Sebagai seseorang yang pernah mengenyam pendidikan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan UIN Sunan Kalijaga Jogja, plus beberapa kali main ke UINSA Surabaya dan UIN Walisongo Semarang, saya merasa sudah paham betul di luar kepala bagaimana “DNA” anak UIN itu dibentuk.
Saya hafal gestur mereka, cara berpakaiannya, gaya komunikasinya, hingga ritme keagamaan yang mengalir di lingkungan kampusnya.
Namun, ketika kemarin melangkahkan kaki ke UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, kepala saya mendadak dipenuhi tanda tanya besar. Rasa-rasanya ada hal janggal dalam kiblat per-UIN-an Indonesia. Kampus ini memang menyandang papan nama “UIN”, tapi atmosfer, kultur, dan gestur mahasiswanya jujur saja nggak UIN banget. Berikut adalah beberapa hal yang bikin saya terheran-heran.
#1 Minim kultur pesantren seperti kehilangan roh kampus islami
Di UIN Malang, kultur pesantren itu nyaris mutlak. Hampir seluruh mahasiswanya pernah merasai dinginnya ubin pondok pesantren, lengkap dengan kewajiban Ma’had di awal masa perkuliahan. Di UIN Jogja pun, tradisi diskusi kitab, pemikiran Islam, dan latar belakang santrinya terasa teramat kental.
Akan tetapi, di UIN Jakarta, nuansa santri itu seolah menguap. Mayoritas mahasiswanya sepertinya memang bukan berlatar belakang pesantren. Akibatnya, kultur keseharian yang terbangun terasa sangat kering dari nuansa keislaman yang biasa saya temui di Jawa Timur atau Jogja. Alih-alih terasa seperti kampus Islam, atmosfernya justru lebih mirip PTN umum biasa yang kebetulan ada embel-embel agama-nya.
#2 Bangunan masjid yang biasa saja, padahal masjid adalah “kunci” bagi UIN
Bagi anak UIN di mana pun berada, masjid adalah pusat tata suryanya. Iya, masjid adalah representasi, wajah, sekaligus kebanggaan utama kampus. Di UIN Malang ada Masjid Ulul Albab dan Masjid tarbiyah yang ciamik dan selalu riuh kegiatan, di UIN Jogja ada masjid laboratorium agama yang ikonik.
Di UIN Jakarta? Masjid utamanya terasa biasa saja untuk ukuran kampus sebesar dan setenar itu. Yang paling bikin saya miris adalah saat mampir ke area FISIP. Masjidnya dibangun “los” tanpa tembok di sisi kanan dan kiri.
Ditambah lagi, kondisi kamar mandinya agak kurang bersih. Padahal untuk kampus berbasis keislaman, kebersihan tempat bersuci harusnya jadi standar paling mendasar. Dan jujur saja, mohon maaf, malah masih lebih bagus dan terawat mushola di dusun saya di Lamongan.
#3 Interaksi putra-putri cenderung “bablas” tanpa sekat
Satu kebiasaan yang melekat pada anak UIN di daerah adalah adanya boundaries atau jarak yang canggung antara mahasiswa putra dan putri. Dan inilah ciri khasnya mahasiswa UIN. Seminimal-minimalnya saat berada di lingkungan kampus, ada batasan etik dan rasa sungkan yang dijaga dalam berinteraksi.
Di UIN Jakarta, sekat itu seolah melebur total. Hubungan dan cara komunikasi antara cowok dan cewek terasa sangat rapat, santai, dan tanpa jarak. Mirip gaya pergaulan anak nongkrong di kafe-kafe Jakarta.
Begitu pula dengan gaya berpakaian dan sikap kesehariannya. Apakah ini pengaruh gaya hidup metropolis ibu kota yang serba bebas dan terbuka? Entahlah, tapi yang jelas, ini sangat kontras dengan pemandangan di UIN Malang atau Jogja.
#4 Unggah-ungguh dan gestur khas santri yang meluntur
Sebagai alumni UIN di Jawa, ada satu standar etika tidak tertulis yang selalu dijaga: unggah-ungguh. Biasanya, anak UIN itu punya gestur khas saat berpapasan dengan orang lain atau dosen.
Minimal mereka akan senyum, membungkukkan badan, atau bahkan salim jika bertemu dosen. Ada rasa hormat lokal khas pesantren yang refleks keluar begitu saja.
Nah, di UIN Jakarta, gestur halus itu nyaris tak nampak. Cara mereka menyapa atau melewati orang lain terasa datar-datar saja, khas warga kota besar yang individualis dan serba terburu-buru. Tidak ada kehangatan ikatan tradisi yang biasa menyatukan sesama warga UIN.
#5 UIN Jakarta Mungkin Memang Beda
Mungkin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memang sengaja mendesain dirinya menjadi representasi Islam modern-metropolitan yang lebih sekuler dan adaptif dengan dinamika ibu kota.
Tapi, bagi alumni UIN “kultur Jawa” seperti saya, pengalaman mampir ke sana menyisakan ruang hampa. Serasa masuk ke sebuah rumah orang yang kita kenal dekat, tapi begitu masuk ke dalam, isinya adalah orang-orang asing yang tak lagi mengenali tradisi keluarganya sendiri.
Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.