ADVERTISEMENT

Jadi guru SMK itu nggak gampang, harus upgrade skill agar selalu relevan dengan dunia kerja

Jadi guru SMK itu nggak gampang, harus upgrade skill agar selalu relevan dengan dunia kerja Mojok.co

Sebagai mantan anak SMA yang kini mengajar di SMK, saya selalu punya perasaan yang sulit dijelaskan tiap kali menyaksikan dinamika sekolah kejuruan. Bagaimana tidak, di SMK, denyut kehidupan tidak berhenti di ruang kelas. Ia mengalir ke bengkel, laboratorium, dan ruang praktik. Seolah tiap sudut di SMK jadi ruang bagi siswa-siswi untuk merajut impian.

Tak percaya? Lihat saja bagaimana asiknya anak-anak ngoprek mesin di bengkel, bawa-bawa kamera dan lighting untuk syuting, hingga naik-naik ke tower untuk pasang instalasi. Ada pula yang khusyuk di depan komputer untuk merancang desain. Dinamikanya seru sekali.

ADVERTISEMENT

Secara struktur kurikulum, SMK dan SMA memang berbeda. Di SMA, siswa mendapatkan pembelajaran dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Tujuannya agar lulusan SMA punya bekal untuk ke jenjang pendidikan selanjutnya. Sementara itu, kurikulum SMK lebih fokus pada keterampilan praktis dan teknis yang langsung terkait dengan dunia kerja.

Tantangan guru SMK: tidak hanya pintar, tapi harus relevan

Nah, perbedaan struktur kurikulum itu melahirkan sebuah tantangan besar bagi para guru SMK. Tantangannya, bagaimana caranya guru SMK, terutama pengampu mata pelajaran (mapel) produktif, bisa selalu upgrade keterampilan. Sehingga, ilmu yang diberikan kepada siswa tetap sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan dunia kerja. Bagi yang belum tahu, mapel produktif adalah pelajaran yang mengajarkan kemampuan khusus sesuai dengan program keahlian yang dipilihnya.

Dengan kata lain, jadi guru mapel produktif di SMK itu tak cukup kalau cuma pintar, tapi juga harus relevan. Apalagi, berdasarkan hasil ngobrol dengan murid-murid saya, banyak yang mengaku lebih antusias dengan mapel produktif dibanding mapel normatif-adaptif, seperti matematika, PPKn, sejarah. Tanpa bermaksud mengesampingkan mapel lain, mungkin mereka merasa mapel produktif itu bekal nyata untuk masuk ke dunia kerja kali ya.

Tantangan jadi guru produktif di SMK begitu besar kan? Mau nggak mau mereka harus terus mengasah skill dan sering-sering introspeksi diri dengan bertanya, “Ilmu yang saya ajarkan ini nantinya masih dipakai nggak ya di lapangan?”

Pertanyaan ini bukan sembarang pertanyaan. Ini penting mengingat dunia kerja bergerak begitu cepat. Maka, coba bayangkan apa jadinya kalau guru mapel produktif di SMK berhenti belajar. Bisa-bisa yang tertinggal bukan hanya gurunya, tapi juga murid-muridnya. Akibatnya, begitu anak-anak SMK masuk dunia kerja, mereka cuma plonga-plongo. Mereka bingung karena apa yang diajarkan di sekolah tidak sesuai dengan kebutuhan di lapangan. 

Lantas, bagaimana cara supaya pembelajaran di SMK tetap relevan dengan dunia kerja? Jawabannya, melalui teaching factory.

Teaching factory hadir sebagai solusi

Saya coba jelaskan dengan bahasa bayi, teaching factory itu belajar sambil kerja dan kerja sambil belajar. Caranya, murid tidak hanya dilatih untuk praktik membuat sesuatu, tapi terlibat langsung dalam praktik penyelesaian pekerjaan yang berasal dari pelaku atau pemain di dunia kerja yang sesungguhnya. 

Contohnya nih di SMK dengan jurusan kuliner. Murid tidak cuma disuruh praktik masak untuk dinilai rasanya saja, tapi benar-benar menerima pesanan katering dari luar. Mereka belajar menyusun menu, menghitung bahan, membagi tugas di dapur, sampai mengatur waktu penyajian. Kalau masakannya telat atau rasanya nggak konsisten, ya ada komplain. Persis kayak kerja di dapur profesional.

ADVERTISEMENT

Contoh lain, di jurusan multimedia. Murid  nggak cuma asal bikin video, tapi benar-benar mengerjakan proyek dokumentasi acara, video promosi UMKM, atau konten media sosial klien. Mereka harus meeting dulu, memahami brief, revisi berkali-kali, dan belajar menghadapi klien yang kadang rewelnya melebihi ibu kos. Capek? Jelas. Namun, di situlah mereka belajar bagaimana dunia kerja sebenarnya berjalan.

Di jurusan teknik pun sama. Anak-anak bisa terlibat dalam perakitan, perawatan, atau perbaikan alat sesuai permintaan klien. Mereka belajar membaca standar, bekerja rapi, dan bertanggung jawab atas hasil kerja. Jadi ketika lulus nanti, mereka nggak kaget.

Simbiosis mutualisme di balik teaching factory

Nah, supaya teaching factory ini berumur panjang, SMK butuh kerja sama dengan pelaku di lapangan atau dunia kerja. Akan lebih baik lagi, kalau pelaku yang digandeng memang punya komitmen untuk mendukung perkembangan SMK di Indonesia. Sehingga, melalui kerja sama tersebut lahirlah kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan lapangan, pelatihan untuk meningkatkan skill guru, penyediaan peralatan praktik di sekolah yang lebih update, dan masih banyak lagi. 

Kerja sama dengan pelaku di dunia kerja juga membuat sekolah punya akses untuk memasarkan produk hasil karya siswa. Dan, yang tidak kalah penting, dengan adanya teaching factory, peluang kerja bagi lulusan jadi semakin terbuka karena sebelumnya mereka sudah dikenalkan, bahkan dilirik di dunia kerja. 

Bukan hanya itu, dengan adanya teaching factory, sekolah bisa mendapatkan tambahan pemasukan dari hasil penjualan produk siswa. Pemasukan tersebut nantinya bisa digunakan untuk tambahan operasional, sampai beasiswa untuk siswa yang aktif terlibat dalam proses produksi.

Sementara dari sisi pelaku di dunia kerja, mereka pun juga diuntungkan dengan adanya teaching factory. Mereka bisa mendapatkan tenaga kerja yang siap pakai. Singkatnya, baik siswa, sekolah maupun dunia kerja, semua ikut merasakan dampak positif dari teaching factory.

Coba saja bayangkan SMK tanpa teaching factory. Anak-anak hanya belajar dari buku. Dan, ketika waktunya praktik, praktiknya sekadar simulasi. Tak ada gambaran sedikit pun tentang bagaimana ritme di dunia kerja. SMK pun berisiko jadi SMA versi bengkel. Ramai di teori, tapi miskin di pengalaman kerja.

Ending-nya, tagline “SMK Bisa” yang semula bermakna positif, rentan dikonotasikan negatif menjadi, “SMK Bisa. Bisa apa?”

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Pengalaman Mengajar di SMA Negeri: Siswanya Sulit Diajak Berpikir Kreatif karena Takut Nilai Jelek dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.

Dyan Arfiana Ayu Puspita

Alumnus Universitas Terbuka yang bekerja sebagai guru SMK di Tegal. Menulis, teater, dan public speaking adalah dunianya.