Dulu, saya sempat menyesal memulai karier sebagai staf call center. Sebagai lulusan S1 Ilmu Politik, saya merasa pekerjaan ini kurang linier dengan pendidikan yang sudah saya tempuh.
Rasanya, ada yang kurang pas ketika ilmu tentang politik dan kebijakan publik yang dipelajari di bangku kuliah berujung pada pekerjaan menerima telepon dan meladeni keluhan pelanggan. Belum lagi urusan fisik dan mental yang harus sama-sama harus bakoh menghadapi sistem kerja shifting dan pelanggan tercinta dengan segala macam persoalannya.
Namun, pandangan saya mulai berubah ketika kembali mencari pekerjaan. Saya justru berkali-kali menemukan lowongan call center dan customer service yang membutuhkan pengalaman serupa dengan pekerjaan saya sebelumnya. Pengalaman yang dulu saya anggap kurang membanggakan ternyata punya nilai jual yang amat diperhitungkan.
Pengalaman menjadi call center ternyata tetap punya nilai jual
Dulu, saya mengira pekerjaan yang baik adalah pekerjaan yang sesuai dengan jurusan kuliah. Sebagai lulusan S1 Ilmu Politik, tentu saya berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang berkaitan dengan bidang yang saya pelajari. Rasanya, sayang juga kalau sudah kuliah bertahun-tahun, tetapi pekerjaan yang dijalani justru jauh dari ilmu yang dipelajari.
Namun, kenyataan dunia kerja memang tidak selalu berjalan sesuai harapanmu. Ketika kembali berburu pekerjaan, saya justru berkali-kali menemukan lowongan call center dan customer service yang mensyaratkan pengalaman serupa dengan gaji yang amat layak.
Dari situ, saya mulai menyadari bahwa pengalaman menjadi staf call center bukan sekadar pelengkap CV. Pengalaman tersebut justru menjadi modal ketika saya melamar pekerjaan di perusahaan lain tanpa harus minder. Karena saya tidak perlu meyakinkan HRD dari nol untuk bidang yang sudah pernah saya tekuni sebelumnya. Hal ini jelas membuka mata hati saya bahwa, pekerjaan yang dulu sempat saya sesali itu tetap punya nilai jual, meskipun jalurnya tidak sesuai dengan rencana karier yang pernah saya bayangkan.
Menghadapi pelanggan ternyata tidak sesederhana mengangkat telepon
Orang yang belum pernah bekerja sebagai call center mungkin mengira pekerjaan ini hanya soal mengangkat telepon, membaca skrip, lalu mengakhiri percakapan. Padahal, persoalannya tidak sesederhana itu.
Kita harus memahami keluhan pelanggan, memberikan penjelasan yang mudah dimengerti, dan mencari solusi tanpa membuat masalah semakin panjang. Semua itu harus dilakukan sambil menjaga nada bicara tetap sopan, bahkan ketika orang di seberang telepon sedang marah-marah. Pelanggan boleh kehilangan kesabaran, tetapi sebagai CS kita dituntut tidak boleh ikut-ikutan kehilangan profesionalitas.
Kemampuan semacam ini jelas dibutuhkan di banyak pekerjaan yang berhubungan dengan pelanggan. Artinya, pengalaman sebagai call center tidak berhenti pada urusan telepon, tetapi juga melatih kita menghadapi persoalan yang melibatkan manusia dengan berbagai karakter. Kalau dipikir-pikir, menghadapi pelanggan yang sedang marah memang tidak selalu mudah. Namun, pengalaman itu setidaknya membuat saya punya sesuatu yang bisa ditawarkan ketika melamar pekerjaan berikutnya.
Pekerjaan yang dulu ingin saya tinggalkan kini justru saya syukuri
Saya tidak hendak berpura-pura bahwa bekerja sebagai call center selalu menyenangkan. Sistem kerja shifting bisa mengacaukan waktu istirahat, tuntutan pelayanan mengharuskan kita menjaga sikap, dan keluhan pelanggan terkadang menguras tenaga lebih banyak daripada yang terlihat. Ada hari ketika badan sudah meminta istirahat, tetapi jadwal kerja tidak bisa diajak berkompromi. Ada pula saat ketika kita harus tetap terdengar ramah, padahal percakapan yang sedang dihadapi membuat kesabaran habis.
Namun, setelah kembali merasakan sulitnya mencari pekerjaan, saya mulai melihat pengalaman itu dari sudut pandang yang berbeda. Dulu, saya terlalu sibuk memikirkan apakah pekerjaan tersebut sesuai dengan gelar sarjana. Sekarang, saya justru bersyukur pernah menjalaninya karena pengalaman itu masih bisa saya gunakan untuk membuka kesempatan kerja berikutnya.
Saya tidak sedang menganggap pekerjaan call center sebagai profesi paling ideal. Saya hanya ingin memberi insight pengalaman bahwa pekerjaan yang tidak sesuai dengan rencana awal pun tetap bisa memberikan manfaat yang nahasnya sering terasa belakangan.
Barangkali, kesalahan saya dahulu adalah terlalu cepat menilai pekerjaan dari seberapa linier posisinya dengan ijazah, bukan dari apa yang bisa saya pelajari dan manfaatkan darinya.
Sekarang, jika ada yang bertanya apakah saya menyesal pernah menjadi staf call center, jawabannya masih iya, untuk beberapa alasan. Namun, saya juga punya alasan untuk bersyukur. Sebab, ketika kesempatan kerja tidak selalu datang sesuai harapan, pengalaman yang pernah kita miliki nyatanya bisa menjadi salah satu modal untuk mengetuk pintu berikutnya.
Dan kalau pintu itu kebetulan kembali bertuliskan loker soal call center, setidaknya saya sudah tahu apa yang akan saya hadapi dan hal apa saja yang harus saya wanti-wanti tanpa perlu menghakimi.
Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Call Center Adalah Alternatif Profesi Paling Cocok bagi Fresh Graduate dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok