ADVERTISEMENT

Simbol tiga jari di gereja dan salib merah di demonstrasi: ketika ajaran kasih kekristenan tidak tinggal diam melihat ketidakadilan

Simbol tiga jari di gereja dan salib merah di demonstrasi: ketika ajaran kasih kekristenan tidak tinggal diam melihat ketidakadilan Mojok.co

Hari Minggu kemarin, media sosial ramai dengan pendeta di berbagai gereja Kristen mengangkat tiga jari di mimbar. Tindakan ini sebagai wujud solidaritas mereka terhadap gelombang demonstrasi yang terjadi beberapa waktu terakhir. 

Simbol agama dan simbol demonstrasi saling bertaut bukanlah hal baru. Pada demonstrasi mahasiswa Rabu, 28 Oktober 2026 di Jakarta, viral salib merah yang dipanggul Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Salib setinggi sekitar 5 meter itu hadir di tengah aksi demonstrasi memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98. 

ADVERTISEMENT

Salib merah terinspirasi dari perjuangan masyarakat adat Papua dalam mempertahankan tanah ulayat dan hutan dari ancaman eksploitasi. Inspirasi lainnya datang dari film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale.

Sama halnya simbol tiga jari di mimbar gereja, salib merah di tengah demonstrasi menyita begitu banyak perhatian. Di situ ada pesan kemanusiaan, keberpihakan, dan keberanian yang sedang dibawa ke ruang publik. Salib yang selama ini akrab dengan altar gereja, ruang doa, dan perayaan liturgi justru hadir di tengah jalanan tempat suara rakyat berhadapan dengan kekuasaan.

Salib bukan sekadar simbol penderitaan

Dalam tradisi Katolik, salib merupakan simbol utama iman. Salib mengingatkan umat pada penderitaan dan kematian Yesus Kristus demi keselamatan manusia. Namun, makna salib tidak berhenti pada penderitaan. Di balik salib terdapat kasih yang rela berkorban, pengharapan, dan janji pembebasan.

Salib merah yang muncul dalam demonstrasi seolah membawa makna di atas ke dalam kehidupan nyata. Penderitaan masyarakat adat, kehilangan tanah leluhur, kerusakan hutan, dan ancaman terhadap ruang hidup bukan sekadar persoalan yang bisa dibaca melalui laporan atau pemberitaan. Semua itu menyangkut kehidupan manusia yang konkret.

Ada manusia yang hidupnya bergantung pada tanah. Masyarakat yang menggantungkan masa depannya pada hutan. Ada kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun dan tidak bisa begitu saja digantikan dengan uang kompensasi.

Ketika ruang hidup mereka terancam, penderitaan itu seharusnya menjadi perhatian bersama. Salib merah mengingatkan bahwa penderitaan manusia tidak boleh dipandang sebagai angka statistik dalam laporan pembangunan. Di balik setiap konflik agraria terdapat manusia yang mempunyai keluarga, sejarah, identitas, dan masa depan.

Salib merah hadir di tengah demo adalah bentuk kasih 

Banyak pro dan kontra terhadap kehadiran simbol agama dalam demonstrasi. Namun, menurut saya, justru kehadiran salib merah jadi bentuk kasih yang nyata. Selama ini kasih identik dengan kelembutan, keramagan, perdamaian, dan sikap mengalah. Padahal, kasih juga mempunyai wajah perlawanan. 

Ketika seseorang melihat ketidakadilan, tapi memilih diam demi kenyamanan, apakah itu masih bisa disebut kasih? Ketika masyarakat kecil kehilangan ruang hidup, tetapi orang-orang yang mempunyai kuasa justru sibuk mempertahankan kepentingannya, di mana keberpihakan terhadap sesama?

ADVERTISEMENT

Kasih tidak berarti membiarkan ketidakadilan berlangsung tanpa kritik. Mengasihi manusia berarti mempunyai keberanian untuk menolak segala sesuatu yang merendahkan martabat manusia.

Dalam tradisi iman Katolik, pemikiran tersebut mempunyai landasan kuat. Konstitusi pastoral Gaudium et Spes menegaskan, kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan manusia, terutama mereka yang miskin dan menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus.

Artinya, penderitaan masyarakat kecil bukan persoalan yang boleh dijauhkan dari kehidupan gereja. Persoalan kemiskinan, ketimpangan, kerusakan lingkungan, perampasan tanah, dan ketidakadilan hukum merupakan persoalan kemanusiaan yang juga menjadi perhatian iman. Keberpihakan terhadap kemanusiaan tidak boleh bergantung pada kesamaan agama, suku, golongan, ataupun kepentingan politik.

Kasih yang tidak berdiam diri

Ada satu hal yang perlu dipahami dari salib merah tersebut: kasih tidak selalu berarti diam, mengalah, dan menerima keadaan. Dalam kehidupan beriman, kasih seringkali disampaikan melalui kata-kata yang terdengar indah. Umat diajak saling mengasihi, mengampuni, menghormati, dan membantu sesama. Namun, kasih juga mempunyai dimensi keberanian, terutama ketika berhadapan dengan ketidakadilan

Apa artinya berbicara tentang kasih apabila penderitaan sesama manusia tidak pernah benar-benar diperhatikan? Salib merah seolah mempertanyakan pemahaman kasih yang terlalu nyaman. Kasih bukan hanya tentang memberikan bantuan ketika seseorang mengalami kesulitan. Kasih juga menyangkut keberanian untuk melihat mengapa seseorang mengalami penderitaan dan apa yang membuat ketidakadilan terus berlangsung.

Salib merah seolah mempertanyakan pemahaman kasih yang terlalu nyaman. Kasih bukan hanya tentang memberikan bantuan ketika seseorang mengalami kesulitan. Kasih juga menyangkut keberanian untuk melihat mengapa seseorang mengalami penderitaan dan apa yang membuat ketidakadilan terus berlangsung.

Dalam konteks ini, salib merah menjadi simbol kasih yang tidak pasif. Kasih yang tidak hanya hadir dalam doa, tetapi juga mempunyai keberanian untuk menyuarakan penderitaan manusia. Bukan kasih yang membenci, melainkan kasih yang menolak pembiaran terhadap ketidakadilan.

Salib merah mengingatkan saya pada satu hal. Kasih tidak boleh berhenti sebagai slogan dalam khotbah, tulisan rohani, ataupun spanduk kegiatan gereja. Kasih harus mempunyai keberanian untuk membela mereka yang tidak mempunyai kekuatan. Selain itu, kasih harus mampu mendengar suara masyarakat yang selama ini tidak mendapatkan ruang. Kasih juga harus berani berhadapan dengan ketidakadilan, termasuk ketika ketidakadilan tersebut lahir dari kebijakan yang dibuat oleh pemegang kekuasaan.

Salib merah bukan ajakan untuk membenci. Ia adalah ajakan untuk mengasihi dengan keberanian. Bukan mengasihi secara pasif. Namun, mengasihi dengan keberpihakan yang jelas kepada martabat manusia.

Pembebasan adalah tujuan dari kasih

Dalam iman Katolik, pembebasan bukan sekadar terbebas dari penderitaan pribadi. Pembebasan juga berkaitan dengan martabat manusia, keadilan sosial, dan kehidupan yang layak bagi semua orang. Karena itu, salib merah mempunyai pesan yang melampaui identitas kelompok tertentu. Ia tidak hanya berbicara kepada umat Katolik, tetapi juga kepada siapa saja yang masih mempunyai kepedulian terhadap kemanusiaan.

Tentu saja, gereja tetap mempunyai tempat penting sebagai ruang peribadatan. Namun, makna salib tidak seharusnya hanya hidup di dalam bangunan gereja. Salib juga harus berbicara ketika manusia kehilangan hak, ketika masyarakat kecil menghadapi ketidakadilan, dan ketika kehidupan alam terancam oleh kepentingan manusia.

Simbol ini bukan sekadar benda yang dipajang, dihormati, atau dicium ketika Jumat Agung. Salib adalah pengingat tentang pengorbanan, keberanian, dan tanggung jawab terhadap kehidupan. Salib merah adalah kasih dalam perlawanan menuju pembebasan. Sebab, kasih yang sungguh-sungguh tidak hanya ikut merasakan penderitaan, tetapi juga berani berdiri ketika martabat manusia sedang dipertaruhkan.

Salib merah bukan simbol untuk menunjukkan bahwa penderitaan hanya milik satu agama atau kelompok. Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa penderitaan manusia merupakan urusan bersama. Tanah, hutan, dan kehidupan masyarakat adat bukan persoalan yang hanya boleh diperjuangkan oleh mereka yang mengalaminya secara langsung.

Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Cari Pasangan Sesama Katolik itu Susah, Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.

Terakhir diperbarui pada 2 November 2026 oleh .

Marselinus Eligius Kurniawan Dua

Guru yang baru terjun di dunia menulis. Gemar main game, jalan-jalan, dan kulineran. Suka membahas tentang daerah, sosial, ekonomi, pendidikan, otomotif, seni, budaya, kuliner, pariwisata, dan hiburan.