ADVERTISEMENT

Ferrari adalah MU-nya Formula 1: pernah jadi raja, tapi sekarang malah busuk walaupun punya pembalap yang oke

Ferrari adalah MU-nya Formula 1: pernah jadi raja, tapi sekarang malah busuk walaupun punya pembalap yang oke

Bertahun-tahun menonton F1, saya lama-lama jadi kasihan dengan Ferrari. Tim berwarna merah asal Italia ini tidak hanya jadi tim paling sepuh, paling legendaris, dan tim dengan pendukung terbanyak. Ferrari juga merupakan tim yang paling banyak meraih gelar juara, baik dari segi pembalapnya dengan 15 gelar, maupun dari segi konstruktor dengan 16 gelar.

Sayangnya, kesuksesan ini seakan jadi cerita masa lalu saja. Sebab hampir dua dekade terakhir, Ferrari jadi tim busuk, tim yang tiap tahun, bahkan tiap pekan, cuma jadi olok-olokan. Ferrari benar-benar tidak bisa mempertahankan kejayaannya. Pembalap mereka yang terakhir jadi juara adalah Kimi Raikkonen di tahun 2007. Sedangkan sebagai juara konstruktor, terakhir meraihnya pada 2008.

ADVERTISEMENT

Pencapaian yang menyedihkan ini tentu bikin para Tifosi, pendukung Ferrari, bertanya-tanya tentang tim kesayangannya. Ada apa dengan Ferrari, apa yang salah dengan mereka, dan mengapa belum bisa kembali berjaya seperti dulu padahal pembalapnya bagus-bagus?

Belum punya sosok Team Principal yang bisa membawa ke arah kesuksesan

Sebagai penonton amatir F1, saya punya beberapa anabel atau analisis gembel terkait merosotnya prestasi Tim Kuda Jingkrak. Salah satu faktornya adalah pemimpin. Ferrari belum punya lagi sosok Team Principal yang punya kharisma, yang bisa mengembalikan tim ini ke masa jayanya.

Jean Todt adalah sosok terakhir yang mungkin bisa jadi contoh sukses. Sejak 1993 hingga 2007, pria Perancis ini berhasil membawa Ferrari mendominasi F1. Selama 14 tahun kepemimpinan Todt, Ferrari berhasil meraih 8 gelar juara konstruktor, dan 6 gelar juara pembalapnya, mulai dari Michael Schumacher hingga Kimi Raikkonen.

Setelah Todt tidak lagi menjabat sebagai Team Principal, nyaris tidak ada sosok yang mampu meneruskan kesuksesan dalam tubuh Ferrari. Mulai dari Stefano Domenicali, Marco Mattiacci, Maurizio Arrivabene, Mattia Binotto, hingga sekarang Fred Vasseur nyatanya belum mampu mengembalikan Ferrari ke jalur yang seharusnya: jalur juara.

Ini jelas jadi PR besar. Kalau mau kembali ke jalur juara, Ferrari harus berbenah. Mereka harus mulai mencari calon Team Principal baru yang lebih punya kharisma dan visi yang jelas. Tidak perlu terburu-buru juga, kok. Tinggal tunggu dan lihat saja bagaimana pencapaian Ferrari musim ini di bawah pimpinan Fred Vasseur.

Kalau belum maksimal, ya segera pecat dan cari Team Principal baru untuk mengarungi musim depan.

Mobil Ferrari di F1 masih sangat jauh dari kata sempurna

Faktor lain yang membuat Ferrari makin busuk di F1 adalah masalah mobil. Entah mengapa dalam 5-10 tahun terakhir, Ferrari selalu bermasalah dalam urusan mobil. Masalahnya pun bermacam-macam. Mulai dari masalah performa mesin, aerodinamika, pengereman yang juga kerap tidak stabil, hingga manajemen ban yang buruk.

Kalau kita cermati setiap balapan, para pembalap Ferrari, mulai dari Charles Leclerc, Carlos Sainz Jr., hingga Lewis Hamilton selalu sambat hal yang sama. Sambatnya pasti masalah rem yang kerap mengunci, tenaga mesin yang kurang maksimal, hingga masalah ban yang “cepat habis” sehingga tidak maksimal ketika balapan berlangsung.

ADVERTISEMENT

Ini juga jadi PR besar buat Ferrari. Seharusnya mereka sudah sadar akan masalah mobil, dan sudah mulai mencari solusinya. Ini masalah yang harus segera mereka selesaikan. Kalau tidak, ya siap-siap saja menanggung malu karena kalah kencang dengan mobil dari Alpine atau bahkan mobil dari Haas.

Strategi tim yang jelek, hingga masalah perlakuan kepada kedua pembalap

Strategi tim juga masih menjadi masalah dalam tubuh Ferrari. Ini masalah yang seakan sudah mengakar, dan entah mengapa tidak kunjung beres sampai sekarang. Dua musim terakhir ini misalnya, berantakannya strategi tim jadi salah satu penyebab dari kurang maksimalnya hasil tiap balapan.

GP Las Vegas pada November 2025, kesalahan perhitungan ban membuat Charles Leclerc gagal podium. GP Hungaria pada Juli 2026, instruksi tim kepada Lewis Hamilton untuk masuk pit saat Virtual Safety Car membuat pembalap asal Inggris itu kehilangan posisi dan gagal podium. Sementara di GP Belanda pada Agustus 2026, komunikasi tim Ferrari buruk sekali, serta strategi team order antara Charles Leclerc dan Lewis Hamilton yang berantakan sehingga keduanya tidak bisa naik podium.

Kejadian-kejadian di atas jadi bukti nyata betapa Ferrari seakan clueless terkait strategi tim. Ini juga menunjukkan bagaimana Ferrari juga belum maksimal terkait perlakuannya kepada kedua pembalap. Dua hal ini akhirnya nyambung ke masalah kurangnya sosok pemimpin dalam tubuh Ferrari. Jadi, ya tidak heran kalau Ferrari masih berkutat di lubang kebusukan sampai sekarang.

Ferrari sudah seperti MU, cuma bisa membanggakan pencapaian masa lalu

Melihat bagaimana performa Ferrari dalam beberapa tahun terakhir, tentu ada rasa kasihan sekaligus gemas. Kita kasihan karena sebagai tim tersukses dan paling legendaris, mereka tidak seharusnya jadi seperti ini. Tapi kita juga gemas, sudah tahu performanya makin busuk, kok ya tidak segera cari solusi.

Akhirnya, Ferrari ini sudah mirip seperti Manchester United, yang hanya membanggakan sejarah masa lalu. Keduanya sama-sama tim besar, tim legendaris, dan tim yang sukses. Sayang, kesuksesannya hanya sekadar cerita masa lalu saja. Sekarang, Ferrari masih sangat kesusahan untuk kembali ke jalur kesuksesan, sama seperti MU. Apalagi fanbase keduanya sama-sama besar dan berisik pula. Hadeuuhh.

Inilah bukti bahwa F1 adalah olahraga tim. Mau punya pembalap kelas atas seperti Charles Leclerc atau Lewis Hamilton sekalipun, kalau tidak punya sosok pemimpin dan strategi tim yang bagus, ya hasil akhirnya juga akan gitu-gitu saja. Stagnan, bahkan makin buruk.

Jadi, masih percaya next year is our year atau tidak? Kalau masih percaya, apalagi dengan situasi yang stagnan seperti ini, ya get well soon kalau begitu.

Penulis: Iqbal AR
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Pelajaran dari Film “Ford Vs Ferrari”, Susahnya Dihargai Sama Bos yang Sentimen

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 Oktober 2026 oleh .

Iqbal AR

Penulis lepas lulusan Sastra Indonesia UM. Menulis apa saja, dan masih tinggal di Kota Batu.