ADVERTISEMENT

Rakyat jelata dan olok-olok dari kursi pesawat: pentingnya memahami bahwa kita punya harga diri

Rakyat jelata dan olok-olok dari kursi pesawat: pentingnya memahami bahwa kita punya harga diri

Saya tidak sekali-dua kali mendengar cerita tentang kawan yang sekarang kaya, dan tak sudi melihat atau menyapa kawan lamanya. Seakan-akan, mereka bangsawan, dan kawan lama tadi rakyat jelata yang terkena lepra.

Tak ada reaksi berlebih dari saya, seringnya cuma saya jawab “yowis ben, lagi seneng paling”. Saya memang berusaha merespons fenomena tersebut dengan sederhana. Kalau nggak rese, saya biarkan. Kalau rese, baru saya tinju. Dunia ini amat sederhana, kawan.

ADVERTISEMENT

Jujur saja, saya memahami kenapa manusia-manusia tersebut berubah ndelogok dalam waktu singkat hanya gara-gara mereka kaya. Saya kenal betul latar belakang manusia-manusia tersebut, dan tak jarang mereka dulunya berkubang kemiskinan kelewat dalam.

Kita memang tidak pernah benar-benar disiapkan untuk bersikap saat jadi kaya, sebab, seringnya kesejahteraan itu mimpi yang kelewat mustahil.

Sebagai pengakuan dosa, saya pun sempat begitu. Kepala saya mendongak kelewat tinggi di saat saya berada di puncak penghasilan. Ya gimana saya tidak mendongak, saya membangun kekaisaran dengan tangan saya sendiri. Saya membungkam prediksi manusia-manusia yang bilang saya akan hidup sengsara dan jadi beban negara.

Terutama kau, Rahmat. Saya masih ingat betul kata-katamu di ruang prodi.

Hanya saja, memahami dan mengalami, bukan berarti saya membenarkan. Status sosialmu mungkin tidak bisa lagi dianggap rakyat jelata. Tapi mengolok-olok mereka, beda urusan. Sebab, rakyat jelata berkali-kali menunjukkan bahwa mereka bisa saja meruntuhkan takhta para borjuis bajingan yang mengolok-olok mereka.

Singgasana yang runtuh oleh rakyat jelata

Anda pasti akan menebak saya akan menuliskan Revolusi Prancis sebagai contoh. Awalnya, iya, tapi saya memutuskan tidak. Sebab, terlalu banyak contoh lain yang menurut saya juga patut disebut sebagai contoh keberhasilan rakyat jelata merebut kekuasaan.

Menuliskan semua contoh tersebut, hanya membuat tulisan ini jadi daftar revolusi berhasil, yang jujur saja, bisa kalian temukan dengan mudah lewat AI Overview Google atau ChatGPT.

Tapi maksud saya sebenarnya adalah ini: rakyat jelata, yang selama ini dianggap bodoh, tak teredukasi, dan mudah disetir, sebenarnya bisa-bisa saja menumbangkan pemerintahan yang dianggap kelewat zalim.

ADVERTISEMENT

Sebelum saya dihubungi oleh orang-orang yang mengira saya mengajak rakyat untuk menumbangkan rezim, tenang, saya tidak sedang mengajak demo atau apalah itu. Tapi, maksud utama saya adalah, bisakah orang-orang yang sedang ada di puncak kehidupan mereka, tak mengolok-olok rakyat jelata yang hidupnya sedang susah?

Bisakah kalian diam saja, tak bicara yang tak perlu?

Cancel (?)

Saya tak habis pikir. Bagaimana bisa, ada orang yang asalnya dari rakyat jelata, mengolok-olok sesamanya hanya karena berada di puncak karier, dan ditampilkan ke seluruh dunia lagi.

Misalnya mereka mengatai itu di sirkel pribadi mereka, itu beda urusan. Tapi direkam, lalu diunggah, saya pikir ada yang salah.

Mungkin kita memang terlalu pemaaf. Ketika kita diinjak, kita marah, tapi hanya dengan permintaan maaf yang amat artifisial itu, kita melupakan hinaan yang meruntuhkan harga diri itu. Atau mungkin kita tidak bisa lagi marah, sebab alasan untuk kehilangan kendali kelewat banyak, hingga energi kita sudah habis lebih dulu sebelum amarah itu tersampaikan.

Makanya mereka berani mengatai kita, rakyat jelata, terang-terangan. Sebab tau kita akan memaafkan, akan teralihkan perhatiannya, akan tertekan oleh kehidupan, jadi mereka mudah saja memaki, karena tau, kita akan lupa sendiri.

Tapi, bagaimana kalau kita kali ini memilih untuk menuntut maaf yang serius?

Maksudnya, apakah kalian rela diolok-olok? Apakah kalian rela dianggap tak berharga hingga mereka berani memaki kalian terang-terangan? Apakah kita, rakyat jelata, diam saja dianggap tak berharga?

Secara pribadi, saya sudah marah. Kelewat marah. Urusan harga diri tak pernah bisa dinegosiasi. Hanya karena ia terkenal dan punya harta, tak berarti punya lisensi untuk menginjak harga diri.

Saya tidak tahu bagaimana dengan kalian yang membaca tulisan ini. Tapi, tanyakan pada dirimu sendiri: kalau kau diolok-olok dari kursi pesawat, apakah kau tetap mau menerima, atau memilih untuk mempertahankan harga diri?

Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Maaf ya Mbak Kiky Saputri, Menjelaskan Istilah Medis ke Pasien Memang Ribet dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok

Terakhir diperbarui pada 2 November 2026 oleh .

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Founder Kelas Menulis Bahagia. Penulis di Como Indonesia.