Saya warga Lamongan yang menikahi perempuan Mojokerto. Selama setahun terakhir, saya rutin wara-wiri dan menuliskan pengalaman itu di Terminal Mojok.
Menurut saya, Mojokerto itu daerah yang komplet di Jawa Timur. Rasanya pas aja antara ketenangan desa, kekayaan sejarah Majapahit, sampai urusan fasilitas kota yang serba ada.
Tapi tunggu dulu. Rasa nyaman itu tentu tidak berlaku universal. Bagi sebagian perantau atau pendatang yang terbiasa dengan ritme kota tertentu, Mojokerto bisa saja menjadi tempat yang penuh kejutan kultural dan fungsional.
Berdasarkan pengamatan saya selama di sana, ada 5 tanda utama bahwa kalian sebenarnya nggak bakal cocok hidup di Mojokerto. Kalau kalian punya kriteria di bawah ini, mending urungkan niat daripada makan ati:
#1 Mojokerto tidak untuk orang yang mudah merasa risih dan canggung dengan bahasa krama dan etika unggah-ungguh yang kuat
Di kawasan perkotaan maupun pedesaan Mojokerto (terutama daerah selatan dan barat seperti Trowulan), budaya Jawa krama dan kelembutan bertetangga itu masih terawat dengan sangat alami.
Bagi kalian yang terbiasa dengan gaya pergaulan metropolis yang serba ceplas-ceplas tanpa sekat, atau malah tidak bisa bahasa Jawa halus sama sekali, hidup di Mojokerto bakal memberikan ujian mental tersendiri.
Kalian akan sering merasa canggung saat disapa warga lokal yang tutur bahasanya sangat halus, atau malah bingung merespons gestur unggah-ungguh mereka. Kalau kalian tipe orang yang alergi dengan formalitas etika lokal dan pemalu untuk belajar bahasa krama, kalian bakal merasa tersisih sendiri di sini.
#2 Kalian yang alergi cuaca panas dataran rendah di siang hari nggak cocok tinggal di Mojokerto
Banyak orang mengira Mojokerto itu dingin cuma gara-gara di selatannya ada kawasan pegunungan Trawas dan Pacet. Padahal itu cuma berlaku kalau kalian main ke lereng gunung!
Kenyataannya, kawasan pusat Kota Mojokerto, Puri, Sooko, apalagi Trowulan adalah daerah dataran rendah. Di siang bolong, suhunya bisa terik menyengat dan membakar kulit.
Memang tak sepanas Surabaya atau pesisir Pantura Lamongan, tapi tetap saja butuh daya tahan ekstra. Kalau kalian membayangkan hidup di Mojokerto bisa selalu memakai sweater hangat 24 jam ala lereng gunung, kalian salah alamat. Kalau tidak tahan panas, kalian bakal sambat tiap jam 12 siang.
#3 Terobsesi dengan jalan kaki dan trotoar luas di mana-mana
Kalau kalian adalah tipe manusia idealis yang terobsesi dengan jalan, bersiaplah kecewa. Mojokerto memang punya tatanan kota yang rapi, tapi kultur jalan kaki jarak jauh di sini belum menjadi budaya utama warganya.
Fasilitas trotoar yang nyaman dan benar-benar manusiawi umumnya baru terkonsentrasi di beberapa ruas jalan protokol pusat kota saja. Begitu bergeser sedikit ke kawasan pinggiran atau jalur penghubung antar-kecamatan, trotoar mendadak sirna atau berganti fungsi. Pilihan paling rasional untuk bergerak di Mojokerto tetaplah mengendarai sepeda motor.
#4 Tidak suka makanan manis-gurih dan fanatik kuliner serba pedas
Lidah warga Mojokerto dan sekitarnya cenderung menyukai profil rasa gurih yang berkelindan dengan sedikit sentuhan manis khas Majapahitan, serta olahan racikan rempah yang seimbang.
Bagi kalian pendatang yang lidahnya fanatik banget dengan kuliner asin-pedas seperti karakter masakan pesisir Pantura atau kuliner pedas ekstrem ala Surabaya atau Malang, mungkin kalian akan butuh waktu lama untuk memanjakan lidah di sini.
Olahan lokal di sini dibikin dengan cita rasa yang relatif “aman” dan ramah di lambung. Kalau tiap makan harus menuntut rasa pedas yang membakar usus, kalian mungkin bakal sering merasa masakan di sini “kurang nendang”.
#5 Mojokerto tidak untuk kalian yang mencari nightlife
Bagi kalian yang terbiasa dengan gaya hidup kota metropolitan yang tidak pernah tidur, Mojokerto jelas bukan arena bermain kalian.
Meskipun kota ini punya banyak coffee shop modern seperti Fore dan Calf, serta tempat nongkrong yang menjamur, ritme malam di Mojokerto itu sejatinya tetaplah tenang.
Setelah jam sembilan atau sepuluh malam, suasana jalanan mulai senyap. Toko-toko meredup, dan warga mulai masuk ke dalam rumah untuk beristirahat. Mojokerto diciptakan untuk mereka yang menikmati ketenangan dan keteraturan, bukan untuk pencari glamour dunia malam yang riuh.
Jika kelima hal di atas ada pada diri kalian mending lupakan mimpi tinggal di Mojokerto. Yah, Mojokerto adalah tanah yang sempurna bagi mereka yang ingin hidup tenang, menghargai kehangatan tetangga, dan menikmati keseimbangan hidup. Kalau kalian belum siap dengan karakter itu, lebih baik cari daerah lain saja!
Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 3 keunggulan Jombang yang terus terkubur karena warganya sendiri dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.