Ada yang kuliah di Universitas Trunodjoyo Madura?
Bagi para mahasiswa baru (maba), momen merantau di lingkungan kampus bisa jadi adalah hal yang ditunggu-tunggu. Di situ, mereka akan merasakan hidup di lingkungan baru, teman baru, kebiasaan baru, intinya setiap hal akan terasa baru. Tapi, tak jarang apa yang kita sudah bayangkan sering kali akan berbeda dengan realita di lapangan.
Ya, demikianlah yang juga terjadi pada mahasiswa di Universitas Trunodjoyo Madura (UTM). Belum juga genap setahun, berkuliah di kampus ini gampang bikin mahasiswanya bosan. Ya saya tahu, tak banyak sebetulnya yang berani mengakui perasaan bosan tersebut. Mereka sering terpaksa menutupinya karena alasan ekonomi dan sudah terlanjur nyebur.
Nah, kalian menyadari hal tersebut tidak? Jika tidak, berikut saya bantu jelaskan situasi yang menunjukkan bahwa sebetulnya kamu sudah bosan hidup di UTM.
#1 Kamu suka organisasi, tapi sadar kalau di Universitas Trunodjoyo Madura itu eksklusif
Mahasiswa datang ke kampus tak semuanya hanya ingin belajar di kelas. Tentu banyak yang juga ingin berproses di dunia organisasi. Nah, saat awal menjadi mahasiswa UTM, kalian mungkin kalian akan merasa senang menyelami organisasi di kampus ini. Kalian diajak masuk kepanitiaan, menjadi pengurus, sering diajak ngopi, dan kesibukan lainnya. Tapi, hal itu akan berubah seiring berjalannya waktu dan kalian sadar bahwa kalian akan berhenti di tengah jalan.
Maksud saya bagaimana? Berhenti di tengah jalan maksudnya kalian tidak bisa bermimpi besar, menjadi presiden mahasiswa (presma) misalnya. Alasannya, tidak semua berhak punya impian itu. Posisi presma di UTM itu ya yang Madura-Madura aja. Coba saja kalian perhatikan, kapan terakhir kali UTM punya presma dari luar Madura dan seberapa banyak? Hehehe.
Ya, yang perlu dipahami juga, ini bukan tentang posisi presma saja ya. Jabatan lain pun juga demikian.
#2 Kamu niat cari ilmu di Universitas Trunodjoyo Madura, tapi sulit cari toko buku
Selanjutnya, misal pun kalian tidak minat masuk organisasi dan lebih memilih fokus belajar, lingkungan di UTM pun juga akan cepat membuatmu bosan. Sebab, kalian akan kesulitan mencari buku sebagai sumber bacaan. Pilihan yang ada hanya perpustakaan kampus dan perpustakaan daerah. Itu pun buku-bukunya banyak yang terbitan lama, belum diperbarui.
Kemudian, untuk mendukung daya semangat belajar kalian, lingkungan UTM di Bangkalan juga akan kurang maksimal. Kuliah di UTM akan sulit menemukan teman sefrekuensi yang sama-sama suka baca buku. Malah, aktivis yang paling keras bersuara kadang tidak jelas dari mana sumber bacaannya.
#3 Saat malam, kamu hanya terkurung di area Telang
Kemudian, rasa bosan hidup di lingkungan UTM juga akan kalian rasakan setelah sadar bahwa kalian sebetulnya tidak bisa kemana-mana selain di Desa Telang. Desa Telang bukanlah pusat kabupaten ini. Orang-orang juga tidak ada yang akan pergi ke Telang kecuali karena berkuliah. Nah, maka dari itu desa Telang itu seperti hidup sendiri.
Ya, misal kalian ada keinginan keluyuran keluar dari Desa Telang, kalian harus memikirkannya berulang-ulang. Sebab, masalah keamanan dan keselamatan keluar-masuk desa ini sangat rentan adanya pembegalan. Belum lagi lampu penerangannya juga sangat minim. Beberapa hari yang lalu saja sudah ada dua korban pembegalan di jalan masuk ke desa ini. Dan korbannya sama-sama mahasiswa UTM.
#4 Kamu mulai paham kalau mahasiswa di Surabaya lebih sejahtera
Puncak perasaan bosan ini akan semakin menjadi ketika kalian tahu bagaimana suasana kehidupan tetangga di pulau seberang Bangkalan, yakni Surabaya. Setelah beberapa bulan tinggal di UTM, mungkin sesekali kalian akan punya kesempatan untuk keluyuran ke Surabaya. Nah, disitulah kalian akan sadar total bahwa kuliah di UTM itu betul-betul membosankan.
Ya, dengan perjalanan yang tidak sampai satu jam, kalian bisa nyeberang ke kota yang semuanya serba ada. Perbedaannya 180 derajat dengan lingkungan UTM. Kampus di Surabaya bervariasi dan berkualitas. Toko buku banyak, tempat hiburan juga bebas memilih. Lalu perpustakaan lebih beragam, bukan cuma milih kampus atau pemerintah daerah saja, tapi milik perorangan yang juga dibuka untuk umum. Bagus, kan.
Tapi ya, nasi sudah menjadi bubur. Sudah basah sekalian saja nyebur. Demikianlah pandangan hidup mahasiswa UTM yang sudah merasa bosan. Maksud saya, karena sudah terlanjur memilih UTM, banyak yang perlu dipertimbangkan jika harus memutuskan untuk pindah kampus. Solusinya hanya satu yakni kita harus berpegang teguh bahwa yang utama tetap usaha pribadi. Di mana pun kita sekolah, kalau belajarnya tidak semangat, ya tetap akan percuma. Benar kan?
Penulis: Abdur Rohman
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Sudah jatuh tertimpa tangga, sudah WNI jadi orang Madura pula dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.