Kalian pernah dengar Kabupaten Mahakam Ulu? Belum? Nah, duduk sebentar, saya ceritakan tentang kabupaten dengan akses paling susah di Indonesia
“Pengalamanmu banyak ya, sudah pernah keliling ke banyak daerah di Indonesia.”
Saya mengatakan itu kepada seorang kawan yang statusnya adalah relawan dan sudah banyak ke daerah di Indonesia. Apa yang dilakukannya mengharuskannya mendatangi daerah terpencil, termasuk beberapa daerah di Kalimantan yang saya sendiri belum pernah mendatanginya.
Saya sering kagum ketika dia bercerita. Kagum karena punya teman yang selalu punya cerita baru, sekaligus kagum karena Indonesia memang begitu luas. Saya jadi menyadari bahwa pengetahuan saya soal daerah di Indonesia masih sangat terbatas.
Kawan saya kemudian bertanya, “Pernah dengar daerah Mahakam Ulu?”
Saya coba mengingat-ingat tapi yang familiar adalah Sungai Mahakam. Tentu saja, Sungai itu memang terkenal, bukan? Tapi Mahakam Ulu sebagai sebuah kabupaten, rasanya saya baru mendengarnya.
Dari pertanyaan sederhana itu, pembicaraan kami berkembang. Ia mulai bercerita soal pengalaman saya ketika bertugas di Kalimantan dan gambaran tentang kondisi daerah-daerah yang akses dalam segala kebutuhan dasar sangat sulit. Dan salah satu daerah yang akses untuk segala halnya sulit karena faktor geografis adalah Kabupaten Mahakam Ulu.
Geografi Mahakam Ulu yang tidak mendukung
Jadi, bagi penduduk yang hidup di Mahakam Ulu, persoalannya tidak hanya mengenai jauhnya jarak dari kota besar, dalam hal ini Kota Samarinda. Ada tantangan lain yang harus rela dihadapi. Kesulitan akses transportasi, mobilitas yang terbatas, distribusi barang yang butuh biaya lebih besar karena medan yang sangat sulit, dan persoalan kebutuhan dasar seperti beras dan bensin yang harganya bisa sangat mahal.
Secara geografis, Mahakam Ulu berada di bagian hulu Sungai Mahakam dan berbatasan dengan Malaysia. Daerahnya dipenuhi kawasan perbukitan, pegunungan, hutan, dan Sungai. Selama bertahun-tahun, Sungai Mahakam menjadi salah satu jalur utama penduduk setempat untuk keluar-masuk daerah tersebut.
Dari data yang saya peroleh, pada September 2025, Pemprov Kaltim masih menyebut Mahakam Ulu masuk sebagai daerah yang terisolasi dari provinsi tersebut. Bayangkan, sama provinsinya saja terisolasi.
Argumen ini bisa jadi didasarkan pada ketergantungan terhadap moda transportasi air. Hal itu tentu berimplikasi pada biaya logistik yang lebih mahal kemudian efeknya terhadap harga kebutuhan pokok yang juga mahal. Sampai pada akses kebutuhan dasar seperti pendidikan dan kesehatan pun jadi sulit.
Memang ada perbaikan akses yang lumayan pada awal tahun 2026. Tering-Ujoh Bilang akhirnya membuat Kutai Barat dan Mahakam Ulu terhubung melalui jalur darat. Pemprov Kaltim meresmikannya pada Januari 2026 setelah selama puluhan tahun akses menuju Mahakam Ulu sangat bergantung pada Sungai Mahakam.
Sayangnya, terhubungnya jalan tersebut tidak menghilangkan seluruh masalah tentang konektivitas. Sebab, kecamatan yang posisinya berada di hulu, misalnya Long Pahangai dan Long Apari, masih menghadapi persoalan distribusi yang jauh lebih berat.
Biaya distribusi yang membengkak
Kawan saya bercerita, dampak paling mudah dilihat adalah harga bahan pokok. Jadi ketika akses distribusi susah, biaya membawa komoditas dari luar Mahakam Ulu jadi tinggi. Kondisi geografis, keterbatasan transportasi, dan tingginya biaya logistik akhirnya jadi tantangan yang akrab dihadapi untuk menjaga harga pangan.
Ada informasi menarik, Wakil Bupati Mahakam Ulu bahkan bilang kalau harga beras di daerah tersebut sempat menyentuh Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per karung. Pihaknya sampai harus memberikan subsidi dari sisi logistik kepada toko yang menyalurkan beberapa bahan pokok, termasuk beras. Selain itu, sering diadakan pasar murah untuk membantu penduduk setempat.
Di sisi lain, masalah geografis ini juga dihadapi oleh penduduk yang ingin menjual komoditas hasil buminya. Jadi ketika mereka ingin menjual, mereka harus dihadapkan biaya logistik yang juga tinggi. Sebab, komoditas yang mereka jual harus menempuh perjalanan panjang untuk mencapai pasar yang skalanya besar. Mereka jadi harus menanggung ongkos angkut yang tinggi.
Bisa dibilang, penduduk di Mahakam Ulu menghadapi situasi sulit. Di satu sisi mereka harus mengeluarkan biaya tinggi untuk membeli Komoditas pokok dari luar. Tapi di sisi lain, mereka juga tidak mudah menjual komoditas lokal karena akses ke pasar utama juga butuh biaya tinggi.
Lalu kenapa tak menambah konektivitas daerah ini dengan menambah jalan? Kan solusi supaya logistik turun ya memperbaiki konektivitas antar daerah melalui jalan.
Pusing deh pusing
Masalahnya begini, material untuk membangun jalan itu harus didatangkan dari luar daerah. Sementara tadi sudah dijelaskan bagaimana sulitnya akses darat di Mahakam Ulu ini. Bayangkan bagaimana material harus melalui jalur Sungai. Apa nggak pusing itu kontraktornya?
Kementerian Keuangan bahkan pernah memasukkan Mahakam Ulu dalam kelompok daerah dengan infrastruktur rendah dan tingkat kemahalan konstruksi tinggi. Artinya, daerah ini harus mengeluarkan biaya pembangunan yang lebih besar justru ketika sedang berusaha memperbaiki keterbatasan infrastrukturnya.
Pertanyaan lanjutannya, berapa si dana TKD yang diterima Mahakam Ulu dari Pemerintah Pusat? Tahun 2026, TKD dari pusat untuk Mahakam Ulu hanya Rp847,10 miliar. Angka itu turun 48,85% dari tahun sebelumnya karena efisiensi. Nominal TKD tersebut tergolong kecil bila dibandingkan daerah di provinsi yang rata-rata di kisaran Rp2 triliunan. Bayangkan daerah terisolasi, tapi TKD-nya begitu seret.
Memang, sebuah daerah punya PAD-nya sendiri. Tapi mau berharap apa dengan daerah yang secara geografis begitu terisolasi begini? Potensi lokal apa yang bisa dikembangkan? Memangnya ada investor yang masuk?
Gambarannya begini, Mahakam Ulu butuh jalan supaya logistik murah. Tetapi untuk membangun jalan, pemerintah butuh biaya besar karena jalur logistic untuk segala material yang dibutuhkan sulit masuk. Sementara di sisi lain anggaran belanja pemda terbatas karena dipangkas.
Tak melulu karena geografis Mahakam Ulu
Saya jadi memandang bahwa persoalan Mahakam Ulu tidak hanya soal daerahnya yang jauh. Tapi kondisi geografisnya yang diisi pegunungan dan Sungai membuat ongkos untuk mengatasi posisinya terpencil jadi lebih mahal.
Dampaknya lalu terasa ke segala aspek, mulai dari harga kebutuhan, kegiatan usaha, pembangunan infrastruktur, hingga akses pendidikan dan kesehatan pun ikut terasa sulitnya.
Dari sini, saya memahami bagaimana seharusnya kita memandang ketimpangan pembangunan antarwilayah. Sejatinya tidak semua daerah bisa memulai sebuah pembangunan di titik yang sama, dan karena itu tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan cara yang seragam. Ada daerah yang cukup dengan membangun jalan bsa mengatasi masalah akses dan distribusi.
Namun, ada daerah seperti Mahakam Ulu, yang membangun jalan saja sudah jadi persoalan tersendiri.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.