Setahun lebih meninggalkan kampung halaman, dunia sudah berlari begitu jauh. Namun, ketika pulang ke Blora, ada satu hal yang seolah menolak untuk ikut berkembang: jalanan berlubang yang membuat pengendara harus memilih antara menghindar, mengerem, atau pasrah kepada nasib.
Pernahkah kamu pulang ke kampung halaman setelah bertahun-tahun merantau, lalu merasa bahwa waktu seolah berhenti di sana? Bukan karena suasananya masih sama dan membuat rindu, melainkan karena masalah yang dulu ada ternyata masih setia menemani hingga sekarang.
Begitulah perasaan saya ketika kembali ke Blora.
Sudah lebih dari satu dekade saya merantau meninggalkan kampung halaman. Selama itu pula, dunia terus bergerak. Teknologi semakin canggih, kota-kota berlomba membangun infrastruktur, dan berbagai daerah mulai mempercantik diri agar semakin nyaman ditinggali. Namun, entah mengapa, setiap kali pulang ke Blora, ada saja hal yang membuat saya mengernyitkan dahi.
Jalanan Blora, antara nostalgia dan uji nyali
Bagi saya, jalanan di Blora terkadang seperti mesin waktu yang rusak. Tahun boleh berganti, kendaraan boleh berganti, bahkan harga bahan bakar terus berubah, tetapi lubang-lubang di jalan seolah memiliki komitmen kuat untuk tetap berada di tempatnya.
Kalau ada penghargaan untuk sesuatu yang paling konsisten di kampung halaman, mungkin jalan berlubang layak masuk nominasi.
Istilah jeglongan sewu rasanya bukan lagi sekadar ungkapan untuk menggambarkan banyaknya lubang di jalan. Dalam pengalaman berkendara, istilah itu terasa seperti nama resmi sebuah lintasan yang menguji konsentrasi, keseimbangan, dan kesabaran pengendara.
Bayangkan saja, ketika berkendara, mata harus terus memindai permukaan jalan. Tangan bersiap memutar setang, kaki siaga mengerem, sementara pikiran sibuk menghitung jarak antara satu lubang dan lubang lainnya. Berkendara yang seharusnya menjadi aktivitas biasa berubah menjadi permainan menghindari rintangan.
Bedanya, kalau gagal melewati rintangan dalam permainan, kita mungkin hanya kehilangan poin. Kalau gagal menghindari lubang di jalan raya, akibatnya bisa jauh lebih serius: ban rusak, kendaraan oleng, terjatuh, bahkan mengalami kecelakaan.
Tidak berlebihan jika terkadang saya bergurau bahwa melewati jalanan seperti itu bisa membuat seseorang merasa sedang menjalani ujian sebelum waktunya menghadap Tuhan.
Tentu saja, ini hanya sindiran. Sebab, di balik kelakar tersebut, ada persoalan keselamatan yang tidak seharusnya dianggap lucu.
Aspal berlubang, ke mana perginya perhatian?
Pertanyaan berikutnya mungkin terdengar sedikit pedas: sebenarnya, siapa yang bertanggung jawab atas kondisi jalan di Blora tersebut?
Saya tidak ingin sembarangan menuduh pihak tertentu, apalagi langsung menyimpulkan bahwa anggaran perbaikan jalan disalahgunakan tanpa bukti. Namun, masyarakat tentu berhak mempertanyakan bagaimana pemeliharaan jalan dilakukan, berapa anggaran yang dialokasikan, dan mengapa kerusakan yang berulang masih ditemukan di sejumlah ruas jalan.
Perlu diketahui, tidak semua jalan di Blora berada di bawah kewenangan pemerintah desa. Ada jalan yang menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten, provinsi, maupun pemerintah pusat. Karena itu, penanganan kerusakan perlu disesuaikan dengan status dan kewenangan masing-masing ruas jalan.
Kerusakan jalan juga bisa disebabkan berbagai faktor, mulai dari curah hujan, sistem drainase yang buruk, beban kendaraan, kualitas konstruksi, hingga pemeliharaan yang tidak memadai. Menentukan penyebab pastinya membutuhkan pemeriksaan di lapangan.
Namun, penjelasan mengenai penyebab kerusakan tidak boleh menjadi alasan untuk membiarkan persoalan berlarut-larut.
Masyarakat Blora tidak selalu membutuhkan janji pembangunan yang terdengar megah. Terkadang, mereka hanya ingin jalan yang tidak membuat kendaraan berguncang hebat, lubang yang segera diperbaiki, serta informasi yang jelas mengenai rencana penanganannya.
Kalau jalan rusak dibiarkan terlalu lama, wajar apabila masyarakat mulai bertanya-tanya. Apakah kerusakannya belum diketahui? Apakah anggarannya belum tersedia? Atau justru koordinasi antarinstansi yang belum berjalan dengan baik?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut semestinya dijawab melalui informasi yang terbuka, bukan sekadar dibiarkan menjadi bahan keluhan di warung kopi di Blora atau percakapan di media sosial.
Jangan sampai yang berubah hanya tahun, bukan keadaan
Pada akhirnya, tulisan ini bukan semata-mata keluhan seorang perantau yang merasa kampung halamannya tidak banyak berubah. Ini adalah bentuk kerinduan terhadap daerah yang ingin saya lihat tumbuh menjadi lebih baik.
Saya ingin suatu hari nanti pulang ke Blora dengan perasaan bangga. Melewati jalan yang lebih mulus, menikmati perjalanan tanpa harus terus-menerus menghindari lubang, dan melihat pembangunan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Blora, saya tidak menuntutmu menjadi kota yang megah. Saya hanya ingin jalananmu lebih layak, perjalanan pulang terasa aman, dan masyarakatmu tidak perlu mempertaruhkan keselamatan hanya untuk sampai ke rumah.
Sebab, pulang kampung seharusnya menjadi perjalanan menuju rindu yang terbayar, bukan perjalanan penuh kejutan yang membuat jantung berdebar di setiap lubang jalan.
Dan kalau suatu hari nanti saya kembali setelah bertahun-tahun merantau, semoga yang membuat saya terkejut bukan lagi banyaknya jeglongan sewu, melainkan betapa jauh Blora telah berkembang.
Karena kampung halaman yang dicintai bukanlah kampung halaman yang tidak pernah dikritik, melainkan kampung halaman yang terus diperjuangkan agar menjadi lebih baik.
Penulis: Absaana Jazaa
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 3 Fakta Menarik tentang Blora yang Jarang Orang Bicarakan dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok