“Monggo, jangan pura-pura (sibuk). Kira-kira masih butuh Pak Dukuh nggak? Bentar lagi tujuhbelasan”.
Sebuah pesan WA dilontarkan warga dusun tepat setelah Pak Dukuh mengimbau pemuda karang taruna untuk membantu pelaksanaan acara di desa.
Sejauh mata memandang dan telinga mendengar, saya jarang menemukan karang taruna yang begitu diminati. Termasuk di dusun saya sendiri.
Perlu diakui, saat SMA saya tidak sepenuhnya tinggal di rumah. Oleh sebab itu, saya tidak begitu mengenal karang taruna di dusun tempat saya tinggal. Meski begitu, saya cukup menaruh perhatian pada organisasi ini. Bagaimanapun, mungkin saya akan menghabiskan masa hidup saya bersama orang-orang mantan pengurus karang taruna. Entah di desa sendiri atau desa lainnya.
Saya akan hidup bersosial dengan cara kerja organisasi itu. Masalahnya, karang taruna belum menunjukkan dirinya sebagai organisasi yang digarap serius.
Kondisi karang taruna di desa
Barangkali tahun lalu, seorang teman—yang ia sendiri aktif kegiatan di desanya, bilang tidak masalah jika seseorang tidak mengikuti karang taruna. Alasannya, organisasi ini tidak bisa menghidupi anggotanya. Lebih jauh, seseorang bisa terjerumus ke dalam urusan orang lain yang tidak perlu—menjadi tempat curhat sesama pemuda.
Dompet tidak menjadi tebal, tapi turut pusing karena masalah teman. Jadi ya, wajar kalau orang-orang nggak ikut.
Tahun ini, saya berkesempatan melihat organisasi ini dari dekat saat melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Tampaknya, menjadi sebuah kelaziman bagi karang taruna ketika ia tidak berjalan regeng (kompak).
Dalam sebulan, tiga kali kelompok KKN turut serta dalam kegiatan karang taruna. Dalam kesempatan ketiga-tiganya, ketuanya tidak pernah hadir. Panitia acara cukup saling ragu dan saling lempar saat menentukan keputusan. Acara ngaret bisa satu jam. Di tempat KKN teman, pemudanya bahkan diseneni (dinasihati) warganya karena menganggarkan acara melebihi pasak daripada tiang.
Sependek yang saya tahu, kondisi serupa terjadi di dusun saya. Karang taruna terseok-seok untuk kompak. Kerap WhatsApp Group berisi pertanyaan, “Mana ini orangnya? (Kok belum dateng)”. Orang-orang sulit kumpul, termasuk saya.
Mencoba memahami karang taruna
Kalau menuntut kepengurusan yang aktif dan terorganisir dengan baik, agak sulit. Berkaca dari mahasiswa KKN ataupun organisasi mahasiswa saja, ia acap kali—tidak selalu—masih kesulitan mengoptimalkan anggotanya untuk turut diberdayakan tenaga dan (utamanya) pikirannya. Saya termasuk dalam golongan yang kesulitan itu.
Dalam kasus karang taruna, “pemain inti” saja tidak mesti bisa diandalkan dalam kemampuan dan waktunya, apalagi ia dituntut memikirkan kualitas regenerasinya. Ini jelas sulit.
Mereka bukan mutlak tidak mau. Kondisinya, anggota karang taruna datang dari berbagai kalangan usia dan latar belakang. Satu, biasanya anggotanya terdiri dari anak SMA, pekerja, mahasiswa, dan (satu atau dua) orang yang sudah berkeluarga.
Dua, mereka juga datang dari berbagai RT. Menurut DPL (Dosen Pembimbing Lapangan) saya, ini juga jadi faktor sulitnya karang taruna kompak. Saya turut menyetujuinya. Sebab dari segi kebiasaan dan watak saja, antarwarga RT di dusun saya memiliki perbedaan. Walaupun, sepertinya jarang karang taruna yang hanya berisikan pemuda satu RT.
Tiga, anggota terhimpit prioritas lain; ekstrakurikuler, kerja (bergaji mungil), mengurus keluarga, kuliah, dll. Empat, tidak semua karang taruna punya pembina. Baik dukuh maupun orang lainnya.
Lima, regenerasi keterlibatan pemuda pada kegiatan desa cenderung lambat. Pemuda banyak dilibatkan tenaganya saja; tukang parkir salah satunya. Sementara peran yang membutuhkan keahlian seperti MC, sambutan acara, memimpin acara (tahlilan, misalnya), mengoordinasi acara/kepanitiaan besar yang membutuhkan banyak persiapan, baik konsep maupun teknisnya, masih cenderung dipegang bapak-bapak. Bukan pemuda apalagi pemudi.
Menuntut mereka untuk terlibat aktif dalam kegiatan karang taruna saja tidak cukup. Mereka butuh alasan yang lebih kuat untuk terlibat aktif.
Pertanyaannya, benefit apa yang bisa diberikan organisasi ini sehingga anggotanya mau menggeser kegiatan karang taruna menjadi kegiatan yang diprioritaskan?
Seberapa jauh organisasi ini dapat mengakomodasi kebermanfaatan yang dibutuhkan anggotanya
Saya cukup familiar dengan statement yang bernuansa ancaman bahwa: tidak ikut karang taruna artinya tidak dibantu dalam keperluan hajatnya. Sepertinya, ancaman seperti ini sudah tidak begitu mempan.
Realitas telah lebih dulu meminta mereka bergerak untuk memenuhi hajat hidup yang dekat. Kebutuhan akan makan, cicilan, dan sumbangan sosial (segala bentuk hajatan di desa). Lagian, kini semua sudah dikomersialkan. Wedding organizer sudah masuk desa, barangkali eksistensi rewang dan nyinom perlahan-lahan memudar.
Akan berbeda cerita saat karang taruna mampu menjadi ruang tumbuh yang hasilnya lebih bisa dirasakan oleh anggotanya. Kemampuan yang membutuhkan skill seperti yang sudah disebutkan di atas akan berguna secara langsung dan dapat dipraktikkan di mana pun ia berada. Baik di dusunnya, di organisasi lainnya, atau bahkan, di tempat kerja. Sehingga mereka sudah terbiasa dengan budaya kerja yang kolaboratif, saling transfer knowledge.
Cara yang bisa ditempuh
Menurut dua orang yang saya temui; direktur bank sampah dusun dan teman yang aktif di karang taruna, untuk menggaet semangat anggotanya, mereka perlu ‘disenang-senangkan’ dalam proses berorganisasi.
Reward bisa dalam berbagai bentuk, asal menguntungkan yang menghidupi organisasi ini.
“Beri uang bensin/jajan saat bertugas—menyebar proposal acara tujuhbelasan, misalnya—dan tak lupa diberi tanggung jawab target. Tanggal 8 harus selesai”.
Transfer pengetahuan dari orang terdahulu ke generasi yang lebih muda dilakukan secara aktif melalui pendekatan personal dan humanis. Disrawungi, diajak main bareng, dan diarahkan. Bukan sekadar diatur-atur tanpa ruang dialog.
“Sekarang (kalau ada apa-apa) sudah berani menelepon (untuk bertanya)”, tutur teman saya, saat menceritakan progres pemudanya.Cara memberi reward seperti ini masuk akal. Kalau di organisasi kampus—terlepas dari minat tidaknya anggota organisasi, bagus tidaknya organisasi—organisasi masih bisa merekrut anggotanya atas nama manfaat mendapatkan sertifikat atau kewajiban kampus.
Saran terakhir, melalui stakeholder, uang dusun/desa bisa disalurkan untuk merekrut seorang ahli manajemen organisasi untuk melatih anggotanya agar memiliki kegiatan yang saling menguntungkan dan bergerak secara efektif. Baik untuk anggota maupun warganya. Terlebih, baik karang taruna maupun sesepuh warganya tidak memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk menjalankan organisasi ini.
Sehingga karang taruna bukannya tidak penting, ia hanya perlu berbenah. Jadi, basisnya bukan sekadar punya kegiatan, tapi punya kegiatan yang secara sengaja dibuat untuk menumbuhkan anggota dan dusun itu sendiri.
Penulis: Feri Hamdani Putra Fasa
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.