewat jawaban sistemnya saya lalu pilih menu Informasi, cek kepesertaan, memasukan nomor NIK, tanggal, bulan dan tahun lahir lalu abrakadabra munculnya informasi peserta BPJS yang dimaksud. Alhamdulillah, BPJS-nya aktif yang artinya dapat bantuan PBI dari pemerintah daerah dan bisa digunakan untuk berobat secara gratis.
Di satu kesempatan lain saya juga diminta membantu mengunduh aplikasi mobile JKN, mendaftarkan hingga membuat booking untuk kontrol tetangga yang habis pulang dari rawat inap di rumah sakit.
Salah satu pengalaman, saya pernah diajak menemani warga desa ke kantor BPJS di Kabupaten dengan jarak 30 menit berkendara. Akun BPJS ibunya tidak aktif, rencananya hendak digunakan rawat inap di rumah sakit. Solusinya harus mendaftar sebagai peserta mandiri dan membayar biaya selama tidak aktif sesuai kelasnya.
Sebenarnya apa yang saya lakukan adalah hal yang sederhana namun karena banyak yang belum paham prosesnya serta seringkali kurang paham mekanismenya maka ketika ada orang yang bisa dianggap luar biasa.
#2 Download Mp3 dan Mp4
Kali ini yang datang adalah tetangga yang berprofesi sebagai driver truk angkutan barang lintas kota. Beliau menyampaikan bahwa sering bosan jika dalam perjalanan tidak ada hiburan. Hiburan yang dimaksud adalah musik dan video lagu yang digunakan untuk menemani perjalan agar tidak mengantuk.
Kedatangan beliau meminta saya untuk mengunduh lagu dari YouTube dan menjadikannya file berupa Mp3 dan Mp4. Sebenarnya yang saya lakukan hanya mendownload memasukan url dari youtube ke website youtube video downloader kemudian menyalin ke flashdisk tetangga saya ini. Namun skill ini terasa sangat hebat karena beliau belum bisa atau lebih tepatnya tidak telaten saja.
Di Kesempatan yang lain dengan kasus yang sama, karena saya tidak mau menerima bayaran, seorang tetangga rela membawakan sebungkus nasi dan gorengan sebagai ucapan terima kasihnya.
#3 Daftar sekolah online dibutuhkan warga
Selama dua tahun di rumah, seingat saya sudah dua kali ibu-ibu datang ke rumah karena kebingungan cara mendaftarkan anaknya yang akan masuk ke jenjang SMA. Bisa dimaklumi karena banyak berkas yang harus diunduh, diisi, di print, ditempel meterai, ditandatangani, di-scan kemudian di upload ke website PPDB.
Saya yakin kebanyak orang tua di luar sana juga masih bingung. Terlebih mereka yang tidak terbiasa dengan administrasi. Apalagi jika sang anak yang notabenenya lebih native teknologi juga tidak bisa mendaftar sendiri.
Alhamdulillah dua anak yang saya bantu daftarkan tersebut bisa masuk ke SMA impian yang dituju. Bukan karena bantuan saya di prosesnya tapi memang nilainya bagus saja.
Di kemudian hari, sang ibu datang membawa satu plastik pisang dan wafer sebagai ucapan terima kasih. Ibu saya sampai bercanda, “Lama-lama kayak dukun saja kamu.”
#4 Warga desa butuh orang yang bisa memperbaiki HP lemot
Ini kasus yang sangat sering terjadi di tengah warga desa. Tetangga saya kerap datang dengan keluhan aplikasi Whatsapp-nya tidak bisa membuka pesan berisi gambar dan video. Setelah saya cek ternyata problemnya terletak pada memori yang penuh. Solusinya sebenarnya gampang tinggal hapus cache, file-file dan aplikasi yang tidak penting dan Alhamdulillah Whatsapp kembali normal.
Di lain waktu datang juga seorang bapak-bapak yang mengeluh HP nya muncul iklan terus saat dibuka. Bahkan menghalangi dirinya saat hendak menelpon atau membuka Whatsapp. Bisa ditebak pasti sebelumnya habis mengunduh aplikasi-aplikasi yang isinya iklan spam. Kejadian seperti ini berulang kali karena HP nya digunakan anak untuk main game, atau istrinya menonton drama dan asal klik tiap ada iklan yang muncul.
Rutinitas membersihkan HP warga desa dari iklan dan aplikasi spam nyaris ada saja tiap bulan.
#5 Mendaftarkan nomor perdana
Dahulu ketika membeli nomor perdana cukup beli dan langsung pasang kartu sudah bisa digunakan. Sekarang prosesnya makin ribet dan tidak semua orang bisa melakukannya.
Peraturan terbaru mengharuskan pembeli harus registrasi dan melakukan perekaman wajah atau biometric. Tujuannya tentu baik, agar masyarakat setia dengan satu nomor dengan verifikasi data sehingga bisa menggunakannya secara bertanggung jawab dan mudah melacaknya jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Namun, sekali lagi tujuan baik tadi berbarengan dengan proses yang rumit dan sulit dipahami. Tidak jarang tetangga yang bahkan beli kartu perdana di konter lain datang meminta bantuan untuk mendaftarkan.
Yah mau bagaimana lagi dengan reputasi sebagai “wong pinter” dibidang per-HP-an maka mau tidak mau harus saya bantu.
Satu sisi saya juga bersyukur, saya senang bisa membantu tetangga yang kesulitan. Semua saya jalani dengan bahagia kecuali ketika berhadapan dengan orang yang suka memaksa, keminter, dan penginya nyuruh-nyuruh saja.
Hidup di desa, prinsip kredit sosial sangat berarti. Eksistensi kita dihitung berdasarkan seberapa berguna dan kontribusi kita di masyarakat. Walau tidak saya hitung sebagai pamrih, namun norma di masyarakat berjalan dengan sendirinya dalam kesempatan lain ketika saya atau keluarga saya butuh bantuan, dengan senang hati warga akan membantu juga.
Penulis: Achmad Munandar
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Pandangan Orang Kampung saat Mengetahui Saya Seorang Programmer dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.