Kalau kita mendengar kata Pasar Senen, yang pertama kali terlintas di pikiran sudah pasti adalah nama suatu daerah di Jakarta dengan stasiun keretanya yang nggak pernah sepi terutama pas musim liburan dan mudik lebaran.
Memang betul itu Pasar Senen, tepatnya di Kecamatan Senen, Kota Administrasi Jakarta Pusat. Meski Pasar Senen sangat identik sama Jakarta, tapi ternyata nggak cuma Jakarta yang punya Pasar Senen. Nun jauh di timurnya, ada tempat bernama sama tapi punya cerita yang berbeda.
Ternyata Jogja juga punya “Pasar Senen”-nya sendiri. Literally, namanya sama-sama Pasar Senen. Pasar Senen Jogja terletak di Jalan Jogonegaran di Kampung Pathuk, Ngampilan, Kota Yogyakarta. Tepatnya ada di sebelah barat Pasar Pathuk.
Kalau Pasar Senen yang di Jakarta adalah pusat perbelanjaan grosir modern yang jadi spot favorit thrifting, Pasar Senen Jogja juga ada hubungannya sama perdagangan, namanya juga pasar. Tapi bedanya Pasar Senen yang di Jogja bukan pasar grosir, tapi pasar tradisional yang menjual berbagai kebutuhan sehari-hari.
Namanya memang nggak sebesar dan setenar Pasar Beringharjo atau Pasar Ngasem di Jogja, tapi Pasar Senen punya keunikan yang nggak dimiliki pasar lain di Jogja. Pasar yang sudah ada sejak tahun 1950-an ini memiliki predikat sebagai pasar terpanjang di Jogja. Unik, kan?
Pasar yang menyatu dengan pemukiman
Nggak kayak pasar pada umumnya yang berdiri di sebuah bangunan yang terpusat pada satu titik, Pasar Senen Jogja berada di jalanan kampung yang sempit yang menyatu dengan pemukiman padat duduk.
Karena berada di jalanan kampung, makanya bentuknya nggak biasa yaitu mengular panjang mengikuti gang. Para pedagang menjajakan dagangannya di sepanjang jalan atau gang tersebut. Saking panjangnya, kalau diturutin sampai ujungnya lumayan bisa naikin heart rate.
Pasar ini memang nggak seramai dan selengkap Pasar Senen yang di Jakarta. Tapi apa saja yang kita butuhkan hampir selalu ada di Pasar ini. Lengkap sih nggak, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Memang pasar ini nggak didesain untuk gaya hidup impulsif.
Pasar Senen buka mulai pagi sampai siang hari. Barang yang dijual di sini beragam selayaknya pasar tradisional khas Jogja. Mulai dari kebutuhan sehari-hari seperti sayur mayur, sembako, jajanan pasar, jamu tradisional, pakan burung, pakaian, dan aksesoris, serta perlengkapan rumah tangga seperti alat dapur.
Memang, pasar ini nggak sebesar Pasar Senen yang ada di Jakarta, yang punya bangunan bertingkat dan rapi. Tapi Pasar Senen Jogja juga menyimpan cerita terutama bagi para pedagang dan warga sekitar. Mereka nggak hanya mencari nafkah dan kebutuhan di pasar ini, tapi juga sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Kali awal Pasar Senen Jogja berdiri
Saat berdiri pertama kali di tahun 50-an, bentuk pasarnya belum seperti sekarang yang berupa bangunan formal semi permanen dengan dinding tembok, tetapi masih pakai gedhek atau dinding anyaman bambu. Ini menunjukkan Pasar ini telah menjadi tumpuan ekonomi para pedagang dan pelanggannya lintas generasi.
Pasar Senen Jogja memang nggak semodern dan semaju Pasar Senen yang di Jakarta. Tapi banyak individu yang bergantung hidupnya pada pasar ini. Mayoritas pedagang yang berjualan di sini adalah pedagang senior yang sudah berjualan puluhan tahun. Para simbah yang jualan di sini nggak kenal lelah meski asal mereka beberapa bukan dari wilayah pathuk, ngampilan.
Meski berada di tengah modernisasi Kota Jogja, mereka masih setia memegang tradisi di tengah gempuran kemajuan zaman. Berjualan dengan penuh dedikasi, kesederhanaan, dan dengan mempertahankan harga yang terjangkau meski mereka sendiri juga mengeluh dengan harga-harga yang terus menerus naik.
Memang perbedaan antara Pasar Senen yang ada di Jogja dan Pasar Senen yang ada di Jakarta bak bumi dan langit. Tapi keberadaan Pasar ini menunjukkan denyut ekonomi kerakyatan tetap hidup. Pasar tradisional yang penuh kesederhanaan seperti Pasar Senen ternyata masih relevan di lorong-lorong kecil di jantung Kota Jogja.
Penulis: Rizqian Syah Ultsani
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Stasiun Pasar Senen Saksi Perantau Jogja “Ampun-ampun” Dihajar dan Dirampas Jakarta, Tapi Terlalu Cemas Resign buat Balik Jogja dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok