Saat hendak bepergian ke luar kota, transportasi yang pertama kali saya cari adalah kereta api. Selain lebih efisien secara waktu, naik kereta api adalah opsi paling aman untuk perjalanan jarak jauh.
Selama duduk di gerbong sesuai tiket yang sudah dipesan, kalian tidak perlu khawatir akan banyak hal. Tidak perlu kena macet, bensin habis, hingga kantuk yang tidak tertahankan. Semua terasa lebih mudah dengan naik kereta.
Itu anggapan saya dahulu sampai naik KA Airlangga beberapa waktu lalu. Saya hendak mudik ke Cepu dari Semarang naik kereta api ini. Dan, kesan pertama saya, KA Airlangga memang tidak ditakdirkan untuk semua orang, terutama yang bermental tempe.
Gerbong KA Airlangga usang dan dipaksa berhimpitan sepanjang perjalanan
Perjalanan dari Cepu ke Semarang tidak mencapai 4 jam. Namun, entah mengapa, perjalanan hati itu sangat melelahkan. Rasanya jauh berbeda ketika naik Ambarawa Ekspress atau Blora Jaya.
Kesan pertama saat naik KA Airlangga jujur saja nggak menyenangkan. Banyak koper tergeletak di samping bangku penumpang dan jelas menghalangi lalu lalang penumpang lain. Belum lagi bangku ikonik yang kemiringannya 90 derajat tanpa sekat dan langsung berhadapan dengan penumpang lain. Ditambah dengan aroma keringat membaur dan menyerbak meninju hidung bertubi-tubi.
Akhirnya, saya hanya bisa bertahan sambil sesekali mengubah posisi duduk, berharap waktu berjalan sedikit lebih cepat. Dari kejadian ini saya tau bahwa tidak semua orang cocok naik kereta, apalagi KA Airlangga yang meskipun murah tapi juga merenggut kenyamanan hingga terpaksa mengkompromikannya sepanjang perjalanan.
Memang ada AC menyala di gerbong, tapi fungsinya nggak maksimal
Saat mulai duduk di antara himpitan penumpang lain saya amat berharap pendingin udara yang menempel di atas atap gerbong bisa menjadi penyelamat. Sayangnya, harapan itu tidak sepenuhnya terwujud.
AC memang terlihat menyala, tapi hawa sejuk yang diharapkan terasa kurang maksimal ketika gerbong dipenuhi penumpang beserta barang bawaannya. Alih-alih merasa nyaman, saya dibuat harus melawan rasa gerah selama perjalanan.
Situasi ini tentu membuat pengalaman naik KA Airlangga terasa semakin komplet. Bangku tegak yang membuat punggung cepat pegal sudah cukup menguji kesabaran, ditambah ruang gerak terbatas dan aroma keringat yang bercampur di dalam gerbong.
Saya paham, harga tiket KA Airlangga kelewat murah. Saya juga tidak berharap fasilitasnya harus setara dengan kereta yang harga tiketnya lebih mahal. Namun, murah bukan berarti penumpang harus menanggalkan seluruh harapan untuk merasa nyaman, bukan?
Kalau saya boleh usul, atau barangkali ada insan KAI yang kebetulan membaca artikel saya, tolong benahi pendingin udara di kereta ini agar bisa bekerja dengan baik dan sirkulasi udara di dalam gerbong tetap terjaga. Please!
Penumpang dengan ekspektasi tinggi sebaiknya jangan naik kereta ini
Setelah melewati perjalanan yang penuh kompromi itu, saya akhirnya paham mengapa KA Airlangga tidak cocok untuk semua orang. Bagi mereka yang mengutamakan harga tiket murah dan tidak terlalu mempersoalkan kenyamanan, kereta ini jelas bisa menjadi pilihan menarik.
Akan tetapi, bagi penumpang yang berharap bisa duduk dengan tenang, menghirup udara sejuk, dan turun di stasiun tujuan tanpa merasa badan habis dipakai kerja rodi, sebaiknya pikir-pikir lagi sebelum memesan tiket.
Tentu saja, ini bukan soal perkara mental yang kuat atau tidak kuat semata, melainkan soal seberapa jauh kita bersedia berkompromi dengan ketidaknyamanan demi bepergian antar kota dengan tiket kereta paling murah.
Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Alasan saya sebagai perantau tetap pilih kereta api dibandingkan travel mobil buat pulang kampung sampai rela war tiket saat momen liburan dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.