Semua berawal dari sebuah tangkapan layar postingan di Threads, yang diunggah di Twitter (saya masih nggak mau menyebutnya sebagai X). Postingannya berisi keresahan terhadap sekelompok oknum mahasiswa almet biru dongker di Malang (nggak perlu saya sebutkan dari kampus mana, pokoknya kampus paling terkenal di Malang) yang sedang nongkrong di semacam cafe.
Hal yang membuat resah adalah mereka datang dengan jumlah banyak, sekitar 15 orang. Mereka juga “menguasai” area outdoor di cafe tersebut. Dari 15-an orang yang datang, yang pesan cuma 4. Itupun setelah mereka ditegur karena awalnya yang pesan cuma 2 saja. Lebih parahnya lagi, ada yang bawa minuman dari luar dan disembunyikan.
Unggahan ini ramai di kedua media sosial. Reaksi warganet hampir semua sama: menghujat kelakuan sekelompok oknum mahasiswa almet biru dongker Malang. Warganet bahkan sampai heran dengan kelakuan mereka, kok punya muka untuk melakukan hal itu. Warganet juga sampai bilang, bahwa kampus almet biru dongker punya beberapa fasilitas semacam coworking space gratis kalau mau nugas sambil nongkrong ramai-ramai.
Nongkrong 15 orang tapi yang pesan cuma 4 itu namanya nggak ada otak!
Sebagai orang yang senang nongkrong, saya jengkel banget dengan kejadian ini. Saya jengkel karena masih ada saja kelakuan orang-orang seperti ini di Malang. Saya juga jengkel karena “pelakunya” mahasiswa, sekelompok manusia yang seharusnya lebih bisa menggunakan otaknya dengan lebih baik lagi.
Mahasiswa itu harusnya bisa mikir, kalau mau ke cafe/kedai kopi, entah tujuannya untuk nongkrong, kerja kelompok, atau mengerjakan tugas, ya minimal harus pesan minuman. Minimal satu orang pesan satu. Kalau yang datang 15 orang, maka minimalnya ada 15 minuman yang dipesan. Itu adalah aturan tidak tertulis, sekaligus bare minimum serta adab orang datang ke cafe.
Tapi, kalau yang datang 15 orang dan pesanannya hanya 2 atau 4, itu namanya nggak ada otak, apa pun alasannya. Cafe atau kedai kopi itu jualan utamanya adalah minuman dan makanan. Jualan utama mereka bukan tempat atau WiFi. Logikanya, kita datang ke cafe itu buat ngopi, ngemil, atau makan. Kita sebagai customer harus pesan minuman atau makanan terlebih dahulu baru bisa menikmati tempat dan fasilitas lain seperti WiFi, dsb.
Berkaca dari kejadian oknum mahasiswa almet biru dongker Malang, logikanya memang sudah nggak jalan sejak awal. Mereka datang berlima belas, tapi hanya pesan 4, lalu dengan seenaknya sendiri memanfaatkan tempat dan fasilitas. Pertanyaannya, kalian di kampus belajar cara pakai otak, nggak, sih?
Kontradiktif dengan imej kampus dan mahasiswa almet biru dongker Malang
Melihat kelakuan sekelompok oknum mahasiswa almet biru dongker di Malang, saya jadi heran, kelakuannya sangat kontradiktif dengan imej mereka. Selama ini, kampus almet biru dongker terkenal dengan kampus terbaik dan paling populer di Malang. Fasilitasnya lengkap dan bagus-bagus, serta kualitas pendidikannya juga nggak kaleng-kaleng. Ini terlihat dari biaya semester yang nggak murah.
Imej mahasiswa almet biru dongker pun juga nggak kalah mentereng. Jika dibandingkan dengan mahasiswa kampus lain, mahasiswa kampus biru dongker bisa dibilang paling trendi, paling keren, pokoknya nomor satu, lah. Apalagi kalau bicara soal gaya hidup, imej mahasiswa almet biru dongker ini bisa tergolong kelas atas, lah.
Maka kejadian ini kontradiktif sekali dengan imej kampus dan mahasiswa almet biru dongker Malang. Kuliahnya di kampus terbaik yang fasilitasnya juga terbaik, bayar kuliah mahal, gaya hidup tergolong tinggi, tapi kalau nongkrong berlima belas dan cuma pesan 4. Ya kontradiktif, ya malu-maluin.
Ekonomi lagi susah, tapi jangan membunuh usaha dengan cara seperti ini
Saya, dan mungkin sebagian besar kita, nggak tahu pasti apa alasan sekelompok oknum mahasiswa almet biru dongker melakukan hal itu. Kalau alasannya nggak punya duit, sepertinya nggak mungkin. Kalau nggak punya duit, ngapain datang ke cafe? Mending pergi ke perpustakaan kampus atau di rumah/kos/kontrakan teman saja, kan?
Tapi apa pun alasannya, kelakuan seperti ini jelas nggak bisa dibenarkan. Nongkrong berlima belas tapi cuma pesan 4 itu sama saja membunuh usaha atau cafe tersebut. Apalagi kalau nongkrongnya sampai berjam-jam dan mengokupasi ruang, itu sudah bukan membunuh lagi, tapi mencabik-cabik hingga hancur. Kalau dibiarkan, usaha-usaha semacam cafe atau kedai kopi ya nggak akan ada yang awet.
Ekonomi sekarang lagi lemah, lagi lesu. Harga bahan naik, sedangkan daya beli turun. Tapi lemahnya ekonomi jangan sampai jadi alasan untuk nongkrong di cafe dan nggak pesan apapun. Apalagi nongkrongnya ramai-ramai dan berjam-jam. Intinya, kalau memang nggak bisa bantu, seenggaknya jangan ikut andil dalam membunuh usaha orang.
Buat sekelompok oknum mahasiswa almet biru dongker Malang, tolong kejadian ini jangan diulangi lagi. Tuhan itu sudah ngasih kalian hati, otak, dan akal. Orang tua kalian juga sudah bayar uang kuliah yang mahal. Mbok ya sekali-kali hati, otak, dan akalnya difungsikan dengan benar. Apa nggak malu sama almet biru dongker yang katanya prestisius itu?
Penulis: Iqbal AR
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Bukan Jogja, Bukan Surabaya, apalagi Jember, Sebenar-benarnya Kota Pelajar Adalah Malang!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.