ADVERTISEMENT

Bangkalan kabupaten yang terlalu berisik sampai nggak sadar kalau Sumenep dan Pamekasan makin melejit

Bangkalan kabupaten yang terlalu berisik sampai nggak sadar kalau Sumenep dan Pamekasan makin melejit Mojok.co

Ketika membicarakan Madura, orang sering kali menyamaratakan situasi Pulau Garam ini dari ujung barat sampai timur. Padahal, kenyatanya tidak demikian. Secara administratif saja, pulau ini dibagi menjadi empat kabupaten, yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Secara bahasa pun, keempat kabupaten ini juga memiliki perbedaan dialek yang sangat kentara ketika berbicara. Jadi, bagi orang Madura negeri mudah menebak warganya dari kabupaten mana.

Akan tetapi, yang menarik dari keempat kabupaten ini bukan cuam dialeknya saja. Kondisi perkembangan keempat-empatnya juga berbeda. Saya, sebagai warga asli Madura, merasa sangat peka dengan hal itu. Salah satunya yakni terkait betapa berisiknya kabupaten tempat saya tinggal, yakni Bangkalan. Saking berisiknya sampai nggak sadar kalau ia tertinggal dari kawan-kawannya. Nah, berikut saya jelaskan!

ADVERTISEMENT

Kabupaten Bangkalan terlalu berisik sama program kerja

Dari semua kabupaten di Madura, saya rasa Bangkalanlah yang cocok mendapat predikat kabupaten paling berisik. Saya mengatakan demikian karena telinga saya sudah capek mendengar proyek-proyek pembangunan di kabupaten ini. Alasannya, setiap ada proyekan, hanya ada dua kemungkinan yang akan terjadi, kalau tidak dibatalkan, ya paling gagal dan terbengkalai.

Ketika mau cairin anggaran saja ramai, promosinya sampai jor-joran, tapi pas tengah jalan, hilang beritanya. Entah bagaimana akhir dan dampak proyeknya.

Jika beberapa dari kalian sudah lupa dengan dengan yang saya maksud, berikut saya bantu urutkan. Pertama, Terminal Tipe A di Desa Masaran gagal ‘kan? Sudah bertahun-tahun mangkrak sekarang malah mau dijadikan tempat sampah. Kedua, sentra IKM yang ngabisin miliaran juga masih sepi kan. Ketiga, IISP belum jelas mau gimana kan? Keempat, Suramadu yang mau ngebangun pulau ini, Haduh masih omong kosong.

Jadi saran nih untuk Pemkab Bangkalan, kalau ada apa-apa jangan terlalu berisik ya. Malu sama tetangga.

Sumenep dan Pamekasan bikin harum nama Madura tanpa perlu ramai

Di sini, saya tidak akan membahas Kabupaten Sampang, karena saya telah membahasnya pada tulisan berikut, Sebagai warga Bangkalan, saya iri pada kabupaten Sampang yang diam-diam mulai berbenah. Bangkalan lewat! Maka dari itu, saya akan fokus membahas Sumenep dan Pamekasan yang diam-diam juga makin melejit. Dan tentunya, tanpa harus berisik seperti Bangkalan.

Dua kabupaten ini, Sumenep dan Pamekasan, bisa dibilang yang memikul nama baik Madura. Kalau ada kabar buruk, dua kabupaten ini yang menyapu bersih kabar itu. Misalnya nih, Festival Musik Tong-tong yang rutin diadakan oleh Sumenep dan Pamekasan kini menjadi counter dari anggapan Pulau Madura yang katanya pusat sound horeg.

Yang tak kalah mengagumkan, musik Tong-tong bahkan juga ditampilkan di provinsi lain, seperti di acara Jogja Cross Culture 2025 tahun lalu. Ayo, Bangkalan kemana? Cuma jadi penonton kan?

Lalu, pameran koleksi busana Ivan Gunawan yang bulan kemarin viral, katanya ia mengangkat batik Madura. Kalau mau lebih spesifik, itu batik Sekar Jagat, yakni batik yang berasal dari Pamekasan. Hmmm, Pamekasan lagi, pamekasan lagi.

ADVERTISEMENT

Tokoh-tokoh penting Madura kalau nggak dari Sumenep, ya Pamekasan

Selanjutnya, orang Madura yang dari Sumenep dan Pamekasan itu juga keren-keren. Kemarin sudah dibahas oleh kawan saya, Feri, pada tulisannya, katanya Pamekasan itu tempatnya para sultan. Btw, bukan di Pamekasan saja loh ya. Di Sumenep juga sama. Di Sumenep, setiap bulan Ramadan, ada tokoh yang membagikan uang secara cuma-cuma pada jama’ah tarawih. Saking ramainya, jama’ahnya sampai kumpul di lapangan sejak Ashar. Wkwkwk!

Di Bangkalan pernah ada kaya gitu? Nggak pernah ada kan.

Lalu, kalau membandingkan pejabat-pejabat di Bangkalan dan Sumenep itu juga beda. Di Sumenep misalnya, ada Mahfud MD. Siapa yang nggak tau beliau. Kalau kita melihat keburukan Madura, tokoh ini yang jadi bukti kalau Madura ada baiknya. Lah, di Bangkalan, pejabatnya blunder-blunder. Saya tak mau menyebutkan yang mana, nggak berani. Clue-nya, pokoknya perempuan pake baju hijau, sekarang ada di pemerintahan.

Yah, sudahlah. Demikian kondisi Bangkalan dibandingkan dengan kabupaten lainnya di Madura. Adanya artikel ini bukan maksud saya ingin menjelekkan nama Bangkalan ya, sebaliknya hanya agar pejabat di kabupaten ini mau berbenah diri. Jangan terlalu berisik dan sok asik lah, mending fokus saja, proyek-proyek kalian itu jelas nggak manfaatnya?

Penulis: Abdur Rohman
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Saya orang Madura dan mengakui kalau kami memang keras kepala dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.

Terakhir diperbarui pada 19 Oktober 2026 oleh .

Abdur Rohman

Seorang warga sipil Bangkalan dengan selera yang kontradiktif: mencintai segala jenis olahan mie, namun memiliki alergi akut terhadap mie-literisme.