Dalam hierarki seni pertunjukan rakyat di Indonesia, kalau kita bicara soal atraksi yang paling kolosal, megah, dan sanggup membuat penontonnya menahan napas berjemaah, Reog Ponorogo adalah pemenang mutlaknya.
Kesenian yang telah resmi diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia ini memang punya magis tersendiri. Perpaduan suara terompet slompret yang melengking, ketukan angklung yang rancak, dentuman kendang yang menghentak, hingga kelincahan para penari jatilan dan warok selalu sukses menyihir penonton dari berbagai kalangan.
Namun, di balik riuh tepuk tangan dan decak kagum penonton yang sibuk mengabadikan momen lewat kamera HP, ada satu elemen vital yang sering kali hanya dipandang sebagai dekorasi estetika visual semata: Dadak Merak.
Bagi penonton awam, Dadak Merak dalam reog hanyalah topeng raksasa berkepala harimau yang di atasnya dihiasi ratusan helai bulu merak nan indah dan mekar anggun. Namun, jika Anda liat secara detil, Dadak Merak sejatinya adalah sebuah alat uji beban ekstrem. Bobot totalnya bisa mencapai 50 hingga 60 kilogram.
Dan siapakah sosok luar biasa yang menopang beban setengah kuintal itu? Dialah Pembarong—manusia berurat kawat dan bertulang besi yang menjadi pahlawan tanpa tanda jasa di arena pertunjukan.
Atraksi menantang gravitasi yang bikin ngilu tulang belakang
Coba Anda bayangkan skenario absurd ini sejenak. Anda dipaksa menggigit sepotong kayu kecil (sebutan lokalnya centhang). Kayu tersebut terhubung langsung pada konstruksi bambu, besi, dan deretan bulu merak raksasa seberat motor matic kecil. Setelah itu, Anda diminta berdiri tegak, berjalan memutari lapangan, lalu menari, berputar. Paling gila, beratraksi meliukkan badan mengikuti irama musik.
Ingat, atraksi ini dilakukan tanpa bantuan tali pengikat di bahu, pendorong hidrolik, dan alat pengaman modern sama sekali. Semua murni bertumpu pada kekuatan otot leher, rahang, dan gigitan gigi.
Setiap kali saya melihat mas-mas pembarong mengangkat Dadak Merak hanya dengan kekuatan gigitannya, rasa kagum di dalam dada saya selalu beriringan dengan rasa ngilu di area tulang belakang. Anak-anak gym tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kekuatan leher seorang pembarong Reog.
Ketika anak muda sekarang mengeluh sakit pinggang gara-gara kelamaan duduk, pembarong ini beda. Mereka santai saja menari sambil memikul beban hidup dan beban budaya di atas kepala mereka.
Mitos kesurupan vs realitas latihan fisik tingkat tinggi dalam reog ponorogo
Banyak orang luar daerah yang menduga bahwa rahasia di balik kekuatan spektakuler para pembarong ini adalah murni karena bantuan “ilmu ghaib” atau efek kesurupan semata. Coba Anda bertandang langsung ke Ponorogo dan mengobrol dengan para seniman lokalnya. Anda akan paham bahwa di balik atraksi hebat itu ada proses latihan fisik yang sangat disiplin dan berdarah-darah.
Para pembarong tidak mendadak sakti dalam semalam. Mereka melatih kekuatan otot leher, punggung, serta ketahanan rahang secara bertahap selama bertahun-tahun. Ada proses conditioning fisik yang sangat terukur sebelum seseorang akhirnya dinyatakan layak memikul Dadak Merak di depan umum.
Selain aspek fisik, ada dimensi filosofis yang amat mendalam. Dadak Merak sejatinya adalah simbol sindiran sejarah tentang seorang raja yang dikendalikan oleh permaisurinya (kepala harimau yang ditunggangi burung merak). Untuk membawakan simbol sejarah yang penuh satir tersebut, seorang pembarong dituntut memiliki ketenangan jiwa. Tak hanya itu, juga keheningan fokus, serta rasa hormat yang tinggi terhadap tradisi warisan leluhurnya.
Ironi apresiasi: antara tepuk tangan dan kesejahteraan seniman Reog Ponorogo
Di tengah kebanggaan kita saat Reog Ponorogo tampil di panggung-panggung internasional atau festival kebudayaan megah, ada satu perenungan satire yang patut kita cermati bersama.
Kita sering kali begitu bangga mengklaim Reog sebagai identitas kebudayaan bangsa di media sosial. Namun, bagaimana dengan apresiasi kita terhadap para seniman dan pengrajin lokal di akar rumput?
Membuat satu set Dadak Merak berkualitas tinggi membutuhkan ketelitian rumit dan bahan baku yang sangat mahal. Sementara itu, para pembarong dan penabuh musik tradisional di desa-desa sering kali tampil hanya dengan honor yang alakadarnya. Mereka bertahan memikul beban puluhan kilogram tersebut bukan semata-mata karena dorongan materi. Melainkan karena rasa cinta (nguri-uri) yang teramat tulus agar api kesenian di tanah kelahirannya tidak padam ditelan zaman.
Angkat topi untuk para pembarong
Melihat pementasan Reog Ponorogo mengajarkan kita satu hal penting bahwa keindahan budaya yang sejati itu lahir dari keberanian, disiplin, dan pengorbanan yang tak main-main.
Jadi, jika lain kali Anda berkesempatan menyaksikan pertunjukan Reog Ponorogo secara langsung di alun-alun atau hajatan warga, jangan cuma sibuk merekam video Instagram Story atau terpana pada cantiknya bulu merak semata. Berikanlah tepuk tangan yang paling meriah dan apresiasi setinggi-tingginya untuk mas-mas pembarong di bawah sana.
Sebab di balik keanggunan topeng harimau itu, ada otot leher baja, rahang besi, dan semangat menjaga kebudayaan yang luar biasa berat sedang ditopang demi menghibur kita semua.
Penulis: Clarissa Cynthia Valda Illona
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok