Di Brebes ada tradisi saweran. Pihak yang punya hajat akan membagikan uang (dengan cara melempar atau menyebar), baik uang koin maupun kertas, kepada mereka yang sudah datang ke hajatan mereka. Biasanya, tradisi saweran ada saat hajatan pernikahan, sunatan, hingga batita mulai berjalan pertama kali. Bahkan, momen khatam Al-Quran, beli motor baru, juara kelas juga ada sawerannya.
Saweran di Brebes sebenarnya bentuk rasa syukur yang punya hajat. Itu mengapa, rasanya kurang afdal kalau suatu hajatan tidak ada tradisi saweran. Bahkan, si empunya hajat bisanya menganggarkan budget khusus untuk tradisi ini. Jumlahnya bisa mencapai jutaan untuk sekali hajatan.
Jujur, tamu yang hadir sebenarnya tidak mengejar nominal. Mereka hanya turut meramaikan hajatan dengan ikut tradisi saweran. Dapat Rp500 dan Rp5.000 sama saja karena yang diincar adalah sensasi berebut uangnya.
Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, tradisi saweran Brebes sepertinya sedikit bergeser. Dari semula ikut meramaikan hajatan, kini jadi meramaikan dan mencari cuan. Maklum, hasil yang didapat dari ikut saweran memang lumayan, apalagi in this economy. Hasilnya bisa disandingkan atau mirip dengan kerja serabutanlah.
Budget tradisi saweran Brebes yang nggak main-main
Budget saweran penyelenggara hajatan bisa fantastis karena tidak ditanggung sendiri. Biasanya, ada dukungan keluarga dan tetangga terdekat. Tetangga, setidaknya jarak 5 rumah sudah pasti patungan juga untuk saweran. Kerabat jauh juga tak mau ketinggalan. Kalau ditotal, mungkin saweran sunatan bisa sampai Rp2 juta.
Angka paling fantastis saat acara nikahan. Pemilik hajatan bisa menabung sampai dua juta untuk saweran yang dikumpulkan dalam dua ember penuh. Apalagi, ada dua keluarga dari mempelai perempuan dan laki-laki. Makin banyak bukan?
Itu mengapa, sekali ikut saweran, satu orang bisa dapat Rp50 ribu. Ya, itu tergantung dengan skill masing-masing. Kalau lebih jago, bisa sampai Rp100 ribu. Apalagi dengan alat yang semakin canggih dan kreatif, seperti payung atau kain samping yang dililitkan ke leher. Jatah jajan dua hari didapat dengan satu kali ikut saweran.
Incaran pekerja serabutan
Tidak heran kalau tradisi saweran kini bergeser jadi incaran pekerja serabutan. Duitnya memang bisa lumayan. Di Brebes, Upah Minimum Kabupaten (UMK) hanya sekitar Rp2,4 juta. Itu pun berlaku bagi perusahaan yang mengikuti aturan pemerintah. Sementara beberapa perusahaan lainnya bahkan hanya sanggup membayar pekerja setengahnya.
Nasib pekerja serabutan tentu lebih tidak pasti. Hari ini dapat kerja, besok belum tentu. Mendapat upah 50 ribu saja sudah cukup untuk disyukuri. Maka, jangan heran kalau saweran dalam hajatan jadi incaran.
Bagi sebagian pekerja serabutan, saweran bisa jadi pemasukan tambahan yang lumayan. Tak jarang, mereka rela datang dari kecamatan lain hanya untuk berburu saweran.
Misalnya begini. Ada warga Kecamatan Ketanggungan yang hendak menyunatkan anaknya di Kecamatan Banjarharjo. Seperti tradisi yang biasa dilakukan, anak yang disunat diarak menggunakan iring-iringan mobil dan motor menuju tempat mantri.
Nah, ketika rombongan ini pulang dan melewati wilayah lain, warga yang melihat pawai bisa saja ikut meramaikan perjalanan sampai ke Ketanggungan. Tentunya dengan niat mencari saweran.
Kalau sedang beruntung, dalam sehari bisa dapat beberapa hajatan. Pagi menghadiri acara sunatan. Siang bergeser ke hajatan pernikahan. Kalau sedang musim hajatan, dalam satu desa bahkan bisa ada empat acara sekaligus.
Hitung-hitungan sederhananya memang menggiurkan. Daripada menunggu pekerjaan yang belum tentu datang, lebih baik berkeliling mengikuti hajatan yang jelas-jelas menyediakan peluang mendapatkan uang. Saweran pun menjelma menjadi semacam ladang cuan musiman bagi pekerja serabutan.
Informasi cepat menyebar
Uniknya lagi, informasi soal saweran di Brebes itu cepat sekali menyebar. Saya punya pengalaman lucu. Kebetulan, pagi itu saya mau ke pasar lewat gang. Tiba-tiba ada warga dusun lain yang tanya ke saya.
“Yang sunatan rumahnya di mana?”, tanyanya
“Sunatan? Waduh saya ga tahu,” jawab saya dalam bahasa Sunda.
Usut punya usut, ternyata ada tetangga saya jarak dua rumah yang mau sunatan. Sekedar sunatan tanpa bikin hajatan besar-besaran. Ternyata, kabar ini sudah sampai ke warga sebrang desa duluan daripada tetangganya sendiri.
Lucunya, mereka datang cepat sekali. Mungkin sekitar jam 6 pagi. Bahkan, yang disunat belum berangkat ke mantri.
Tradisi saweran Brebes ini benar-benar membuka mata saya. Tradisi yang awalnya jadi ajang seru-seruan ini ternyata bisa bergeser jadi cara bertahan hidup seseorang. Mungkin memang tidak ada yang dirugikan dalam hal ini. Hanya saja rasa-rasanya, jangan sampai pergeseran ini melupakan esensi awal penyelenggara hajat yakni rasa syukur dan doa-doa baik.
Penulis: Suci Amalia
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Ikut kenduri cara saya healing dari dunia yang kian memusingkan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.