Sebagai bagian dari barisan manusia yang tumbuh bersama pita kaset, saya cuma bisa tersenyum kecut melihat riuhnya polemik di media sosial belakangan ini. Adik-adik Gen Z mendadak kompak menarik satu kesimpulan yang lumayan menggelitik. Katanya, generasi Milenial itu kaku, minim empati, dan kudu ikut kursus kilat cara berkomunikasi.
Tuduhan kalau kami gagap berkomunikasi ini sejujurnya terasa janggal. Ibaratnya, ini mirip anak kecil yang baru belajar berdiri, tapi sok-sok mengajari orang yang sudah mahir berlari tentang cara berjalan. Tanpa bermaksud menggurui, biar saya ceritakan sedikit rasanya jadi generasi yang kenyang makan asam garam dari era pager hingga zaman voice note.
Milenial adalah penerjemah bahasa multigenerasi, termasuk Gen Z
Gen Z suka lupa kalau Milenial sebenarnya adalah generasi paling terjepit. Kami hidup dan berinteraksi di antara lima generasi. Posisi ini unik sekaligus melelahkan lantaran berdiri persis di tengah-tengah.
Setiap hari, Milenial dituntut lihai menyeimbangkan gaya komunikasi. Mulai dari generasi Boomer dan Gen X yang sangat hirarkis, Gen Z yang serba instan serta sensitif, hingga Gen Alpha yang kelewat kritis sampai kadang menjurus ke arah asbun alias asal bunyi.
Secara logika saja, kalau Milenial benar-benar dianggap nggak tahu cara berkomunikasi, kehidupan sosial pasti sudah ambyar sejak lama. Apalagi, ekosistem dunia kerja. Siapa lagi kalau bukan Milenial yang setiap hari pasang badan menerjemahkan bahasa Gen Z yang penuh dengan ekspektasi idealis agar bisa diterima dengan akal sehat oleh manajemen senior yang berpatokan pada angka dan target bisnis?
Kami paham kapan harus memakai bahasa resmi di ruang rapat direksi. Pun, khatam caranya mencairkan suasana saat duduk santai. Jadi, kalau gaya komunikasi fleksibel kami ini masih dibilang amatir, mungkin kalian yang perlu ambil kelas public speaking. Cara bicara kami bukannya nggak fasih komunikasi, ini namanya diplomasi tingkat tinggi.
Ada perbedaan besar antara komunikasi dan overvalidasi
Bagi kaum Milenial, ada satu hal mendasar yang tampaknya sering luput dari pengamatan Gen Z. Meski mereka bilang gaya bahasa Milenial itu galak, sebenarnya pangkal masalahnya sederhana. Dari kacamata Milenial, Gen Z terbiasa menuntut validasi emosional di setiap interaksi. Bahkan, dalam konteks pekerjaan yang sifatnya teknis.
Ketika mendapati instruksi atau koreksi pekerjaan, nggak sedikit dari mereka yang langsung merasa tertekan. Padahal pesan itu ringkas memang karena tujuannya cuma menyampaikan poin penting, bukan lantaran pengirimnya murka. Lucunya, kalimat pendek tanpa balutan kata-kata manis atau basa-basi tersebut dianggap sebagai bentuk ancaman mental.
Sebagai seorang Milenial, jelas saya membantah kalau angkatan kami kekurangan kemampuan komunikasi. Justru, Gen Z sendiri yang sering mencampuradukkan antara umpan balik profesional dengan penilaian pribadi. Dikritik sedikit soal laporan yang berantakan, rasanya langsung seperti diserang secara personal.
Padahal, belajar memisahkan antara emosi pribadi dan tugas pekerjaan itu adalah bentuk kedewasaan komunikasi yang sebenarnya. Bagaimanapun, nggak semua obrolan kantor harus diubah jadi sesi konseling. Sekarang paham kan, mengapa predikat Generasi Strawberry dilekatkan kepada para Gen Z?
Rajin menyematkan emoji pada pesan teks bukan wujud komunikasi yang efektif
Gen Z boleh jadi merasa paling pandai berkomunikasi hanya karena mahir merangkai emoji, stiker lucu, bahasa slang, atau sigap membalas chat hitungan detik. Di kepala mereka, obrolan ramai yang penuh warna dianggap tolok ukur komunikasi sehat. Sebaliknya, pesan singkat dan lugas langsung dicap dry text.
Kenyataannya, hakikat komunikasi jauh melampaui itu semua. Komunikasi sejati adalah soal substansi dan kejelasan arah. Lagipula, penggunaan emoji ala Gen Z makin ke sini, makin absurd. Emoji menangis histeris saja malah dipakai untuk mengekspresikan hal yang lucu setengah mati.
Sementara, Milenial tumbuh di era transisi yang dinamis. Dari surat-menyurat, SMS bertarif per karakter, hingga e-mail dan WhatsApp. Pengalaman melintasi berbagai media ini menempa kami untuk mengerti betul bahwa komunikasi, terlebih ranah profesional, butuh struktur pemikiran matang.
Ketika Millennial mengirim pesan tanpa bumbu emoji senyum di akhir kalimat, itu bukan bentuk passive-aggressive. Itu adalah wujud efisiensi, profesionalisme, dan bentuk hormat atas waktu orang lain. Jadi, tolong jangan samakan sikap asertif ini dengan kesan ketus.
Intinya, buat adik-adik Gen Z, mengertilah kalau gaya komunikasi kami ini bukanlah wujud permusuhan. Apalagi tanda kami ketinggalan zaman. Ini hanyalah mekanisme bertahan hidup dari generasi veteran yang sudah lelah dengan bermacam urusan.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Jalanan Jogja terlalu diromantisasi, aslinya lebih jahat dari jalanan Jakarta.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.